Politik Tata Pajang: Studi Tentang Wacana dan Hegemoni Militeristik dalam Pameran Museum di Era Orde Baru di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
IBRAHIM ALMADHANI, Miftah Adhi Ikhsanto, S.IP, MPA
2015 | Skripsi | S1 ILMU PEMERINTAHAN (POLITIK DAN PEMERINTAHAN)Museum dalam pamerannya senantiasa hendak meyakinkan pengunjungnya akan fakta peristiwa di masa lalu melalui adegan-adegannya. Klaim hegemonis akan kebenaran content ini tentu didukung dengan beberapa strategi dan mekanisme yang sangat menarik untuk dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi politik tata pajang yang digunakan kelompok militer dalam menyajikan wacana dan hegemoni militeristik dalam pameran Museum di era Orde Baru di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode analisa wacana kritis Norman Fairclough dalam mendeskripsikan dua museum militer Yogyakarta, Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama dan Museum Sasmitaloka Jenderal Sudirman. Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh dari wawancara dan data sekunder yang didapat dari studi pustaka dan observasi. Data yang terkumpul dianalisis menjadi 3 dimensi yakni, analisis simbol, analisis discourse practice, dan analisis sociocultural practice. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dua museum militer menceritakan beberapa wacana dalam pamerannya antara lain, kehadiran militer yang selalu dibutuhkan, konsolidasi keutuhan militer, menetapkan musuh-musuh negara dan pengangkatan profil Jenderal Sudirman dan Perang Gerilya. Keberadaan wacana-wacana ini bisa dipahami melalui teori kekuasaan Foucault. Dua kurator museum memproduksi wacana ini melalui strategi politik tata pajang dan melakukan penguatan kapasitas demi meningkatkan performa organisasinya dalam mengelola museum militer. Konsumsi atas wacana dapat terlihat pada bagaimana pengunjung dibawa untuk mengingat memori kolektif dan identitas mereka sebagai bangsa Indonesia yang sangat terkait dengan empat wacana militeritik. Impact dari praktek pewacanaan ini adalah munculnya hegemoni via museum. Melalui teori hegemoni Gramsci dapat dianalisis konsensus yang terlihat pada tidak adanya resistensi terhadap kehadiran dan content museum yang juga merupakan bentuk persetujuan antara pengunjung dengan militer. Dua bentuk hegemoni yang dapat terlacak yaitu, hegemoni anti komunisme dan hegemoni kepemimpinan militer. Dua hegemoni ini dapat lahir berkat adanya peran intelektual yang bisa meluweskan dan membawa persetujuan antara pengunjung dan kurator museum.
The museum in exhibits always will convince visitors about the fact events in the past through the scenes. Claims hegemonic for the truth of content this is certainly supported by several strategies and mechanism that are very attractive to review. The purpose of this research to analyze political strategy of display used military group to presenting discourses and military hegemony in the museum exhibition in the new order era in The Special Region of Yogyakarta. This research use Fairclough's critical discourse analysis to describe two military museums of Yogyakarta, Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama dan Museum Sasmitaloka Jenderal Sudirman. This research use primary data acquired from interview and secondary data acquired from literature and observation. The accumulated data analyzed become to 3 dimentions which is, analysis of symbol, analysis of discourse practice, and analysis of sociocultural practice. The results of this research shows that two military museum telling us some discourse in exhibits, that is military existence is always needed, the integrity of military, assign the enemies of the state and appointment of General Sudirman's profile - Guerrilla War. The two curator of museums is produce this discourse through political strategy of display dan do the capacity building to enhance organization perfomance in military museum management. Consumption over discourse can be shown on how visitors brought to remember their collective memory and identity as Indonesia nation which has very related with four military discourse. Impact from this discourse practice is the appearance of hegemony via museum. The consensus which is seen in the absence of resistance to the presence and content of museum is a form of approval between visitors with military. Two forms of hegemony is that can be detected , hegemony anti communism and hegemony military leadership. This two form hegemony is born because of the role of intellectual who can refine and bring the agreement between visitors and museum curator.
Kata Kunci : Politik Tata Pajang, Museum, Akademisi, Militer, Wacana, Hegemoni