Analisis Dampak Pelaksanaan CBT di Destinasi Wisata Gunung Api Purba Nglanggeran Terhadap Kondisi Berdaya Perempuan Desa Nglanggeran
YUSRIN MUTMAINAH, Ario Wicaksono, S.IP, M.Si
2015 | Skripsi | S1 ILMU ADMINISTRASI NEGARA (MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK)Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor yang dinilai mudah dimanfaatkan oleh kaum perempuan sehingga kemudian dapat meningkatkan pemberdayaan perempuan. Namun, menanggapi isu tersebut, terdapat dua pendapat yang saling bertentangan dimana pendapat pertama menyatakan bahwa hanya sektor pariwisata yang dikelola oleh pemerintah lah yang dapat memberdayakan perempuan sementara pendapat kedua menyatakan bahwa pemberdayaan perempuan di sektor pariwisata sangat mungkin dilakukan tanpa campur tangan pemerintah yang salah satunya dilakukan dengan sistem CBT (Community Based Tourism). Oleh karena itulah, perlu dilakukan penelitian tentang dampak pelaksanaan CBT terhadap pemberdayaan perempuan di sebuah destinasi wisata Gunung Api Purba Nglanggeran merupakan salah satu destinasi wisata yang terletak di Gunungkidul dan dikelola dengan sistem CBT. Untuk mengetahui tentang dampak pelaksanaan CBT terhadap pemberdayaan perempuan di destinasi wisata tersebut, dilakukan observasi dan wawancara mendalam kepada perempuan Desa Nglanggeran dan pengelola destinasi wisata tersebut. Hasil dari observasi dan wawancara kepada para informan kemudian di analisis menggunakan enam domain pemberdayaan perempuan menurut peneliti dari JSI setelah sebelumnya dilakukan pemetaan peran dan kontribusi perempuan di tahap perencanaan, pengembangan, pengelolaan dan evaluasi. Hasil pengamatan dan pencarian informasi di lapangan menunjukkan bahwa memang benar bahwa dengan dikelola menggunakan sistem CBT, perempuan setempat di Gunung Api Purba Nglanggeran mengalami peningkatan kondisi berdaya dibandingkan dengan sebelum muncul destinasi wisata tersebut. Namun, peningkatan kondisi berdaya tersebut masih hanya dalam lingkup peningkatan pendapatan dan keterlibatan seputar usaha mandiri yang dimiliki perempuan sehingga dampak tersebut hanya dirasakan oleh perempuan yang memiliki usaha mandiri sementara yang tidak memiliki usaha mandiri tidak mengalami peningkatan kondisi berdaya.
Tourism sector is one of the sectors which assessed easily be used by women in order to increase women’s empowerment. However, responding to the issue, there are two conflicting opinion. First opinion states that only the tourism sector which is managed by government was the one that can empower women. On the other hand, second opinion states that the empowerment of women in the tourism sector is feasible without government interference, one of which is conducted with CBT (Community Based Tourism). Therefore, research on the impact of the implementation of CBT to women's empowerment in a tourist destination is important to do. Gunung Api Purba Nglanggeran is a one of the tourist destinations located in Gunungkidul, Yogyakarta and managed with CBY system. To know about the impact of the implementation of CBT to women's empowerment in the tourism destinations, conducted observation and in-depth interviews to women in Nglanggeran village and managers of the tourist destinations. Results of observation and interview to the informant then analyzed using six domains empowering women by researchers from JSI after mapping the role and contribution of women in the planning stage, development, management and evaluation stage. The observation and search information on the location of the research shows that it is true that the system managed using CBT, local women in Gunung Api Purba Nglanggeran increased power compared to the condition before emerging tourist destinations. However, the increase in women's empowerment is still just within the scope of the increase in revenue and about the involvement of women-owned independent business so that the impact is only felt by women while that have an independent business while that does not have an independent business did not increase women's empowerment.
Kata Kunci : pariwisata berbasis komunitas, pemberdayaan perempuan, pariwisata