GERAKAN ORGANISASI KEPUTRIAN ISLAM DALAM MENYIKAPI FEMINISME DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KETAHANAN BUDAYA PEREMPUAN (Studi pada Pimpinan Pusat Nasyiatul �Aisyiyah di Daerah Istimewa Yogyakarta)
RENDY ADIWILAGA, Dr. Fathul Himam,M.Psi,MA;Dr.Rr.Siti Murtiningsih,S.S,M.Hum
2015 | Tesis | S2 Ketahanan NasionalTesis ini merupakan hasil penelitian mengenai posisi gerakan organisasi keputrian Islam yang di wakilkan Nasyiatul Aisyiyah dalam menyikapi isu feminisme, serta Implikasinya terhadap ketahanan budaya, khususnya budaya perempuan Indonesia. Penelitian ini dilatar belakangi maraknya isu kekerasan terhadap perempuan Indonesia serta stagnansi perbaikan nasib perempuan itu sendiri. Selain itu penelitian ini juga di latarbelakangi oleh sebuah pertanyaan besar, yakni bagaimana Nasyiatul Aisyiyah sebagai organisasi keputrian Islam menyikapi ideologi luar yang disinyalir telah mampu memecah pemikiran kader ke dalam golongan-golongan yang berbeda. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teori organisasi dan tiga teori feminisme sebagai pisau analisis. Yakni feminisme liberal, feminisme sosialis-Marxis, dan feminisme radikal. Substansi dari ketiga teori tersebut ialah pembebasan perempuan yang harus dicapai melalui kemandirian dan penghancuran dominasi laki-laki dalam sektor domestik dan publik. Jenis penelitian yang digunakan dalam penulisan penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif studi kasus. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa bentuk utama dari Nasyiatul Aisyiyah sendiri yakni didorongnya kemandirian perempuan, advokasi perempuan sebagai nilai perjuangan utama, pendidikan sebagai landasan gerakan, serta kader multitasking sebagai identitas gerakan. Nasyiatul Aisyiyah juga memiliki kesamaan dengan dasar perjuangan kaum feminis liberal, hanya saja banyak kontradiksi dengan kaum feminis radikal yang bernegasi pada lembaga perkawinan dan agama. Nasyiatul Aisyiyah juga memiliki kemiripan perjuangan dengan kaum feminis sosialis-Marxis. Beberapa poin yang mengganggu ketahanan budaya ialah feminisme menganggap campur tangan agama sebagai penghambat perempuan, laki-laki sebagai pesaing perempuan, pemakluman lesbianisme, kecurigaan pada lembaga perkawinan, serta adanya impian tentang dominasi perempuan di masa depan. Untuk menanggulangi kesemuanya, Nasyiatul Aisyiyah menyikapinya dengan menjalankan beberapa program dengan pendidikan sebagai landasan utamanya.
The thesis was the result of research regarding the position in the women islamic movement organization represent Nasyiatul 'Aisyiyah in addressing the issue of feminism, As well as its implications on resilience culture, especially culture of indonesian women. This research buildings like the number of issues of violence against women in Indonesia and the fate of her own stagnantion improvement. In addition the research also in the background like by a big question, how Nasyiatul 'Aisyiyah as the organization ideology of Islam to comment on the outside it is predicted to have been able to break up the thought of cadres in different group. In this research, Researchers used the theory of the organization and three of the theory of feminism as a knife analysis. There is Liberal feminism, Marxis-Socialist feminism, and radical feminism. The substance of this three theory is the liberation of women who must be achieved through independence and the destruction of men domination in the domestic sector and the public. The kind of research used in writing this research is qualitative research with case study. The results of research and discussion shows that the primary form of Nasyiatul 'Aisyiyah is propelled his independence of women, Women advocacy as to value main struggle, Education as the groundwork of movement, also multitasking cadres as the identity movement. Nasyiatul 'Aisyiyah also have in common with the base of the liberal feminist, However, many contradictions in the radical feminist opposite to the marriage and religion. Nasyiatul 'Aisyiyah also having a resemblance of struggle with the socialist-marxist feminist. Some points that interferes with the resilience of culture is feminism consider intervening religion as an impediment to women, man as a competitor women, acceptance of lesbianism, Suspicion on marital institution, And the existence of dreams about domination of women in the future. To cope with all of them, Nasyiatul 'Aisyiyah do with it by running several programs with education as the main groundwork.
Kata Kunci : Women movement, feminism, Nasyiatul Aisyiyah, Culture resilience.