Laporkan Masalah

Resiliensi Remaja Penyintas Bencana yang Terdampak Jatuhan Material Piroklastik dari Erupsi Gunungapi Kelud di Kabupaten Kediri

FAJAR RUDDIN, Rahmat Hidayat, M.Sc., Ph.D; Dr. Ir. Dina Ruslanjari, M.Si

2015 | Tesis | S2 MANAJEMEN BENCANA

Erupsi Gunungapi Kelud tahun 2014 telah menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi Kabupaten Kediri, baik materi maupun non materi. Resiliensi adalah kemampuan individu untuk beradaptasi secara positif, bangkit kembali, dan meminimalisir dampak psikologis dari peristiwa yang menyengsarakan. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis perbedaan resiliensi remaja penyintas bencana; (2) mengungkap faktor-faktor yang memengaruhi resiliensi; (3) mengungkap strategi pemerintah dalam menyelenggarakan rehabilitasi terkait pemulihan sosial psikologis pada remaja penyintas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode campuran dengan jenis sequential explanatory. Subjek yang terlibat dalam penelitian ini dibedakan menjadi tiga, yaitu kelompok remaja yang terdampak jatuhan material piroklastik berupa abu (kelompok I), terdampak abu dan pasir (kelompok II), serta terdampak abu, pasir, dan pumice (kelompok III). Sampel penelitian diambil dengan teknik purposive sampling dan diperoleh 163 sampel. Peneliti juga melakukan wawancara mendalam kepada beberapa informan kunci. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan tingkat resiliensi secara signifikan di antara ketiga kelompok dengan nilai F hitung sebesar 1,008 dan tidak signifikan pada 0,05 (p=0,367). Baik kelompok I, kelompok II, dan kelompok III sama-sama memiliki tingkat resiliensi sedang dan tinggi. Hasil wawancara mendalam mengungkapkan bahwa tingginya dukungan sosial (material, emosional, jaringan sosial) dan kesiapsiagaan pemerintah menjadi faktor yang berpengaruh terhadap tingkat resiliensi remaja. Selain itu, diketahui pula bahwa strategi pemerintah dalam menyelenggarakan rehabilitasi masih berfokus pada rehabilitasi fisik, adapun dukungan mental berupa pendampingan psikologis masih belum diutamakan.

Kelud Volcano eruption in 2014 has caused huge losses to Kediri Regency. Resilience refers to a dynamic process encompassing positive adaptation within the context of significant adversity. This study has three objectives: (1) to analyze the differences of resilience of adolescence; (2) to reveal the factors that contribute to it; (3) to reveal the strategy of government in organizing the psychosocial recovery after eruption. This research used mixed method with type of sequential explanatory. The subject is divided into three groups which is adolescence who affected volcanic ash (Group I), affected volcanic ash and sand (Group II), and affected volcanic ash, sand, and pumice (Group III). Subject were drawn by the purposive sampling technique (n = 163). Researcher also conducted in-depth interview to the key informants. The result shown that there was no significant difference of resilience among three groups (F = 1.008; p = 0.367 > 0.05). Group I, Group II, and Group III had the same moderate and high level of resilience. Data from in-depth interview revealed that social support (material, emotional, and social network) and preparedness of government influence on the high level of resilience. In addition, the strategy of government in organizing rehabilitation is still focused on physical rehabilitation while mental support in the form of psychological assistance is still not being priority.

Kata Kunci : resiliensi, erupsi, piroklastik, dukungan sosial, kesiapsiagaan

  1. S2-2015-354395-abstract.pdf  
  2. S2-2015-354395-bibliography.pdf  
  3. S2-2015-354395-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2015-354395-title.pdf