FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENULARAN HIV DARI IBU KE BAYI PADA PROGRAM PENCEGAHAN PENULARAN HIV DARI IBU KE ANAK DI YOGYAKARTA
IKA MARET TANIA, dr. Diah Rumekti Hadiati, MSc., SpOG(K).; dr. Rukmono Siswishanto, M.Kes., SpOG(K)
2015 | Tesis-Spesialis | SP Ilmu Kebidanan dan Penyakit KandunganLatar belakang: Angka kasus penularan HIV dari ibu ke anak di Indonesia sudah mencapai 2,8% dari seluruh kasus HIV-AIDS yang dilaporkan. Di negara maju, risiko seorang anak tertular HIV dari ibunya dapat ditekan hingga kurang dari 2% dengan adanya intervensi Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA) yang sukses. Di negara berkembang atau negara miskin, dengan minimnya akses intervensi, risiko penularan masih berkisar antara 20% dan 50%. Tujuan: Mengevaluasi program Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke anak di Yogyakarta dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penularan HIV dari ibu ke bayi. Metode penelitian: Deskriptif analitik. Data ibu hamil dengan HIV diambil secara dokumentasi dengan mencatat data retrospektif dari rekam medis. Data status HIV bayi yang dilahirkan dari ibu dengan HIV diambil dari data rekam medis dan hasil anamnesis petugas poli Edelweis RSUP Dr. Sardjito dan pendamping penderita HIV terhadap ibu dengan HIV. Kemudian dikelompokkan sesuai karakteristik. Data dianalisis univariat, bivariat dan multivariat dengan chi-quare dan fishers exact test. Hasil: Tahun 2007-2013 tercatat 68 orang ibu hamil dengan HIV dan yang melahirkan 65 orang ibu hamil dengan HIV di Yogyakarta. Dari 65 bayi yang dilahirkan dari ibu dengan HIV, ada 52 bayi yang telah diperiksa status HIV, 13 bayi tidak diperiksa. Hasilnya ada 5 bayi (7,7%) dengan status HIV positif dan 47 bayi (72,3%) status HIV negatif. Terdapat 13 bayi yang tidak diperiksa status HIVnya, yang terdiri dari 3 bayi (4,6%) meninggal dan 10 bayi (15,4%) loss of follow up. Dilakukan tes sensitifitas pada 13 bayi yang tidak diperiksa status HIV. Apabila status HIV dianggap negatif, risiko penularan HIV dari ibu ke bayi sebesar 7,7% dan apabila dianggap positif, maka risiko penularan HIV dari ibu ke bayi sebesar 27,7%. Lama terapi ARV, gejala klinis AIDS pada ibu hamil dengan HIV, usia kehamilan, cara persalinan, ARV profilaksis pada bayi, dan pemilihan makanan bayi secara statistika tidak bermakna (p >0,05) mempengaruhi risiko penularan HIV dari ibu ke bayi. Tetapi, lama terapi ARV <6 bulan secara klinis meningkatkan 3,48x108 kali, adanya gejala klinis AIDS pada ibu hamil dengan HIV secara klinis meningkatkan 1,48 kali, usia kehamilan preterm saat persalinan secara klinis meningkatkan 2,94 kali, cara persalinan vaginal secara klinis meningkatkan 3,88 kali, jika bayi tidak diberikan ARV profilaksis secara klinis meningkatkan 3,16 kali, dan pemberian ASI pada bayi secara klinis meningkatkan 3,16 kali risiko penularan HIV dari ibu ke bayi. Kesimpulan: Melalui program PPIA di Yogyakarta, risiko penularan HIV dari ibu ke bayi berkisar antara 7,7% dan 27,7%. Lama terapi ARV, gejala klinis AIDS pada ibu hamil dengan HIV, usia kehamilan, cara persalinan, ARV profilaksis pada bayi, dan pemilihan makanan bayi secara statistika tidak bermakna mempengaruhi risiko penularan HIV dari ibu ke bayi. Tetapi, lama terapi ARV <6 bulan, adanya gejala klinis AIDS pada ibu hamil dengan HIV, usia kehamilan preterm, cara persalinan vaginal, tidak diberikan ARV profilaksis pada bayi, dan pemberian ASI secara klinis bermakna meningkatkan risiko penularan HIV dari ibu ke bayi.
Background: Numbers of cases of mother to child HIV transmission in Indonesia has reached 2.8% of all reported HIV-AIDS cases. In developed countries, the risk of children to be HIV infected from their mothers can be reduced less than 2% with optimal intervention using Prevention of Mother to Child HIV Transmission (PMTCT) program. In developing countries or poor countries, with the lack of access to interventions, the risk of transmission is still between 20% and 50%. Objective: To evaluate the PMTCT program in Yogyakarta and determine the factors that affect mother to child HIV transmission. Methods: Descriptive analytic. Pregnant women with HIV data were taken by documenting the data retrospectively from medical records. The HIV status data of babies born to mothers with HIV were taken from medical records and by anamnesis to Edelweis clinic officers in Sardjito Hospital, and supportive companion to HIV positive mothers. The obtained data were grouped according to the characteristics and analyzed using univariate, bivariate, and multivariate analysis (chi-quare and Fisher's exact test). Results: During 2007-2013, in Yogyakarta there were 68 pregnant women with HIV documented, in whom 65 women gave birth. Of the 65 babies born to mothers with HIV, 52 were examined for their HIV status while the rest were not. There were five infants (7.7%) with HIV positive status and 47 infants (72.3%) with HIV negative status. Thirteen infants were not checked for HIV status which consist of 3 infants (4.6%) died and 10 infants (15.4%) loss to follow-up. If the infants who were not examined for their HIV status were considered negative, the sensitivity tests result in 7.7% risk of mother to child HIV transmission. If those infants status were considered positive, the sensitivity tests result in 27.7% risk of mother to child HIV transmission. The duration ARV therapy, clinical symptoms of AIDS, gestational age, mode of delivery, administration of prophylaxis ARV, and the selection of infants food statistically not significant (p >0,05) affect the risk of mother to child HIV transmission. But, duration of ARV therapy <6 months clinically increase 3.48x108 times, evidance of clinical symptoms of AIDS clinically increase 1.48 times, preterm gestational age clinically increase 2.94 times, vaginal delivery clinically increase 3.88 times, no administration of prophylaxis ARV clinically increase 3.16 times, and breastfeeding clinically increase 3.16 times the risk of mother to child HIV transmission. Conclusion: Through the PMTCT program in Yogyakarta, the risk of mother to child HIV transmission ranges between 7.7% and 27.7%. The duration ARV therapy, clinical symptoms of AIDS, gestational age, mode of delivery, administration of prophylaxis ARV, and the selection of infants food statistically not significant affect the risk of mother to child HIV transmission. But, duration of ARV therapy <6 months, evidance of clinical symptoms of AIDS, preterm gestational age, vaginal delivery, no administration of prophylaxis ARV, and breastfeeding clinically increase the risk of mother to child HIV transmission.
Kata Kunci : Prevention of Mother to Child HIV Transmission (PMTCT), CD4, Viral Load, HIV