PEMIKIRAN ETIKA DAMARDJATI SUPADJAR DALAM PERSPEKTIF ETIKA KEUTAMAAN
MUHAMMAD NUR PRABOWO SETYABUDI, Dr. Ali Mudhofir / Dr. Sri Soeprapto, M.S.
2015 | Tesis | S2 Ilmu FilsafatPenelitian ini dilatar belakangi oleh kesadaran bahwa tradisi kebudayaan Jawa mengandung beragam ajaran keutamaan atau wewarah kautaman, baik yang terdapat dalam serat-serat, susastra, pewayangan, ataupun dalam pemikiran tokoh-tokohnya. Atas pertimbangan tersebut, peneliti merasa perlu mengkaji keutamaan Jawa dari sudut pandang teori etika keutamaan yang menjadi geliat diskursus etika kontemporer di Barat. Judul penelitian ini adalah: Pemikiran Etika Keutamaan Damardjati Supadjar Dalam Perspektif Etika Keutamaan. Masalah mendasarnya: apa pandangan Damardjati Supadjar tentang manusia utama? Apa keutamaan yang terpenting bagi pembangunan karakter individu? Apa corak keutamaannya? Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pikiran Damardjati Supadjar sebagai tokoh Jawa dan menemukan makna, unsur, corak dan ciri ajaran keutamaan dari tokoh yang hendak dikaji dalam penelitian. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (kualitatif) tentang pemikiran tokoh melalui tinjauan analisis dari perspektif teori etika keutamaan. Langkah penelitian dimulai dengan pengumpulan atau inventarisasi data, klasifikasi atau pengolahan data, deskripsi atau penjelasan, analisa data dan diakhiri penyimpulan. Analisis penelitian memakai unsur-unsur metodis, yaitu: deskripsi, interpretasi, komparasi, holistika dan heuristika. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Damardjati memandang perlunya manusia memiliki suatu disposisi atau watak yang kumawula, bisa memposisikan diri secara tepat di mata Gusti atau Tuhannya, menjadi semacam citra Tuhan di dunia atau insan kamil. Kesadaran itu dibangun melalui kemawas dirian, artinya pengenalan diri secara mendalam, sesuatu yang selaras dengan semboyan Yunani gnoti seauton. Mawas diri dimaknai sebagai self-knowing, selain juga self-control, self-criticism, bahkan self-transformation, mencakup hal-hal yang berorientasi pada diri sendiri (self-oriented). Mawas diri adalah semacam ilmu hakikat dalam mistisisme Islam, atau bahkan makrifat, yang dicapai melalui laku tarikat. Agar menjadi kumawula, maka manusia harus mentransformasikan diri dari kediriannya yang tanggal (keterasingan diri) kepada kedirian yang diakui dan disamakan (oleh Tuhan), melalui laku pendaftaran diri (semacam tarikat) agar ia memiliki kualitas cahaya batin yang terang (nurani) bukan yang gelap (dzulmani), manusia yang batinnya terus terang-terang terus. Dialah manusia yang utama (optimal), seorang yang berkepribadian ihsan, citraTuhan (teo-mofisme). Keawas dirian merupakan unsur keutamaan yang penting. Pemikiran Damardjati lebih menunjukkan corak teosentrisme (teo-morfisme atau teofani) khususnya melalui Islam Kejawen atau Jawa Islamis (religius-kultural atau kultural-religius).
The background of this research is the awarneness that Javanese culture has a diverse teaching of virtues, which contained in the manuscript, literature, puppetry, or Javanese thinkers. Based on the considerations, i would examine the Javanese virtues from the perspective of virtue ethics, that become contemporary ethical discourse in the West. This study will explore the thought of a Javanese thinker and examine his teaching of virtues. A figure explored here is Damardjati Supadjar, a professor who has written many interesting writings on the Javanese philosophy. The main questions here are: what is his view of a virtuous person? What is the most important virtue for the development of individual character? What style of his virtues? This study is a library research, of the thought of a javanese scholar, with an analysis by the theory of virtue ethics. The study started with collection or data inventory, classification, description or explanation, data analysis and drawing last conclusions. The elements of method used for this data analysis include, among others, descriptive analysis, interpretative analysis, comparative analysis, holistic and heuristic analysis. The results indicate that Damardjati saw the need of human beings to have a disposition or character of kumawula (servanthood), positioning themselves appropriately in the eye of his Gusti (God), being a perfect man, an image of God (Imago Dei) in the world. Such awareness was built through self transformation, that means self-knowledge in depth, something that is also in harmony with the Greek motto gnoti seauton. Self transformation can also be interpreted as self-controlling, self-criticism, even self-transformation, and others related to self (self-oriented). In the context of Islamic mysticism, this is a kind of science or even the gnosis of the nature of self, achieved through a special way of tarikat. In order to be kumawula, human must transform themselves from loose selfhood (alienation) to the recognized and equated one (by God), through the enrollment, in order to have sharper inner light quality (nurani), not a dark heart quality (dzulmani), human that has inner frankly continuoes light. He is perfect man (optimal), a good deeds personality, the image of God (theo-morfism). Therefore, self transformation becomes an important element of virtue. It shows Damardjati has a teosentric virtue,explained by Islamic Javanese teaching (cultural-religious or religious-cultural).
Kata Kunci : keutamaan, kemawas dirian, teosentrisme