Laporkan Masalah

Fenomena Partai Presidensial di Indonesia (Study Presidentialized Party pada Partai Gerakan Indonesia Raya)

ZAINAL IMRON HIDAYAT, Dr.rer.pol. Mada Sukmajati, S.IP, M.P.P.

2015 | Skripsi | S1 ILMU PEMERINTAHAN (POLITIK DAN PEMERINTAHAN)

Sebagai sebuah negara demokratis, penyelenggaraan pemilu menjadi sebuah simbol berjalannya demokrasi di suatu negara, termasuk Indonesia. Pemilu dan Partai Politik merupakan pilar-pilar penyangga demokrasi. Pada setiap penyelenggaraan pemilu pasca reformasi, kemunculan partai baru menjadi sebuah fenomena. Pasca reformasi, arena pertarungan untuk merebut kekuasaan eksekutif lebih kuat dibandingkan legislatif. Hal ini diperkuat dengan perubahan konstitusi negara yang memperkuat kekuasaan eksekutif, yang kemudian menjadikan eksekutif sebagai primadona untuk diperebutkan. Kemunculan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) pada tahun 2008 adalah sebuah gejala Presidentialized Party yang terjadi pasca reformasi. Tulisan ini akan membahas sejauh mana fenomena Presidentialized Party berlangsung dalam Partai Gerindra, mencakup bagaimana konteks kemunculan serta karakter dan pengorganisasiannya. Penelitian dalam paper ini akan menggunakan metode analisa kualitatif dengan perspektif interpretasi. Tahap analisa data yang dilakukan adalah reduksi data, pengorganisasian, dan interpretasi data. Metode pengumpulan data dilakukan dengan studi literatur dan dokumentasi serta wawancara dengan narasumber dari Partai Gerindra. Partai Gerindra memang terbukti sebagai sebuah partai yang didirikan dengan motif mencalonkan Prabowo Subianto sebagai calon presiden. Dilihat dari segi motif politiknya, Partai Gerindra mendapatkan pengaruh dari fenomena presidensialisasi partai politik. Motif politik Partai Gerindra dipengaruhi oleh konteks perubahan-perubahan di ranah ketatanegaraan dan ranah sistem politik. Perubahan tersebut menciptakan sebuah pesona kekuasaan presiden yang akhirnya menarik partai-partai seperti Gerindra untuk mengubah manuver politik dengan mengejar kekuasaan eksekutif sebagai tujuan utama. Pengelolaan partai mencirikan fenomena presidensialisasi partai politik seperti adanya fenomena patron-klien yang kuat dimana patron sebagai driver utama partai yang sentral serta intensitas aktivitas partai yang lebih intens dalam memblowup sang calon presidennya. Dilihat dari karakter dan pengorganisasiannya, segala aktivitas dan manajemen Partai Gerindra sampai perilaku partai menunjukkan ciri-ciri Partai presiden. Karakter ini berhubungan langsung dengan pengorganisasian Partai Gerindra. Segala manuver dan strategi politik dilakukan untuk menaikkan popularitas Partai Gerindra sebagai partai baru, secara bersamaan dengan memblow up ketokohan Prabowo Subianto seluas-luasnya dan sebesar-besarnya. Dalm internal Partai Gerindra, ketokohan Prabowo Subianto diibaratkan memiliki Magical Ability (Etzioni, 1961) atau Powerfull Aura (Willner, 1984), yang menjadi tumpuan bagi partai dan elit-elit partai. Dalam proses pelaksaan kebijakan publik, Partai Gerindra di parlemen menunjukkan ciri-ciri pragmatisme mengejar kekuasaan eksekutif, dengan cara mencari peluang untuk mengkritik pemerintah dan menguntungkan sang patron untuk menaikkan popularitas partai plus sang patron dalam pemilu. Meskipun begitu, dengan gagalnya Partai Gerindra mengegolkan tujuan mempresidenkan Prabowo Subianto, Partai Gerindra rupanya berada di ambang kebingungan akibat telah habisnya momentum sang patron untuk dicalonkan. Berbagai fenomena-fenomena sampai saat ini yang ditangkap adalah pergeseran pengejaran kekuasaan dari eksekutif menuju legislatif, atas alasan rasionalitas politik.

As a democratic country, elections become a symbol the passage of democracy in a country, including Indonesia. Election and Political Party is pillars supporting democracy. At each post-reform elections, the emergence The new party became a phenomenon. Post-reform, the fight arena to seize power executive more powerful than the legislature. This is reinforced by changes in the country's constitution the strengthening of executive power, which then makes the executive as the belle up for grabs. The emergence of Indonesia Movement Party (Gerindra) in 2008 Presidentialized Party is a symptom that occurs after the reform. This paper will Presidentialized discuss the extent to which the phenomenon takes place in the Gerindra Party, includes how the context of the emergence and character and its organization. The research in this paper will use the method of qualitative analysis with perspective interpretation. Stages of data analysis are data reduction, organizing, and interpretation of the data. Methods of data collection is done by studying literature and documentation and interviews with sources of Gerindra. Gerindra indeed proved to be a party founded by motives Prabowo nominated as a presidential candidate. In terms of political motives, Party Gerindra get the effect of the phenomenon presidensialisasi political parties. Party political motives Gerindra affected by changes in the context of the constitutional realm and the realm of the system politics. The changes are creating a charm powers of the president who finally draw parties such as Gerindra to change the political maneuvering by the pursuit of power executives as the primary goal. Party management characterize the phenomenon of party presidensialisasi Such political phenomenon strong patron-client where the patron as the main driver party The central as well as the intensity of party activity is more intense in the candidate memblowup president. Judging from the character and its organization, all the activities and management of the Party Gerindra to the party's behavior shows the characteristics of the presidential party. This character-related directly by organizing Gerindra. All maneuvers and political strategy carried out to raise the popularity of Gerindra as a new party, simultaneously with memblow up persona Prabowo broadest and profuse. Internal preformance Gerindra, Prabowo persona is like having Magical Ability (Etzioni, 1961) or Powerful Aura (Willner, 1984), which became the foundation for the party and the party elites. In the process of implementation of public policy, Gerindra in parliament shows the characteristics of pragmatism the pursuit of executive power, by seeking opportunities to criticize the government and patron advantageous to raise the popularity of the party plus the patron in the election. Nevertheless, the failure of Gerindra achieve these objectives Prabowo mempresidenkan Subianto, Gerindra apparently is on the verge of confusion as a result has been endless momentum the patron to be nominated. Various phenomena until now arrested is pursuit shift towards legislative powers of the executive, for reasons of political rationality.

Kata Kunci : Partai Presidensial, Presidentialized Party, Partai Gerakan Indonesia Raya