Pola-Pola Pertanian Padi di Banjararum: Pandangan dan Proses Pengambilan Keputusan Untuk Memilih Sistem Pertanian Padi "Organik" dan "Semi-Organik"
BAKTI UTAMA, Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra, M.A., M.Phil.
2015 | Tesis | S2 ILMU ANTROPOLOGITesis ini berusaha menjelaskan mengapa pertanian organik yang digadang-gadang membawa berbagai kebaikan bagi para petani justru tidak mendapatkan respon positif di kalangan petani. Di Desa Banjararum, khususnya Dusun Kanoman I, dimana penelitian ini dilakukan, pertanian organik telah dikenalkan oleh sebuah LSM bernama Serikat Paguyuban Tani dan Nelayan-Hari Pangan Sedunia (SPTN-HPS) kepada para petani sejak sembilan tahun silam. Namun, saat ini pola pertanian organik ini hanya dipraktikkan oleh sebagian kecil petani dengan luasan lahan yang relatif kecil pula. Untuk tujuan tersebut, dengan bertolak pada perspektif etnosains, penelitian ini pertama-tama berusaha melihat perbedaan pandangan di antara para aktivis SPTN-HPS dengan para petani di Dusun Kanoman I, Desa Banjararum dalam melihat benih, pupuk, dan pestisida sebagai input pertanian yang membedakan pertanian organik dan non-organik. Studi ini menunjukkan bahwa perbedaan pandangan di antara dua kalangan tersebut setidaknya tampak dalam dua hal. Pertama, perbedaan dalam mengkategorikan jenis-jenis input pertanian tersebut. Kedua, perbedaan terkait dimensi-dimensi yang digunakan untuk membedakan tiap jenis input pertanian tersebut. Akibatnya, berbagai pandangan positif para aktivis tentang pertanian organik tidak selalu ditangkap sama oleh petani. Berikutnya, dengan menelusuri proses pengambilan keputusan di antara petani organik dan petani semi organik, studi ini juga melihat bahwa perbedaan pola pertanian yang ditempuh oleh masing-masing petani tersebut terkait dengan tiga hal. Pertama, perbedaan informasi relevan yang diterima petani sehingga menghasilkan respon yang berbeda pula. Kedua, perbedaan jenis informasi yang dianggap relevan untuk mempengaruhi keputusan petani. Ketiga, perbedaan pengetahuan mengenai input pertanian di antara para petani. Saya berharap tesis ini akan menjadi tulisan yang menarik dan bermanfaat setidaknya karena dua alasan. Pertama, hingga saat ini isu mengenai pangan tetap menjadi prioritas semua bangsa, terutama di Indonesia, sehingga penelitian-penelitian tentang pertanian padi sebagai salah satu basis produksi pangan tentu saja tetap penting dilaksanakan. Kedua, walaupun diskusi mengenai adopsi pengetahuan di bidang pertanian ini telah menjadi ladang yang subur bagi ahli-ahli ilmu sosial di Indonesia, namun hampir tidak ada hasil studi yang menelusuri proses pengambilan keputusan di kalangan petani. Pada posisi itulah tesis ini diharapkan semakin memperkaya diskusi yang telah ada.
This thesis try to explain why organic farming which is predicted to bring various benefit for farmers, just do not get a positive response among farmers. In the Banjararum village, especially in Dusun Kanoman I, where the research was conducted, organic farming has been introduced by a NGO called the United Association of Farmers and Fishermen-World Food Day (SPTN-HPS) to farmers since nine years ago. However, nowadays organic agriculture pattern is only practiced by a minority of farmers with relatively small land area also. For the mentioned purpose, in reference of ethnoscience perspective, first of all this research is trying to see different views between SPTN-HPS activists and farmers in Dusun Kanoman I, Banjararum Village, concerning of seed, fertilizer, and pesticides as agricultural inputs that distinguish organic to non-organic agriculture. This study shows that the difference views between the two circles appear in at least two aspect. First, the differences in categorizing the types of agricultural inputs. Second, the differences related to the dimensions that are used to distinguish each type of agricultural inputs. As a consequence, various activist positive views about organic farming are not always captured the same way by the farmers. Next, by tracing the decision-making process among organic farmers and semi-organic farmers, this study also observed that the differences in agricultural patterns which are taken by each farmer is associated with three things. First, the difference of relevant information received by farmers which also produce different responses. Second, different types of information that considered relevant to influence farmers' decisions. Third, knowledge differences about agricultural inputs among the farmers. I hope this thesis will be interesting and useful at least for two reasons. First, until recently issues about food remains as priority of all nations, especially in Indonesia, so the research on rice agriculture as one of the base of food production is very important . Second, although the discussion on the knowledge adoption in the field of agriculture have become fertile ground for experts in the social science in Indonesia, but almost there is no result of studies that explore the decision-making process among farmers. So, this thesis is expected to further enrich the discussions that already exist.
Kata Kunci : Pertanian Organik, Pertanian Semi-Organik, Etnosains, Proses Pengambilan Keputusan, Banjararum/ Organic Farming, Semi-Organic Farming, Ethnoscinece, Decision-making Process, Banjararum Village