Kajian Kepatuhan dan Faktor Pendukung Kepatuhan Pengobatan Pasien Tuberkulosis Paru di Puskesmas Kabupaten Sleman Yogyakarta
MAULIDA PRIMAYANTI, Nanang Munif Yasin, M.Pharm., Apt.; Fivy Kurniawati, M.Sc., Apt.
2015 | Skripsi | S1 FARMASITuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi menular yang memerlukan kepatuhan pasien untuk dapat mencapai keberhasilan pengobatan. Menurut Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementrian Kesehatan RI (Ditjen PP dan PL Kemenkes RI), pada tahun 2013 angka keberhasilan pengobatan pasien TB paru di DI Yogyakarta sebesar 83,9%. Angka tersebut masih dibawah target angka keberhasilan pengobatan yang ditetapkan oleh Kemenkes RI yaitu 87%, sehingga perlu dilakukan evaluasi terhadap kepatuhan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pengobatan, kepatuhan, dan faktor pendukung kepatuhan pengobatan pasien TB paru. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional. Data diperoleh dari hasil pengisian kuesioner dan wawancara pada 30 orang pasien TB paru yang telah memenuhi kriteria inklusi penelitian di 8 Puskesmas Kabupaten Sleman, Yogyakarta dalam kurun waktu Desember 2014 - Maret 2015. Pasien dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Kepatuhan pasien diperoleh dari MMS (Modified Morisky Scale) serta dikaji pula faktor-faktor pendukung kepatuhan pengobatan pasien. Data penelitian kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan pola pengobatan TB paru di Puskesmas Kabupaten Sleman seluruhnya menggunakan paduan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) fixed dose combination (FDC), yaitu untuk kategori 1 (2HRZE/4H3R3) sebanyak 25 pasien (83,33%) dan kategori 2 (2HRZES/HRZE/5H3R3E3) sebanyak 5 pasien (16,67%). Sebanyak 26 pasien dinyatakan patuh (86,67%), 2 pasien (6,67%) dinyatakan kepatuhan tidak tetap, dan 2 pasien (6,67%) dinyatakan tidak patuh. Faktor pendukung kepatuhan pengobatan antara lain sebagian besar pasien (80%) memiliki Pengawas Menelan Obat (PMO), OAT yang tersedia dalam bentuk FDC sehingga dapat mengurangi frekuensi maupun jumlah obat yang harus diminum, dan adanya peran petugas kesehatan khusus TB (programer TB) yang aktif memberikan informasi mengenai pengobatan pasien.
Tuberculosis (TB) is an infectious disease which need patients adherence to achieve successful treatment. According to Director General of Disease Control and Enviromental Health, Ministry of Health Republic Indonesia, in 2013 success rate of TB in DI Yogyakarta was 83,9%. The figure was still below the standard established by Ministry of Health Republic Indonesia (87%), so that patients adherence need to be evaluated. The aim of this study was to determine patients treatment, patients adherence, and factors supporting patients adherence to treatment. This study was a cross sectional study. Data were obtained from interview and questionnaire that fulfilled by 30 home care pulmonary TB patients who had met the inclusion criteria in 8 Puskesmas Kabupaten Sleman, Yogyakarta during December 2014 - Maret 2015. Patients selected by purposive sampling technique. Patients adherence was measured by MMS (Modified Morisky Scale) and factors supporting patients adherence were also assessed. Then the data were analyzed descriptively. The result of this study showed that all of the pulmonary TB patients in Puskesmas Kabupaten Sleman used fixed dose combination (FDC) antituberculosis drugs (OAT). Category 1 pulmonary TB patients (2HRZE/4H3R3) were 25 patients (83,33%), and category 2 pulmonary TB patients (2HRZES/HRZE/5H3R3) were 5 patients (16,67%). This study also showed that 26 patients (86,67%) were adherent, 2 patients (6,67%) were variable adherent, and 2 patients (6,67%) were non-adherent. Factors supporting patients adherence to treatment are 80% patients have patient supervisor, FDC antituberculosis drugs that reduce both frequency and the number of tablets to ingest, and presence of the TB programme staff whom actively provides the information about patients treatment.
Kata Kunci : Tuberculosis, OAT, adherence, Puskesmas