KAMPANYE SOSIAL UNTUK MENDORONG PARTISIPASI POLITIK ANAK MUDA (Studi Kasus Manajemen Kampanye Sosial Oleh Gerakan Ayo Vote dalam Mendorong Partisipasi Anak Muda Indonesia pada Pemilihan Umum 2014)
TIARA ANZANI, Lisa Lindawati, SIP. MA.
2015 | Skripsi | S1 ILMU KOMUNIKASIPada Pemilihan Umum 2014, Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa jumlah anak muda berusia 17-30 tahun yang memilih mencapai 55 juta, 14 juta di antaranya merupakan pemilih pemula. Jumlah ini setara dengan 30 persen dari total daftar pemilih tetap di Komisi Pemilihan Umum (KPU). Sayangnya, sejumlah penelitian menunjukan bahwa banyak anak muda Indonesia yang masih apatis terhadap sistem politik di Indonesia yang mengakibatkan mereka tidak memberikan suara dalam pemilihan umum. Merespon situasi tersebut, Pingkan Irwin dan Qowi Bastian memutuskan untuk membentuk gerakan bernama Ayo Vote yang bertujuan untuk meningkatkan partisipasi politik anak muda pada Pemilihan Umum 2014 dan mengajak mereka untuk menjadi pemilih yang bertanggung jawab. Ayo Vote menyebut gerakannya sebagai gerakan independen, non-partisan, dan tidak terelasi dengan partai politik apa pun. Selama kampanyenya berlangsung, Ayo Vote memberikan informasi politik melalui pendekatan yang dirasa sesuai dengan karakteristik anak muda. Untuk menarik lebih banyak anak muda, Ayo Vote juga menggandeng sejumlah publik figur yang dikenal oleh anak muda sebagai penyampai pesan kampanye. Penelitian ini menggambarkan proses manajemen kampanye sosial yang dilakukan oleh gerakan Ayo Vote dalam mendorong partisipasi anak muda Indonesia pada Pemilihan Umum 2014 dengan membandingkannya dengan teori manajemen kampanye oleh Venus (2004: 26). Venus menyatakan bahwa manajemen kampanye meliputi tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa gerakan Ayo Vote melewati hampir seluruh tahap yang disebutkan oleh Venus tersebut. Selanjutnya, hasil penelitian juga menunjukan bahwa proses manajemen kampanye sosial gerakan Ayo Vote merupakan proses yang adaptif yang dijalankan dengan sejumlah penyesuaian dalam pelaksanaannya.
In the General Election of 2014, the Central Bureau of Statistics (BPS) Indonesia noted that young people aged 17-30 years who voted in the election reached the number of 55 million which 14 million of them were first time voters. This number was equivalent to 30 percent of the total permanent voters list released by the General Elections Commission (KPU). Unfortunately, some research indicated that there are many of Indonesian youth who are still apathetic to the political system in Indonesia, which resulted them in not casting their votes. In response to the situation, Pingkan Irwin and Qowi Bastian decided to found a movement called Ayo Vote (meaning Let's Vote) which aims to increase the political participation of young people in the General Election of 2014 and encourage them to be responsible voters. Ayo Vote declares itself as an independent, non-partisan movement and not aligned with any political party. During the campaign, Ayo Vote presents information on politics by suitable approach for the characteristics of young people. In addition, to attract more youngsters, Ayo Vote also holds a number of public figures well-known by young people as campaign messengers. This research describes a social campaign management process conducted by Ayo Vote movement in encouraging the participation of Indonesian young people in the General Election of 2014 by comparing it to the campaign management theory by Venus (2004: 26). Venus stated that campaign management includes the stages of planning, implementation, and evaluation. The result shows that Ayo Vote movement passes through almost all the stages mentioned by Venus. Furthermore, the result also indicates that the social campaign management process of Ayo Vote is an adaptive process which is run by a number of adjustments in its implementation.
Kata Kunci : kampanye sosial, manajemen kampanye, partisipasi politik, anak muda