Hubungan antara stres pada kehamilan dengan persalinan preterm (28-36 minggu)
JEFI HAMAMAH, dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., PhD., Sp.OG(K); dr. Shinta Prawitasari, M.Kes, Sp.OG(K)
2015 | Tesis-Spesialis | SP Ilmu Kebidanan dan Penyakit KandunganLatar Belakang: Persalinan preterm masih menjadi masalah global oleh karena memberikan kontribusi pada kematian bayi yang cukup tinggi. Indonesia termasuk salah satu dari 10 negara dengan angka persalinan preterm tertinggi (15,5/100 kelahiran hidup). Banyak upaya yang telah dilakukan untuk mendeteksi risiko secara dini selain juga intervensi medis, namun belum banyak menurunkan kejadian preterm. Penyebab persalinan preterm adalah multifaktorial. Salah satu faktor risiko persalinan preterm adalah stres pada ibu hamil, meskipun hubungan antara keduanya masih belum jelas Tujuan penelitian : untuk mengetahui hubungan antara stres pada ibu hamil dengan kejadian persalinan preterm Disain penelitian : kohort prospektif Metode: Subyek penelitian ini adalah ibu hamil yang datang untuk kunjungan pemeriksaan antenatal pada umur kehamilan 28-34 minggu di RSUD Panembahan Senopati Bantul, RSUP Dr. Sardjito, RSUD`Sleman, RS Soeroyo Magelang, Puskesmas Mergangsan, Jetis dan Tegalrejo yang masuk dalam kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2014 sampai April 2015. Pemilihan kasus dilakukan menggunakan kuesioner Perceived Stress Scale (PSS) Cohen 10 item. Subyek dikelompokkan menjadi kelompok stres dan tidak stres kemudian diikuti hingga persalinan. Analisis data dan uji statistik yang dilakukan adalah analisis bivariat dengan Chi square dan analisis multivariat dengan regresi logistik. Hasil: Total subyek pada penelitian ini adalah 300 ibu hamil yang dibagi menjadi 149 ibu hamil kelompok stres (49,7%) dan 151 ibu hamil kelompok tidak stres (50,3%) berdasarkan skor dari kuesioner PSS Cohen. Persalinan preterm terjadi pada 36 ibu hamil yang diteliti yaitu sekitar 12%. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok (RR 1,79; IK 95%:0,85-3,79). Sedangkan faktor yang menurunkan risiko persalinan preterm secara signifikan adalah Indeks Masa Tubuh (IMT) diatas 25 (RR 0,42; IK 95%:0,19-0,91) berdasarkan analisis regresi logistik. Usia ibu lebih dari 35 tahun (RR 2,27; IK 0,93-5,52), multipara (RR 1,98; IK 95%:0,91-4,33), riwayat preterm sebelumnya (RR 2,21; IK 95%:0,62-7,87), status ekonomi kurang (RR 0,51; IK 95%: 0,22-1,21), pendidikan ibu kurang dari 9 tahun (RR 0,97; IK 95%:0,51-1,86) dan IMT kurang dari 18,5 (RR 0,84; IK 95%:0,13-5,47) tidak mempengaruhi secara signifikan risiko persalinan preterm. Kesimpulan: Stres pada ibu hamil dapat meningkatkan 1,79 kali risiko persalinan preterm meskipun tidak bermakna secara statistik. Faktor risiko yang menurunkan persalinan preterm secara signifikan adalah IMT lebih dari 25. Sedangkan usia diatas 35 tahun, multipara, riwayat persalinan preterm sebelumnya, status ekonomi kurang, pendidikan ibu kurang dari 9 tahun dan IMT kurang dari 18,5 tidak mempengaruhi secara signifikan risiko persalinan preterm.
Background: Preterm birth remains a global issue due to its contribution to high neonatal mortality rate. Indonesia is one of 10 countries with the highest rate of preterm birth (15,5/100 live births). Many efforts have been done to detect the risk factors earlier beside medical intervention, but has not yet decrease the incidence of preterm birth. The causes of preterm birth are multifactorials. One of the risk factor of preterm birth is stress in pregnancy, however the association between stress in pregnancy and preterm birth is still not clear. Objective: To determine the association between stress in pregnancy and preterm birth Design of study: Prospective cohort study Methods: The subjects of the study were pregnant women who took antenatal care at 28-34 weeks gestational age in several Hospitals i.e. Sardjito, Panembahan Senopati Bantul, Soerojo Magelang; and Mergangsan, Jetis and Tegalrejo Primary Health Center who met inclusion and exclusion criteria . It was conducted from October 2014 until April 2015. Selection of cases carried out using a questionnaire 10 items Perceived Stress Scale (PSS) Cohen. Subjects were grouped into stress and non stress group, and then followed up until delivery. Data analysis dan statistical test were performed using bivariat analysis (Chi square test) and multivariat analysis (logistic regression). Result: A total of 300 subjects were recruited and divided into 149 (49.7%) stress group and 151 (50.3%) non stress group based on Cohen PSS questionnaire score. Preterm birth occured in 36 subjects (12%). There was no significant difference between the two groups (RR 1.61; 95% CI: 0.86-3.03). Whereas the factor that significantly decreased the risk of preterm birth was Body Mass Index (BMI) above 25 (RR 0.42; 95% CI:0.19-0.91) based on logistic regression analysis. Maternal age above 35 years old (RR 2.27; 95% CI: 0.93-5.52), multiparity (RR 1.98; 95% CI: 0.91-4.33), history of previous preterm birth (RR 2,21; 95% CI: 0.62-7.87), poor economic status (RR 0.51; 95% CI: 0.22-1.21), maternal education lower than 9 years (RR 0.97; CI 95%:0.51-1.86) and BMI below 18.5 (RR 0.84; 95% CI:0.13-5.47) did not influence preterm birth significantly. Conclusion: Maternal stress increases the risk of preterm birth by 1.79 times, but was not statistically significant. Factor that significantly decreases the risk of preterm birth was BMI above 25. Whereas maternal age above 35 years old, multiparity, history of previous preterm birth, poor economic status, maternal education lower than 9 years and BMI lower than 18.5 did not influence preterm birth significantly.
Kata Kunci : Persalinan preterm, stres pada ibu hamil, preterm birth, stress in pregnancy