Laporkan Masalah

PENGARUH KABUT ASAP TERHADAP PENYAKIT PNEUMONIA PADA BALITA DI KOTA PONTIANAK TAHUN 2010-2014

IKA MUTHYA ANGGRAINI, Prof.Dr.dr.KRT. Adi Heru Sutomo, M.Sc; Prof.Dr.Sukandarrumidi, M.Sc

2015 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar Belakang: Polusi udara luar merupakan salah satu faktor resiko terjadinya penyakit pneumonia pada anak Balita. Di Kota Pontianak, polusi udara oleh kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan mengakibatkan peningkatan penyakit gangguan saluran pernafasan seperti ISPA, pneumonia, bronkitis serta asma. Sampai saat ini belum pernah dilakukan penelitian mengenai dampak kabut asap terhadap penyakit pneumonia pada anak Balita tersebut. Tujuan: Mengetahui pengaruh kabut asap terhadap penyakit pneumonia pada Balita kurang dari 5 tahun. Metode: Penelitian ini menggunakan studi ekologi dengan analysis trend times dan multiple liniear regression. Subyek yang digunakan adalah populasi dari seluruh Balita kurang dari 5 tahun di Kota Pontianak yang berobat ke Puskesmas dan didiagnosis menderita pneumonia sesuai kriteria WHO dalam Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) dari bulan Januari tahun 2010 hingga bulan Januari tahun 2014, dengan total data yang diperoleh selama kurun waktu 5 tahun adalah sebanyak 49 data bulanan. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa hotspot mempunyai korelasi positif dengan suhu, lama penyinaran matahari, kecepatan angin, PM10 dan korelasi negatif dengan curah hujan dan kelembaban udara. Sedangkan SO2, NO2, dan O3 tidak menunjukkan hubungan sama sekali. Hasil korelasi meteorologi dengan kualitas udara ambien menunjukkan korelasi positif antara suhu dan lama penyinaran matahari dengan PM10, dan berkorelasi negatif dengan kelembaban udara. Curah hujan memiliki korelasi negatif dengan PM10 dan O3. Kecepatan angin tidak menunjukkan korelasi dengan PM10, begitu pula dengan SO2 dan NO2 tidak menunjukkan korelasi sama sekali dengan faktor meteorologi. Hasil analisis regresi antara kondisi meteorologi, hotspot, kualitas udara ambien, dengan penyakit pneumonia Balita menunjukkan tidak ada pengaruh pada periode I dan II (musim basah I dan musim basah II). Sedangkan pada periode III (musim kering-lembab), kadar O3 mempunyai pengaruh terhadap pneumonia pada Balita. Pada periode IV (musim basah III), penyakit pneumonia pada Balita di pengaruhi oleh curah hujan dan kecepatan angin. Kesimpulan: Pneumonia pada Balita dapat dipengaruhi oleh musim. Pada musim kemarau, intensitas matahari akan meningkat dan menyebabkan reaksi fotokimia menghasilkan ozon, sedangkan pada musim hujan mengakibatkan udara menjadi lembab. Kabut asap tidak secara langsung menyebabkan peningkatan penyakit pneumonia balita. Kata Kunci : Pneumonia balita, kabut asap, udara, hotspot, meteorologi

Background: Air pollution is one of the risk factors of pneumonia in under-five children age. In Pontianak, air pollution by smog due to forest and land fires causes an increase of respiratory tract diseases, such as Upper Respiratory Infection (URI), pneumonia, bronchitis and asthma. Until now there was not any research on the impact of smog on pneumonia in under-five children age. Purpose: To discover the effect of smog on pneumonia in under-five children age. Method: This study used ecological study by trend times and multiple regression linear analysis. The subjects were the population of under-five children age in Pontianak who went to public health centers and were diagnosed with pneumonia matching the criteria of WHO in Integrated Management of Childhood Illness (MTBS) from January 2010 to January 2014, with data collected in 5 years totaling in 49 monthly data. Result: The result showed that hotspots were positively correlated to temperature, length of exposure to sun, wind velocity, PM10 and negatively correlated to rainfall and humidity. Meanwhile, SO2, NO2, and O3 showed no relation at all. The correlation between meteorology and ambient air quality was positive between temperature and length of sun exposure and PM10, and negatively correlated with humidity. Rainfall has negative correlation with PM10 and O3. Wind velocity had no correlation with PM10. Similarly, SO2 and NO2 did not show any correlation with meteorological factors. The results of regression between meteorological conditions, hotspot, ambient air quality, and pneumonia showed no influence in periods I and II (wet season I and wet season II). While in period III (dry-humid season), O3 level influenced pneumonia in under-five children age. In period IV (wet season III), pneumonia in under-five children age was influenced by rainfall and wind velocity. Conclusion: Pneumonia in under-five children age could be influenced by seasons. In the dry season, sun intensity increases, causing photochemical reaction which produces ozone, while rainy season makes air humid. Smog did not directly increase pneumonia in under-five children age. Keywords : Pneumonia in under-five children, smog, air, hotspot, meteorology

Kata Kunci : Pneumonia balita, kabut asap, udara, hotspot, meteorologi