Laporkan Masalah

Paradigma Terorisme Lama - Terorisme Baru dan Aksi Teror Kontemporer; Studi Kasus: Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Timur Tengah

REYNALDO APRIYANDI LITOBING, Rochdi Mohan Nazala, MSA, M.Lit.

2015 | Skripsi | S1 ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

Terdapat perdebatan konseptual antara paradigma "lama" dan "baru" dalam studi terorisme. Banyak akademisi, analis, dan pembuat kebijakan percaya bahwa sejak tahun 1990an, dunia dihadapkan pada jenis terorisme yang baru. Mereka berpendapat bahwa paradigma "lama" yang didominasi oleh terorisme dengan dukungan negara telah berubah menjadi terorisme dengan motivasi keagamaan, yang dilakukan oleh aktor non negara yang independen. Kekerasan yang dilakukan pun berbeda, tidak hanya dari segi letalitas, namun juga karena sifatnya yang tidak diskriminatif. Adalah jelas bahwa terorisme dewasa ini mengalami perubahan dibandingkan dengan yang "lama". Namun, apakah fitur-fitur terorisme kontemporer memberikan validasi terhadap konsep terorisme "baru"?; dan dengan demikian membuat yang "lama" menjadi tidak relevan? Maksud penulisan tesis ini adalah untuk memberikan klarifikasi terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut. Tesis ini akan mendiskusikan perdebatan antara "lama" dan "baru" terkait terorisme, dengan menggunakan studi kasus Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Timur Tengah - sebagai aksi teror kontemporer - untuk memberikan klarifikasi. Argumentasi utama penulis adalah aksi teror yang dilakukan ISIS menunjukkan perubahan yang tidak fundamental. Terdapat beberapa perubahan, namun perubahan tersebut merupakan perubahan "derajat", bukan perubahan "jenis". Terlebih lagi, karakteristik yang ditemukan di ISIS merupakan percampuran dari paradigma "lama" dan "baru", yang telah disesuaikan dengan perubahan sosial dan teknologi pada era global. Karakteristik yang akan didiskusikan didasarkan pada tiga indikator: 1) motuivasi; 2) aktor dan struktur; 3) penggunaan kekerasan dan teknologi. Indikator-indikator tersebut dipilih karena merupakan pokok perdebatan antara paradigma terorisme "lama" dan "baru"

There has been a conceptual debate between "old" and "new" paradigm in the study of terrorism. Many scholars and policy makers believe that since 1990s, the world has been facing a brand new type of terrorism. They argue that the "old" paradigm of predominantly state-sponsored terrorism has changed into a religiously motivated terrorism conducted by independent non state actors. the violence committed by this new actor also differs, not only in terms of lethality, but also in its indiscriminative nature. it is evident that today's terrorism has gained some changes compared to the "old" ones. However, do the features of contemporary terrorism justify the concept of "new" terrorism?; and thus making the old one irrelevant? the aim of this paper is to give clarification toward these questions. the paper will discuss the debate between "old" and "new" paradigm of terrorism, and use the case study of Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) in Middle East - as a contemporary act of terror - to give clarification. The main argument is that the act of terror done by ISIS shows changes that are not fundamental. There are some changes but they are of "degree" rather than "kind". Moreover, the characteristic found in ISIS is a mixture of the "old" and "new" paradigm, that has been adapted to adjust to social and technological changes of our globalized era. The characteristic that will be discussed is based on three indicators: 1) motivation; 2) actor and its structure; 3) the use of violence and technology. These indicators are chosen because they are the main clash points in the debate of "old" and "new" terrorism.

Kata Kunci : Terorisme, Terorisme Lama, Terorisme Baru, ISIS, Timur Tengah, Irak, Suriah