DAPATKAH PAJAK TANAH MENJADI ALAT PENGENDALI ALIH GUNA LAHAN?: STUDI HUBUNGAN PAJAK TANAH DENGAN ALIH GUNA LAHAN DI KABUPATEN SLEMAN
RATIH PURNAMASARI, Ir.Leksono Probo Subanu, MURP.,Ph.d ; Retno Widodo Dwi Pramono, ST.,MSc
2015 | Tesis | S2 Perencanaan Kota dan DaerahAlih fungsi lahan pertanian di Aglomerasi Sleman menunjukkan angka perkembangan yang cukup tinggi sebesar 42 hektar selama tiga tahun terkahir yakni tahun 2011-2013, yang terjadi pada 9 Desa di Aglomerasi Sleman. Faktor geografis yakni berbatasan dengan Kota Yogyakarta dan berada di dataran rendah mendorong terjadinya alih fungsi lahan. Berangkat dari isu alih fungsi lahan dan NJOP pertanian maka hipotesa dalam penelitian adalah ada hubungan penetapan NJOP dan Harga Transaksi dengan alih fungsi lahan pertanian di Kabupaten Sleman. Lokasi penelitian berada di Aglomerasi Sleman yang terdiri dari lima kecamatan dan sembilan desa yakni Kecamatan Depok: Desa Maguwoharjo, Condongcatur, Caturtunggal, dan Maguwoharjo, Kecamatan Mlati: Desa Sinduadi dan Sendangadi, Kecamatan Ngaglik: Desa Sariharjo, Kecamatan Godean: Desa Sidoarum, Kecamatan Gamping: Desa Trihanggo dan Nogotirto. Pendekatan penelitian ini kuantitatif, menggunakan analisis statistik Uji Korelasi Pearson dan analisis Model Gravitasi Hansen. Untuk menjelaskan tingkat perubahan penggunaan lahan dilakukan teknik overlay peta guna lahan Aglomerasi Sleman Tahun 2011-2013. Masing-masing analisis bertujuan untuk menjawab hipotesa dan rumusan masalah yakni hubungan pajak tanah (NJOP dan Harga Transaksi) dengan alih guna lahan pertanian, dan hubungan perubahan lahan dengan letak kawasan khusus (kampus dan pusat kota). Hasil penelitian akan menjelaskan dan menggambarkan tingkat signifikan hubungan antar variabel, perkembangan perubahan lahan dan besaran jarak (lokasi) dengan pertambahan NJOP dan alih guna lahan.
Farm land conversion in in Sleman agglomeration raises significantly, about 42 hectares in three years, between 2011 and 2013 only. This particular issue occurs mostly in 9 villages under sub-district (desa), all included administratively in the border of Sleman regency, which geographically reside near city of Yogyakarta on its lower landscape. This special topography condition provides passive opportunity for lands in this sub-districts to be converted from farming into commercial purposes. Starting from the point of land conversion, and Land and Building Tax Imposition Base (NJOP) in farming sector, this paper highlights correlation formed between NJOP base-rate measurement- Transaction Value and Land Conversion (in hectares) over farming lands in Sleman. This research took place in Sleman agglomeration, which consists of five sub-districts (kecamatan) and nine villages: Kecamatan Depok (Desa Maguwoharjo, Condongcatur, Caturtunggal, and Maguwoharjo); Kecamatan Mlati (Desa Sinduadi, Sendangadi); Kecamatan Ngaglik (Desa Sariharjo); Kecamatan Godean (Desa Sidoarum); and Kecamatan Gamping (Desa Trihanggo and Desa Nogotirto). A quantitative approach is used, based on statistical analysis Pearson���¢�¯�¿�½�¯�¿�½s Correlation test and Hansen���¢�¯�¿�½�¯�¿�½s Gravity Model. These two instruments will help us to analyze and measure the land conversion from 2011 to 2013, with a handful map overlaying technique. Analysis will help us to understand the main problem, which is how the correlations happen between NJOP and Transactional Value, and farm land conversion, also correlation between this land conversion and ���¢�¯�¿�½�¯�¿�½strategic zones���¢�¯�¿�½�¯�¿�½, areas with highest gravity effects on population density and differences of needs. This will result an answer on how significant these variables correlate each other, how land conversion is strictly derived from distance-to-gravity-center issues, and how NJOP will control the land conversion in the future.
Kata Kunci : aglomerasi sleman, alih fungsi lahan, lokasi, NJOP, UGM/Sleman agglomeration, farm land conversion, gravity, NJOP