EFEKTIVITAS PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI OLEH BKSDA KALIMANTAN TENGAH
LISNA YULIANTI, Prof. Dr. Ir. H. Djoko Marsono; 2. Dr. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut., M.Sc.
2015 | Tesis | S2 ILMU KEHUTANAN/MKSDALPengelolaan kawasan konservasi menghadapi berbagai macam tantangan, baik eksternal berupa perambahan, illegal logging, perburuan satwa liar, kebakaran hutan, tetapi juga yang internal seperti: sistem perencanaan, tata batas dan pemangkuan kawasan, leadership dan manajemen. Terkait permasalahan dan upaya pengelolaan yang telah dilakukan oleh BKSDA Kalimantan Tengah perlu dilakukan penilaian efektivitas pengelolaan kawasan konservasi. Penelitian ini berlokasi di kawasan konservasi yang dikelola BKSDA Kalimantan Tengah yaitu 1) Cagar Alam (CA)/Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Tangkiling ; 2) Cagar Alam (CA) Pararawen I & II; 3) Cagar Alam Bukit (CA) Sapat Hawung; 4) Suaka Margasatwa (SM) Sungai Lamandau; 5) Taman Wisata Alam (TWA) Tanjung Keluang. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Juni 2012 s/d Desember 2012. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji efektivitas pengelolaan kawasan konservasi pada setiap siklus pengelolaan yaitu perencanaan, masukan, proses dan keluaran sehingga dapat rekomendasi strategis yang efektif untuk kawasan konservasi yang dikelola oleh BKSDA Kalimantan Tengah. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode RAPPAM, dengan responden berjumlah 80 responden yang terdiri dari staf BSKDA Kalimantan Tengah, tenaga resort, dan mitra. Nilai efektivitas pengelolaan kawasan konservasi dinilai pada setiap siklus pengelolaan yaitu perencanaan, masukan, proses dan keluaran. Selanjutnya data diolah dengan menggunakan Analisis Multidimensional Scaling (MDS) untuk memetakan atau mencari konfigurasi dari sejumlah obyek dalam ruang dimensi rendah berdasarkan ukuran kedekatan antar obyek yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan nilai efektivitas pengelolaan tertinggi dimiliki oleh CA Pararawen I&II, kemudian diikuti oleh SM Sungai Lamandau, TWA Tanjung Keluang, CA/TWA Bukit Tangkiling dengan nilai efektivitas masuk kategori sedang dan nilai terendah dimiliki oleh CA Sapat Hawung. Hal ini dapat dikarenakannya pengelolaan CA Sapat Hawung belum berbasis manajemen resort.
Management of protected areas face numerous challenges, both externally in the form of encroachment, illegal logging, wildlife poaching, forest fires, but also internal ones such as: system planning, boundary, leadership and management. Related issues and management efforts that have been made by BKSDA Central Kalimantan is necessary to assess the effectiveness of protected area management. The purpose of this study is to assess the effectiveness of protected area management in each cycle management including planning, inputs, processes and outputs that can be effective strategic recommendations for conservation areas managed by BKSDA Central Kalimantan. This research is located in protected areas managed by BKSDA Central Kalimantan : 1) CA/TWA Bukit Tangkiling; 2) CA Pararawen I & II; 3) CA Bukit Sapat Hawung; 4)SM Sungai Lamandau; 5) TWA Tanjung Keluang. The experiment was conducted at Month June 2012 s / d in December 2012. The research was conducted using the method RAPPAM, with the respondent amounted to 80 respondents consisting of staff BSKDA Central Kalimantan, resort personnel, and partners. The value of protected areas management effectiveness assessed at each cycle management including planning, inputs, processes and outputs. Furthermore, the data were processed using Multidimensional Scaling Analysis (MDS) to map or search for the configuration of a number of objects in a low-dimensional space based on the size of the closeness between the object studied. The results show the value of the highest management effectiveness is owned by CA Pararawen I & II, and followed by SM Sungai Lamandau, TWA Tanjung Keluang, CA / TWA Bukit Tangkiling. The effectiveness score in the category of medium and low grades is owned by CA Sapat Hawung. It can be CA Sapat Hawung management not based resort management.
Kata Kunci : Efektivitas, RAPPAM, MDS, BKSDA Kalimantan Tengah