Evaluasi Efek Terapi Obat Anti Epilepsi Politerapi pada Pasien Epilepsi Pediatrik Rawat Jalan di Instalasi Kesehatan Anak RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
GISELLA PRAMUDITA HADI, Woro Harjaningsih, Sp. FRS., Apt.
2015 | Skripsi | S1 FARMASIEpilepsi merupakan penyakit neurologis utama pada anak-anak dan insidensi tertinggi ada pada kelompok usia tersebut. Dari tahun ke tahun, prevalensi epilepsi pada anak cenderung meningkat. Pemberian obat anti epilepsi merupakan terapi utama untuk mengatasi epilepsi. Sekitar 50% pasien dapat terkontrol kejangnya dengan pemberian monoterapi, namun sekitar 30 sampai 40% pasien sukar mengontrol kejang dengan monoterapi dan berkembang menjadi epilepsi refrakter. Politerapi sering dipertimbangkan pada kelompok pasien ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola pengobatan dan efek terapi pasien epilepsi politerapi pediatrik rawat jalan di Instalasi Kesehatan Anak RSUP Dr. Sarjito Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling pada pasien epilepsi pediatrik rawat jalan yang mendapat pengobatan secara politerapi di Instalasi Kesehatan Anak RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi yang telah ditetapkan dalam penelitian. Data yang diperoleh berupa pola pengobatan dari rekam medik pasien, serta jumlah kejang dan keparahan kejang dari kuesioner Hague Seizure Severity Scale (HASS) yang diisi melalui wawancara dengan keluarga pasien. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif. Didapatkan 18 pasien epilepsi yang masuk dalam kriteria inklusi. Hasil pengobatan menunjukkan bahwa obat anti epilepsi terbanyak yang diterima pasien adalah kombinasi valproat dan fenitoin (8 pasien), sedangkan obat non anti epilepsi terbanyak adalah piracetam (7 pasien). Hasil evaluasi efek terapi berdasarkan jumlah kejang sebulan terakhir dengan jumlah pasien terbanyak adalah jumlah kejang sering (8 pasien), diikuti tidak ada kejang (6 pasien), kejang jarang (3 pasien) dan kejang tidak terhitung (1 pasien). Evaluasi efek terapi berdasarkan keparahan kejang yaitu keparahan kejang ringan (12 pasien), kejang sedang (6 pasien) dan tidak ada pasien yang masuk dalam kelompok kejang parah.
Epilepsy is a main neurological pediatric disease. Epilepsy in children has the highest number of incidence and the number of prevalence is increasing year by year. Giving some anti-epileptic drugs is the main therapy to cure the epilepsy. About 50% patients can control the seizure with only monotherapy, but about 30 to 40% patients find it is difficult to relieved with only monotherapy and become refractory epilepsy. Polytherapy can be used in that patient group. The aim of the study was to determine epilepsy therapy pattern as polytherapy and to evaluate the therapeutic effect experienced by pediatric epileptic outpatients in Pediatric Polyclinic of RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. The study had been performed by cross sectional method involving who were selected through purposive sampling. The taken data are the therapy pattern from patient medical records, also the number of seizure and the seizure severity was conducted by assessing the Hague Seizure Severity Scale (HASS) which was completed by their family members. The data was analyzed descriptively. The result showed that among 18 subjects, the most commonly used anti-epileptic drugs was the combination from valproate and phenytoin (8 patients), and the most commonly used non-anti-epileptic drugs was piracetam (7 patients). Whereas the anti-epileptic drugs therapeutic effect evaluation by the number of seizure from the last month are often (8 patients), no seizure (6 patients), rarely (3 patients) and unknown (1 patient). Therapeutic effect evaluations by the seizure severity are mild (12 patients), moderate (6 patients) and there is no patient in the severe seizure severity group.
Kata Kunci : epilepsi, politerapi, pediatrik, efek terapi, HASS