NARASI PERJANJIAN LAMA DALAM PUISI-PUISI ALKITABIAH MARIO F. LAWI
ROYYAN JULIAN, Dr. Pujiharto, M.Hum
2015 | Tesis | S2 Ilmu SastraPenelitian ini dilakukan untuk mengungkap narasi Perjanjian Lama dalam puisi-puisi alkitabiah Mario F. Lawi. Dari hasil pengungkapan tersebut akan diketahui narasi baru yang ditampilkan oleh puisi-puisi alkitabiah Mario F. Lawi. Untuk mengungkap narasi Perjanjian Lama dalam puisi-puisi tersebut dilakukan pemaknaan dengan mengurai ungkapan-ungkapan metaforis, nonmetaforis, dan denominasi-denominasinya. Secara khusus, teori yang digunakan untuk memaknai ungkapan metaforis dalam puisi-puisi tersebut adalah metafora Paul Ricoeur. Dengan demikian, implikasi metodenya antara lain dengan, pertama, terlebih dahulu dalam sebuah ungkapan metaforis dilihat terma-terma yang saling bertentangan. Pemaknaan menjadi mustahil bila terma-terma yang saling bertentangan ditafsirkan secara literal. Oleh karena itu, untuk memeroleh makna yang mungkin dalam satuan predikasi tersebut, langkah kedua adalah melakukan penyerupaan dengan cara merusak arti literal terma-terma yang saling bertentangan. Destruksi arti literal tersebut dilakukan dengan mencari alternatif makna kata. Dalam proses itulah penafsiran dilakukan. Data penelitian ini dibatasi pada puisi-puisi yang ditransformasikan dari teks Perjanjian Lama, antara lain, "Ararat", "Rafael", "Samuel", "Yusuf", "Nuh", "Ruang Tunggu, 1", dan "Musa". Hasil pembahasan antara lain sebagai berikut. Pertama, benang merah yang menghubungkan semua narasi dalam puisi-puisi tersebut adalah penyelamatan Tuhan atas seluruh ciptaan-Nya. Kedua, narasi Pernjanjian Lama dalam Alkitab tidak selalu ditransformasikan dalam bentuk metafora, tetapi juga berbentuk ungkapan nonmetaforis dan denominasi. Ketiga, perluasan makna terhadap metafora dalam puisi tersebut menghasilkan penafsiran yang menggambarkan fragmen-fragmen narasi Perjanjian Lama dalam Alkitab yang memiliki acuan secara langsung dalam teks Alkitab dan juga tidak mengacu secara langsung. Fragmen-fragmen yang tidak mengacu secara langsung tersebut menjadi fragmen baru yang tidak dijumpai dalam teks Alkitab. Keempat, ungkapan nonmetaforis dan denominasi juga menciptakan fragmen-fragmen baru. Kelima, sejumlah metafora, ungkapan nonmetaforis, dan denominasi dalam puisi-puisi tersebut merepresentasikan pembacaan ulang penyairnya terhadap narasi Perjanjian Lama dalam Alkitab. Pembacaan ulang tersebut menciptakan ambiguitas, kontradiksi, dan makna yang lebih subtil.
This study was conducted to reveal the Old Testament narrative in Mario F. Lawi biblical poetry. This revelation results new narrative displayed by biblical poetry of Mario F. Lawi. To reveal the Old Testament narrative in poetry required signification to parse metaphorical, nonmetaforichal, and denomination expression. Specifically, the metaphor theory by Paul Ricoeur was utilized to interpret the metaphorical expression in the poetry. Thus, the implication of methods are, first, examining the contradictory terms in a metaphorical expressions. A significant interpretation could not be possible if these contradictory terms are interpreted literally. Therefore, to acquire possible meaning in the predication unit, the second step is to do a resemblance by destructing the literal meaning of these contradictory terms. This literal meaning destruction was done by finding alternative meaning of the word. By this process, the interpretation was accomplished. The data is limited to several poetry that are transformed from the Old Testament text, they are "Ararat", "Rafael", "Samuel", "Yusuf", "Nuh", "Ruang Tunggu, 1", and "Musa". The results of the discussion are as follows. First, the common thread that connects all narrative in the poetry is the rescue of God over all His creation. Second, the Old Testament narrative in the Bible is not only transformed into a metaphor, but also in the form of nonmetaforichal and denomination. Third, the extended meaning towards metaphors in the poetry results interpretation describing fragments of the Old Testament in the Bible that has a direct reference in the Bible and also indirectly. The indirect fragments turn into new fragments that were not discovered in the Bible. Fourth, the expression of nonmetaforichal and denomination also create new fragments. Fifth, several metaphors, nonmetaforichal expression, and denomination in the poetry represents a re-reading of the poet to the Old Testament narrative in the Bible. The re-reading creates ambiguity, contradiction, and a more subtle meaning.
Kata Kunci : narasi Perjanjian Lama, puisi-puisi alkitabiah; the Old Testament narrative, biblical poetry