STATUS MAGNESIUM PADA SAPI POTONG DI KABUPATEN GROBOGAN, GUNUNGKIDUL DAN SLEMAN
ANNISA YUNI UTAMI, Dr. drh. Soedarmanto Indarjulianto
2015 | Skripsi | S1 KEDOKTERAN HEWANSalah satu penyebab dari sapi ambruk yaitu defisiensi mineral esensial makro dalam tubuh sapi. Salah satu mineral makro esensial pada ruminansia adalah magnesium (Mg). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kadar magnesium dalam darah sapi potong yang mengalami ambruk dan predisposisi ambruk di Kabupaten Grobogan, Gunungkidul, dan Sleman. Sampel yang diambil berjumlah 101 ekor yang terdiri dari 28 sampel dari Kabupaten Grobogan, 29 sampel dari Kabupaten Gunungkidul, dan 34 sampel dari Kabupaten Sleman. Setiap sapi diambil sampel darah melalui vena jugularis atau vena coxygea kemudian disentrifugasi untuk dipisahkan dengan serumnya. Serum yang didapatkan diuji menggunakan alat Cobas 6000 untuk mengetahui kadar magnesium. Hasil pemeriksaan kadar magnesium dalam darah sapi potong menunjukkan bahwa hipomagnesemia yang terdapat di Kabupaten Grobogan 15 ekor (35 %), di Kabupaten Sleman 3 ekor (9 %) dan di Kabupaten Gunungkidul tidak ada. Jumlah sapi ambruk yang mengalami hipomagnesemia sebanyak 38 % dan sapi predisposisi ambruk sebanyak 12 %. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukan bahwa adanya pengaruh hipomagnesemia pada kejadian sapi ambruk.
The cause of downer cow syndrome is mainly essential macromineral deficiency. One of essential macromineral is magnesium (Mg). This study was conducted to evaluate essential macromineral especially magnesium in downer and downer predisposition beef cattle from Grobogan, Gunungkidul and Sleman regency. The samples used in this study were 101 serums, consist of 28 samples from Grobogan, 29 samples from Gunungkidul and 34 samples from Sleman. Blood samples were collected from jugularis vein or coxygea vein. The blood samples were centrifugated to separate the serum from the other blood component. The serums are examined by Cobas 6000 to get the levels of magnesium. The result revealed that hypomagnesaemic could be observed in Grobogan for 15 cattles (35%), in Sleman for 3 cattles (5%), but not in Gunungkidul. The precentage of hipomagnesaemic in downer beef cattle were 38 % and downer predisposision downer beef cattle were 12 %. Based on this study concluded that hipomagnesaemic influence to downer cow syndrome incidence.
Kata Kunci : beef cattle, downer cow syndrome, macromineral, magnesium, sapi potong, sapi ambruk, makromineral, magnesium