Perancangan Museum Pinisi di Bulukumba, Sulawesi Selatan
NUZULI ZIADATUN NIMAH, Dr. Ir. Djoko Wijono, M.Arch
2015 | Skripsi | S1 ARSITEKTURIndonesia merupakan negara kepulauan dengan potensi maritim yang sangat besar dengan teknologi perahu kayu sebagai salah satunya. Sejak akhir abad ke 19, perahu Pinisi telah melambangkan kejayaan maritim Indonesia. Berpusat di Tana Beru, Bulukumba, industri perahu Pinisi merupakan salah satu bisnis yang masih dijalani oleh masyarakat setempat dengan ritual adat yang masih dipertahankan. Perahu Pinisi telah resmi menjadi warisan budaya nasional dan akan diajukan sebagai warisan budaya UNESCO pada tahun 2016, meskipun belum banyak memiliki data literatur tentang Pinisi. Untuk itu dibutuhkan suatu wadah untuk dapat membangkitkan ketertarikan dan minat masyarakat serta sebagai wadah rekaman dalam bentuk Museum Pinisi. Architect Handbook menjelaskan bahwa museum merupakan tempat untuk mengumpulkan, meneliti, menyimpan, mengkonservasi, dan menyajikan materi, sehingga dibutuhkan metode pengumpulan data yang tepat untuk merancang konsep. Metode yang digunakan adalah pengumpulan data primer, studi kasus, studi literatur, dan wawancara dengan berbagai pihak. Tahap selanjutnya adalah melakukan analisis data dan tapak agar dapat mensintesis konsep dengan baik. Museum Pinisi juga dirancang sebagai landmark dan identitas kawasan Tana Beru sehingga mampu memberikan daya tarik baru kepada wisatawan dan masyarakat Bulukumba secara khususnya untuk lebih memperhatikan Pinisi. Tahapan studi tersebut menghasilkan konsep Museum of Pinisi as an Identity yang merupakan konsep dengan pendekatan karakteristik lokal setempat agar bangunan lebih konstekstual dengan lingkungan sekitar. Pendekatan tersebut dipilih sebagai solusi permasalahan arsitektur yang diangkat dalam perancangan Museum Pinisi dimana diperlukan perancangan secara modern namun tidak meninggalkan nilai-nilai tradisi yang ada di masyarakat dan kawasan sekitar site. Dengan demikian, perancangan yang ada menciptakan integrasi antara bangunan dan lingkungan, serta mampu menggambarkan dialog yang seimbang antara bangunan museum dan bangunan adat setempat. Museum dirancang untuk menumbuhkan kebanggaan pengunjung untuk kemudian menciptakan kepedulian terhadap kelestarian Pinisi dan budayanya.
Indonesia is an archipelago country that has so much maritime potential and wood ship technology is one of the famous. Since 19th century, Phinisi have been representing Indonesia maritime wealth. Placed in Tana Beru, Bulukumba, Phinisi industry is really one of local business that still support the local people and been doing with the local tradition. Phinisi have been legitimated as National Culture Inheritance and will be proposing as UNESCO culture inheritance in 2016, although they haven't had many literatures about Phinisi. Therefore, it's needed to have a place to build people anxiety and interest as a transcription place to be form as Phinisi Museum. Architect Handbook said that museum is a place to collect, research, restore, conserve, and serve materials so that it's needed a compatible collecting data method to design the museum concept. The method that been used is collecting primary data, case studies, literature studies, and interviews many parts. The data and building site are being analyzed to synthesize the building concept. The Phinisi Museum also designed as a landmark and regional identity of Tana Beru and so it can give traction to the tourists and people at Bulukumba so they will give more attention to Phinisi. As the result, Museum of Phinisi as an identity is the output concept of using local characteristic approach so that the building will be more contextual with the surrounding. That approach is chosen as a solution of architectural problems of designing Phinisi Museum which is needed to design in modern way but not to obey the local values of the local people around the site. Thereby, the design creates integration between the museum building and the environment; also give a dialog between museum building and the buildings around the site. The museum also designed to build visitor's pride so that they will be more care about Phinisi continue and the culture of it.
Kata Kunci : Pinisi, perahu, budaya, museum, landmark, kontekstual, lokal