Laporkan Masalah

DISINILAH PENJARA SUCIKU. LAKU HIDUP PEREMPUAN PESANTREN DI BAWAH TUTUR PARA KYAI

NAVITA HANI RESTUNINGRUM, women's lives, speech of Kyai, existence strategy

2015 | Tesis | S2 ILMU ANTROPOLOGI

Tesis ini mencoba melihat bagaimana pengaruh praktik reproduksi kuasa Kyai dalam meraih berbagai legitimasi-legitimasi kekuasaannya di masyarakat lewat ketundukan perempuan di pesantren. Tidak hanya itu, thesis ini juga turut menelisik kehidupan terdalam dari perempuan pesantren tersebut dalam memposisikan dirinya sebagai pelaku budaya yang memiliki sikap dan caranya sendiri menjalani kehidupan di pesantren sehingga posisi lemah perempuan tidak selalu bermakna kalah namun justru sebaliknya. Meski Kyai mendapat keuntungan dari ketundukan perempuan lewat sistem patriarkhis pesantren yang terus dilakukannya, perempuan juga tidak selalu berada diposisi tunduk secara utuh. Ada banyak aksi resistensi yang dilakukannya untuk dapat berbalik memanfaatkan situasi yang diciptakan sang Kyai. Dari hasil penelitian ini, dapat diketahui bahwa: Pertama, terdapat budaya di mana di dalamnya menggeliat kuat sistem dominasi patriarkhi yang terepresentasi dalam diri Kyai sebagai pemimpin tradisional masyarakat desa. Kyai yang terlegitimasi secara kultural-tradisional pada masyarakat Sunda menjadi pemegang kekuasaan dominan untuk mengatur tiap kehidupan perempuan dalam sistem sosial kemasyarakatannya. Kedua, adalah strategi Kyai dalam mempertahankan eksistensi dan dominasi kekuasaan dibangun dengan cara menjaga keutuhan lingkaran relasi sosial di dalam maupun di luar pesantren. Tidak bisa ditolak bahwa interaksi pun turut andil dalam pembentukan identitas, moralitas, religiusitas, dan kultur kita. Hubungan informal yang dibangun para Kyai dengan warga masyarakat tidak selalu mengandalkan pada intimitas aktivitas keagamaan namun juga melalui aktivitas ekonomi yang memungkinkannya untuk tetap mengikat loyalitas para pengikut serta menjaga dukungan dan kepercayaan terhadapnya. Temuan yang ketiga, ini berhubungan dengan persoalan terpenting dari pengerjaan penelitian ini, yakni mengupas mengenai sejauh apa penerimaan perempuan, dalam posisinya, terhadap laku hidup perempuan pesantren di bawah ututr para kyai dalam dan di luar pesantren. Persoalan konstruksi para Kyai pada kehidupan perempuan yang barangkali membuat diri mereka tidak memiliki posisi tawar di ranah publik sangat bertolak belakang dengan apa yang terjadi di ranah domestik. Pada kenyataannya, perempuan selalu berhasil mempengaruhi setiap keputusan-keputusan suami mereka dengan mengandalkan posisi strategisnya di dalam rumah. Mereka menggunakan tubuhnya yang disangkakan lemah dan tidak berdaya untuk melakukan politik balik, bahkan pada akhirnya para laki-lakilah yang kemudian terasing dari rumah dan anak mereka.

The objective of this study is to identify how the effect of the reproductive power of Kyai practices in achieving a variety of legitimates of his authority in society through the obedience of women in the pesantren. In addition, this thesis also probe the innermost life of the women in the Pesantren in positioning themselves as cultural actors who have the attitude and in their own way through life so that weak position of women does not always mean lose, but exactly the opposite. Although Kyai have benefited from the obedience of women through the continuous patriarchal system of the Pesantrens, women are also not always be positioned in obedience completely. There are many acts of resistance that can be done to turn the situation created by Kyai. From the results of this study, it can be seen that: First, there is a culture in which there is a strong patriarchal system of domination that is represented by Kyai as traditional leaders of rural communities. Kyai who was legitimated culturally and traditionally in Sundanese community became the dominant power holder to regulate every life of women in the social system of the society. the Kyai strategy in maintaining the existence and domination of power was constructed by maintaining the integrity of the circle of social relationships both inside and outside the pesantren.It is undeniable that the interaction also took part in the formation of identity, morality, religion, and our culture. Informal relationship created by the Kyai with citizens does not always rely on the intimacy of religious activity but also through economic activity, that enables it to remain binding on the loyalty of followers as well as keeping the support and faith in him. The third findings is related to the most important issues of this study concerning to what extent the acceptance of women, in their position, to to figure and speech of Kyai both inside and outside the pesantren. The issue of construction of the Kyai in women's lives that may make themselves do not have the bargaining power in the public realm is contrary to what is happening in the domestic realm. In fact, women have been able to persuade any of their husband's decisions by relying on their strategic position at home. They use their weak and powerless body to reverse the condition, even finally the men who later isolated from home and their children.

Kata Kunci : kehidupan perempuan, tutur Kyai, strategi eksistensi

  1. S2-2015-352008-abstract.pdf  
  2. S2-2015-352008-bibliography.pdf  
  3. S2-2015-352008-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2015-352008-title.pdf