KERAGAMAN KHAMIR DARI SARANG LEBAH MADU HUTAN
CANDRA R P, Ir. Donny Widianto, Ph.D.;Dr. Ir Sri Wedhastri, M.S.
2015 | Skripsi | S1 MIKROBIOLOGI PERTANIANHingga saat ini dipercaya bahwa keragaman khamir hanya diketahui 1%. Banyak kawasan di Afrika, Antartika, Asia, dan Amerika Latin yang belum tersentuh. Daerah baru dan sulit dijangkau tersebut menanti untuk diungkap keragaman biologisnya. Sumber madu yang beragam menjadikan madu sebagai sumber keragaman khamir yang menarik untuk diungkap. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari keragaman khamir dari sarang lebah madu hutan. Diharapkan isolat khamir dapat dimanfaatkan bagi pengembangan bioteknologi. Sumber keragaman khamir pada penelitian ini merupakan cairan hasil perasan madu hutan dari dua lokasi pencuplikan, yaitu Desa Bligo, Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang dan (ketinggian 131,1 mdpl, suhu 25,5°C) dan Desa Sukomulyo, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang (ketinggian 676 mdpl, suhu 23,3°C). Khamir diisolasi menggunakan medium Yeast Extract-Malt Extract (YM) padat dengan penambahan 100 mg/L chloramphenicol. Didapat masing-masing 20 isolat khamir dari kedua lokasi pencuplikan. Keragaman isolat khamir dianalisis berdasarkan Microsatellite-Primed PCR (MSP-PCR) Fingerprinting dan diperoleh sembilan isolat khamir dari Desa Bligo dan tiga isolat khamir dari Desa Sukomulyo. Indeks keragaman isolat khamir dihitung dengan indeks keragaman Shannon-Wiener dan diketahui bahwa cuplikan yang berasal dari Desa Bligo lebih beragam dibandingkan dengan cuplikan yang berasal dari Desa Sukomulyo. Berdasarkan urutan basa 26S rDNA, dua isolat khamir, yaitu 1.8 dan 1.9, teridentifikasi secara berurutan mirip dengan Debaryomyces vindobonensis strain CBS:11666 dan Debaryomyces prosopidis, sedangkan isolat khamir yang lain menunjukkan similaritas di bawah 97% dengan khamir genus Debaryomyces, Rhotorula, dan Candida.
It is believed that only 1% of all existing yeast species is currently known. Large territories of Africa, Antarctic, Asia, and Latin America have not been explored. New habitats in those regions that are difficult to be reached may constitute rich sources of yeast biodiversity awaiting to be explored. Different sources of honey makes them attractive sources of yeast diversity to be revealed. This research is intended to study the diversity of yeast in honey obtained from wild honey bee nests. The isolated yeast may be useful for biotechnology development. The yeast source honey were obtained by squeezing honey bee nests taken from two sampling sites, i.e. Bligo, Ngluwar, Magelang ( elevation 131,1 m.a.s.l., temperature 25.5°C) and Sukomulyo, Kajoran, Magelang (elevation 676 m.a.s.l., 23.3°C). Yeast were isolated using Yeast Extract-Malt Extract (YM) agar supplemented with 100 mg.L-1 chloramphenicol. Twenty yeast isolates were obtained both from Bligo and Sukomulyo samples. Diversity of yeast isolates were analyzed by Microsatellite-Primed PCR (MSP-PCR) fingerprinting. From the analysis, we found 9 and 3 different isolates from Bligo and Sukomulyo samples, respectively. Diversity calculation using Shannon-Wiener Diversity Index revealed that Bligo sample has higher diversity than the one from Sukomulyo. Based on nucleotide sequence of 26S rDNA, two isolates, i.e. 1.8 and 1.9 were identified to be similar with Debaryomyces vindobonensis strain CBS:11666 and Debaryomyces prosopidis, respectively. Meanwhile, other yeast isolates show low similarity with genus Debaryomyces, Rhotorula, and Candida.
Kata Kunci : Kata kunci: khamir, keragaman, sarang lebah madu hutan, MSP-PCR fingerprinting, identifikasi 26S rDNA.