Laporkan Masalah

PERKEMBANGAN POLA TATA RUANG KAWASAN DESTINASI PARIWISATA KEPULAUAN DI KEPULAUAN RIAU Studi Kasus: Pulau Batam, Pulau Bintan, dan Pulau Karimun

NURUL NADJMI, Prof.Ir.Wiendu Nuryanti,M.Arch., Ph.D

2015 | Disertasi | S3 ILMU ARSITEKTUR

Provinsi Kepulauan Riau merupakan provinsi yang penuh dengan limpahan Rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa. Selain letak geografisnya yang sangat strategis karena berada pada pintu masuk Selat Malaka dari sebelah Timur juga berbatasan dengan pusat bisnis dan keuangan di Asia Pasifik yakni Singapura. Disamping itu provinsi ini juga berbatasan langsung dengan Malaysia. Dalam penelitian ini penulis memilih tiga pulau yang berada di Kepulau Riau untuk di teliti agar cakupan dalam penelitian tidak terlalu besar. Jika melihat dari jumlah populasinya, pulau-pulau yang paling penting di wilayah ini adalah Batam, Bintan, dan Karimun karena populasinya banyak dan sebagai pusat kegiatan ekonomi Kepulauan Riau. Beragamnya potensi daya tarik wisata yang ada sehingga perlu adanya konsep keterpaduan antara pulau-pulau tersebut sehingga dapat menunjang kawasan destinasi wisatanya. Pada kenyataannya, terdapat indikasi adanya faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan pola tata ruang kawasan destinasi pariwisata kepulauan dan adanya tingkat perbedaan perkembangan pariwisata yang terdapatdi ketiga pulau tersebut. Metode studi kasus dengan studi kasus tunggal digunakan untuk mengeksplorasi penelitian ini. Studi dilakukan terhadap tiga pulau yaitu Pulau Batam, Pulau Bintan, dan Pulau Karimun yang merupakan satu kesatuan Kepulauan Riau, dengan melihat 2 periode amatan yaitu periode 2008-2011 (dimana ditetapkannya BBK menjadi Kawasan FTZ), dan periode 2012-2014 (dimana terdapatnya implikasi dari kebijakan FTZ). Narasumber terdiri dari 150 responden yang merupakan wisatawan/masyarakat setempat/tokoh masyarakat/pekerja di 3 pulau yang diteliti pada kawasan destinasi pariwisatanya. 5 orang staff pada pengelola masing-masing kawasan destinasi pariwisata, dan staff dinas pariwisata pada kawasan yang menjadi obyek penelitian yang bersedia di wawancarai sesuai dengan panduan. Proses analisis menggunakan analisis kualitatif sebagai metode analisis utama dan analisis kuantitatif untuk memperkuat temuan dari hasil analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya faktor yang mempengaruhi perkembangan pola tata ruang kawasan destinasi pariwisata kepulauan, jejaring antar pulau dan jejaring di dalam pulau itu sendiri dan kuantitas dan kualitas dari pengunjung (wisatawan) yang terdiri dari faktor sebaran sarana dan prasarana perkotaan, peran hub/aksesibilitas pada kawasan kepulauan, sebaran atraksi wisata, pola pergerakan wisatawan, ketersediaan Sumber Daya Manusia, sosial budaya masyarakat, kebijakan khusus. Keunikan kawasan destinasi pariwisata kepulauan pada masing-masing pulau tersebut adalah pada Pulau Batam berkembangnya kawasan shopping center yang terdapat pada bagian tengah pulau, yang tidak biasa. Karena biasanya pada kawasan kepulauan yang akan berkembang adalah daerah pinggiran atau pesisir. Pada Pulau Bintan, terdapatnya kawasan destinasi yang bersifat private yaitu pada daerah Lagoi, sedangkan pada Pulau Karimun kawasan destinasi pariwisata yang berkembang adalah kawasan wisata bahari yang merupan kawasan pesisir.

Riau Islands Province is a province endowed with mercy of God the only One. The geographical position is not only very strategic because of being located at the gate of Malaka Strait from eastern region, but also has a boundary with the business and financial center in Pasific Asia, namely, Singapore. Moreover, it has a direct boundary with Malaysia. In this study, three islands in Riau Islands are selected for a narrower scope of study. In view of population, the most important islands in the region are Batam Island, Bintan Island, and Karimun Island because their populations are large and they are the centers for economic activities in Riau Islands. The potentials of existing tourism attraction are various, so the concept of integration among the islands is required in favor of the tourism destination areas. There is actually an indication about the factors influencing development of the spatial pattern of archipelagic tourism destination areas and the different levels of tourism development located in the three islands. The study was conducted by a case study method with a single case study design about the three islands, namely, Batam Island, Bintan Island, and Karimun Island that are in the unity of Riau Islands by studying two observational periods of 2008-2011 (when the three islands were established as Free Trade Zones) and of 2012-2014 (when the implications of Free Trade Zone policy have been found). Subjects of the study consisted of 150 respondents, including tourists/local people /social figures/labors in the three islands, particularly in their tourism destination areas. Five staffs as members of the tourism destination management and staffs of the Subdepartment of Tourism in the tourism destination areas as the objects of the study were willing to be interviewed in accordance with interview guide. Data analysis was performed by a qualitative method and combined with a quantitative method in favor of the results of the qualitative analysis. The results of the study indicate that there were the factors influencing the development of the spatial pattern of archipelagic tourism destination areas, the network among the three islands, the network within the respective islands and the quantity and quality of visitors/tourists. The factors were the distribution of urban facilities and infrastructures, accessibility to the archipelagic tourism destination areas, the distribution of tourism attraction, the movement patterns of tourists, the availability of human resources, the socio-cultural aspects of society, and specific policy. Unique aspects were found in the archipelagic tourism destination areas of the respective islands. In the archipelagic areas, the potentially developing areas are usually in the marginal or coastal ones, but in Batam Island the extraordinary development of shopping center areas are exactly located in the middle sites of the island. In Bintan Island, there are private tourism areas especially in Lagoi region. In Karimun Island the developing tourism destination area is the maritime tourism one as a part of the coastal areas.

Kata Kunci : Perkembangan Pola Tata Ruang Kawasan, Kawasan Destinasi Pariwisata Kepulauan, Perkembangan Kawasan Destinasi Pariwisata Kepulauan, Periodesasi Miossec, Tingkat Perkembangan Pariwisata, Provinsi Kepulauan Riau, Studi Kasus.

  1. S3-2015-274981-abstract.pdf  
  2. S3-2015-274981-bibliography.pdf  
  3. S3-2015-274981-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2015-274981-title.pdf