Antara Ladang, Tambang dan Kaharingan: Pengaruh Sistem Ekonomi Baru terhadap Praktik Keagamaan di Pedesaan Dayak Kalimantan Tengah
NINDYO BUDI KUMORO, Dr. GR. Lono L. Simatupang, M.A
2015 | Tesis | S2 ILMU ANTROPOLOGIDari sejarahnya, antara orang Dayak, alam lingkungan, dan kepercayaan lokal sering dianggap sebagai suatu sistem yang sinergis. Para ahli melihat bahwa inti yang mengikat ketiga elemen tersebut adalah perladangan berpindah di mana merupakan sumber kehidupan orang Dayak sejak ratusan tahun lalu. Anggapan ini juga melekat pada Kaharingan sebagai agama lokal orang Dayak Kalteng. Ritual-ritualnya tidak jauh-jauh dari pengharapan kesuksesan berladang, dan dari tenaga kerja serta hasil ladanglah pesta-pesta besar Kaharingan diadakan. Relasi antara ladang dan kepercayaan tersebut yang kemudian juga melahirkan pandangan bahwa orang Dayak adalah komunitas yang arif melestarikan alam lingkungan. Namun dalam penelitian saya di Tumbang Kajamei, pedesaan Dayak di hulu Sungai Katingan Kalteng menemukan gejala yang berlainan. Praktik-praktik Kaharingan di sana justru dihidupi dari hasil aktivitas yang mengancam kelestarian lingkungan mereka sendiri, yakni penambangan emas. Penambangan di Kajamei dilakukan dengan mengekstraksi ladang, di mana menyebabkan lahan-lahan berubah tandus dan sungai menjadi tercemar. Di sisi lain penambangan ini memberikan kemakmuran baru yang sulit didapat dari hasil berladang sebelumnya. Dari uraian tersebut tesis ini mempertanyakan bagaimana praktik ritual Kaharingan di sana setelah basis material sebelumnya (perladangan) bergeser menjadi sistem ekonomi baru yang ekstraktif (penambangan emas)? Dalam tulisan ini saya menjawabnya dengan menggunakan sudut pandang perubahan sistem ekonomi orang Dayak pedesaan Kalimantan untuk merelasikan dampaknya terhadap praktik keagamaan mereka. Berbeda dengan perladangan di mana hasil dan resiko ladang dibagi secara komunal (royong) serta dipertukarkan di dalamnya, maka dalam ekonomi pasar tambang emas hasil dan resiko usaha ditanggung individu-rumah tangga. Praktik Kaharingan yang hadir karenanya tidak lagi fokus pada tujuan-tujuan komunitas (secara sosial maupun kosmologis), melainkan lebih berfokus pada prinsip akumulasi status sosial individu dan rumah tangga.
Historically, between the Dayaks, the natural environment, and their indigenous religion is often regarded as a synergistic system. Many scholars stated that the core of these three elements is the swidden cultivation as Dayak's livelihood system since hundreds years ago. This assumption is also could be found in Kaharingan as the indigenous religion of the Dayak in Central Kalimantan. The purposes of its rituals are not so far from the wish of good harvesting. So do with the labor and yields from the fields became central material when Kaharingan's feast held. The relation between swidden agriculture and their local beliefs then gave the predicate to the Dayak as the natural environment preserver. Nevertheless, in my research in Tumbang Kajamei, rural Dayak in the upstream of Katingan River found the different facts. Instead, Kaharingan practices lived on the results of the activities threatening the environmental sustainability of their own, namely gold mining. Gold mining in Kajamei is done by extracting fields, where causing lands barren and rivers become polluted. On the other hand, mining activity gives new prosperity which is hard to come from the results of previous farming. According to these facts, then my thesis questioned how Kaharingan's ritual practices in Kajamei after their previous economic system (swidden cultivation) shifted into a new extractive economic system (gold mining)? In this paper, I try to answer with using economic system approach in the rural Dayaks Kalimantan to relate with the impact on their religious practices. Different with the swidden cultivation where the yield and the risks of livelihood are shared in community (royong) as well as exchange within it, then the risks and the gain in the market economy of gold mining borne by each individual-households. Kaharingan practices that present from it therefore no longer focus on the goals of the community (socially or cosmologically), but rather focuses on the principle of the accumulation of social status of individuals and households.
Kata Kunci : Kaharingan, perubahan sistem ekonomi, pertukaran tenaga kerja, bertaruh resiko dan cari aman