Laporkan Masalah

STRUKTUR, KOMPOSISI DAN FUNGSI AGROFORESTRI DI SEKITAR EMBUNG NGLANGGERAN, KECAMATAN PATUK, GUNUNGKIDUL

ADIIN KUSUMA WARDANI, Dr Priyono Suryanto, S.Hut., M.P.; Drs. Wiyono, M.Si.

2015 | Skripsi | S1 KEHUTANAN

Praktek agroforestri salah satunya berkembang di Nglanggeran, Gunungkidul bersamaan dengan pengembangan ekowisata Gunung Api Purba dan Embung Nglanggeran. Keberadaan agroforestri di sekitar ekowisata menambah daya tarik tidak hanya keindahan alam namun juga produk yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur, komposisi, fungsi dan dimensi ruang tegakan di sekitar Embung Nglanggeran. Penelitian ini dilakukan di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul. Metode yang digunakan adalah nested sampling. Pengambilan data di lapangan diawali dengan survey lapangan, kemudian menentukan titik pusat pengamatan. Sampel pengamatan terdiri dari 30 plot (20x20 m2). Setiap plot diambil data tinggi, diameter dan jenis tanaman, serta ketinggian tempat. Ketinggian tempat dibagi menjadi 3 kelas, yaitu ketinggian A (424-452 mdpl), ketinggian B (453-481 mdpl) dan ketinggian C (482-510 mdpl). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola agroforestri yang berkembang adalah hutan rakyat, kebun campur, sawah tadah hujan dan agroforestri kurang produktif. Struktur tegakan hutan rakyat dan kebun campur menunjukkan semakin besar diameter tanaman maka jumlah pohon per ha semakin sedikit. Sawah tadah hujan dan agroforestri kurang produktif menunjukkan jumlah pohon per ha pada diameter yang besar berjumlah lebih banyak daripada jumlah pohon per ha yang berdiameter kecil. Komposisi hutan rakyat didominasi mahoni, sengon, jati dan formis. Kebun campur didominasi mahoni. Sawah tadah hujan didominasi tanaman mahoni, sengon, kweni dan formis. Agroforestri kurang produktif didominasi tanaman mahoni dan jati. Dimensi ruang menunjukkan sebaran jenis penyusun buah-buahan semakin mendominasi ke atas pada kebun campur. Fungsi jenis penyusun dalam sistem agroforestri adalah sebagai sumber bahan bangunan, pembuatan arang, pakan ternak, buah-buahan dan obat-obatan.

Agroforestry practice one of which thrive in Nglanggeran, Gunungkidul along with Gunung Api Purba and Embung Nglanggeran ecotourism development. The existence of agroforestry around ecotourism add to the traction not only natural beauty but also products. This study aimed at determine the structure, composition, function and spatial dimensions of the stand around Embung Nglanggeran. This research was conducted in the village of Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul. The method used was nested sampling. Field data were gethered begin by surveying the field, then selecting the center point for sampling observation. Observation sample consisted of 30 plots (20 m x 20 m). Each plot of data composed the hight, diameter and plant species, as well as altitude. Which is divided into three classes, namely class A (424-452 masl), B (453-481 masl) and C (482-510 masl). Results revealed that agroforestry cropping pattern developed in community forest, mixed garden, rainfed and less productive agroforestry. Plant structure of community forest and mixed garden plants showed that greater diameter due to decrease number of plants. Rainfed and less productive agroforestry showed the number of trees per hectare with larger diameter larger amounts than the number of trees per hectare small-diameter. The composition of community forests are dominated by mahogany, sengon, teak and formis. Mixed gardens are dominated by mahogany. Rainfeds are dominated by mahogany, sengon, kweni and formis. Less productive agroforestry lands are dominated by mahogany and teak. Spatial dimensions showed the distribution of constituent types of fruits increasingly dominate up in the mixed garden. The function of plant in agroforestry systems are as building material resource, charcoal, fodder, fruits and medicines.

Kata Kunci : agroforestri, struktur, komposisi, fungsi