Laporkan Masalah

PERAN IBU DALAM PENJUALAN KEPERAWANAN ANAK NONA DI MASYARAKAT DESA NUSA TENGGARA TIMUR

ERNI RASTER KLAU, Prof. Drs., Koentjoro MBSc., Ph.D.

2015 | Tesis | S2 Psikologi

Peran ibu tidak semata dalam hal mengurusi rumah tangga. Praktik penjualan keperawanan anak nona menunjukkan peran lain seorang ibu seperti menawarkan perawan anaknya kepada aindalan untuk dicarikan tamu, membujuk anak nona dan menetapkan harga. Kenyataannya, fenomena tersebut telah terjadi jauh sebelumnya dan mengandung sejarah dan faktor lain yang mempengaruhi. Penelitian dilakukan untuk mengeksplorasi dan menganalisis faktor-faktor yang melatarbelakangi tindakan ibu menjual perawan anak nona agar dapat digunakan untuk mencegah semakin meluasnya praktik penjualan di masyarakat desa Nusa Tenggara Timur. Subjek penelitian dipilih dengan cara purposif yang terdiri dari dua ibu rumah tangga, dengan anak nona sebagai significant other dan beberapa penduduk asli sebagai informan tahu. Penelitian dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan ethnophenomenology dan pengumpulan data melalui melihat, mendengar, bertanya dan terlibat dalam aktivitas rutin masyarakat. Teknik analisis dilakukan dengan mengelompokkan data ke dalam tema-tema kultural. Hasil analisis menunjukkan bahwa proses penjualan melibatkan aindalan, ibu, anak nona dan tamu dengan perannya masing-masing. Kemudian praktik penjualan terjadi dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal meliputi sejarah, budaya, sosial, ekonomi, pendidikan, serta permintaan dan penawaran. Sedangkan faktor internal meliputi motivasi, persepsi terhadap nilai anak dan kepatuhan. Kondisi kini menunjukkan bahwa praktik penjualan telah jauh berkurang namun tetap menyisakan kecemasan sebagai dampak psikologis bagi anak nona korban penjualan. Terakhir bahwa praktik penjualan telah merujuk pada salah satu bentuk tindakan memperdagangkan orang karena mengandung unsur proses, cara dan tujuan.

Mother role is not only taking care of the household. In virginity sales, mothers showing other such as offer the girl to agent "aindalan" for finding men, encouraging the girls, and negotiates the price. Frankly, the phenomenon already happened and contains cultural histories or even other factors that influenced on sales. The study was conducted to explore and analyze the underlying factors of mother who did on sales girls virginity, in order to be used for preventing the increasingly widespread practice of selling in rural communities of East Nusa Tenggara. Subjects in this study consisted of two mothers who were selected through purposive ways and a girl as a significant other. At the same time, some of the natives were chosen as "informan tahu". Research used qualitative methods with the etnophenomenology approach. This study relies on data from photograph, seeing, hearing, in-depth interviews, and engaged with in the natives daily life activities. Techniques of data analysis performed by grouping into cultural themes. Research shows that girls virginity sales process involved roles of "aindalan", mother and girl, then men. Farther, were found that influence mother on selling include external factors such as histories, cultures, social, economy, education, supply and demand. Internal factors, such as motivation, perception about value of children and obedience. Then, also found that the present conditions has been substantially reduced but still leaves anxiety as the psychological impact of girls as a victims sales. Eventually, the sales of girls virginity was referring to one of human trafficking because that involves process, method and purpose.

Kata Kunci : Peran Ibu, penjualan, keperawanan, perdagangan orang

  1. S2-2015-322691-abstract.pdf  
  2. S2-2015-322691-bibliography.pdf  
  3. S2-2015-322691-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2015-322691-title.pdf