Analisis Kinerja Keuangan Sebelum dan setelah Initial Public Offering (IPO) Styudi pada Perusahaan Manufaktur 1995-2010
HILDA OCTAVANA SIREGAR, Eko Suwardi, Dr., M.Sc., Ak., CMA.,
2015 | Tesis | S2 AkuntansiDalam menjalankan aktivitas bisnis, perusahaan harus memiliki jumlah modal yang cukup. Modal tersebut bisa didapat dari pihak internal ataupun eksternal perusahaan. Namun, untuk mendapatkan jumlah modal yang maksimum perusahaan cenderung mendapatkan dari pihak internal perusahaan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan menawarkan saham di Bursa Saham. Penawaran saham perusahaan di bursa untuk pertama kalinya disebut Initial Public Offering (selanjutnya disebut IPO). IPO merupakan suatu keputusan yang kompleks karena akan memunculkan adanya kerugian dan biaya baru sehingga hal tersebut pastinya akan mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan. Tujuan dari pelaksanaan IPO selain mendapatkan tambahan uang kas (tunai) baru perusahaan juga dituntut untuk meningkatkan kinerja, salah satunya kinerja keuangan. Kinerja keuangan perusahaan dapat diukur melalui rasio-rasio keuangan. Penelitian ini menggunakan sembilan rasio keuangan dalam mengukur kinerja keuangan perusahaan. Sembilan rasio tersebut mewakili kinerja keuangan, yaitu efisiensi, profitabilitas, leverage, likuiditas dan pembayaran deviden. Dengan adanya tambahan uang kas (tunai) dari pelaksanaan IPO dapat meningkatkan rasio-rasio keuangan tersebut. Rasio likuiditas adalah salah satu rasio yang terpengaruh secara langsung dapat meningkat ketika perusahaan mendapatkan uang kas (tunai) dari pelaksanaan IPO. Untuk kinerja keuangan efisiensi dan profitabilitas diharapkan mengalami peningkatan dengan adanya penignkatan jumlah penjualan secara signifikan. Sedangkan kinerja keuangan leverage dapat meningkat karena jumlah modal sendiri akan lebih besar dibandingkan dengan modal pihak luar. Namun, banyak perusahaan terindikasi melakukan window dressing pada laporan keuangannya sebelum pelaksanaan IPO. Sehingga setelah pelaksanaan IPO laporan keuangannya tidak lagi semenarik saaat sebelum IPO. Maka, dalam penelitian ini akan mengukur dampak pelaksanaan IPO terhadap kinerja keuangan perusahaan
In performing business activities, companies must have adequate capital. The capital can be obtained from internal and external parties of the companies. However, companies tend to get maximum capital from their internal parties. This can be done by offering stocks in Stock Market. A company's first stock offer in stock market is called Initial Public Offering (hereinafter referred to as IPO). IPO is a complex decision because it will cause loss and new costs, so it will influence corporate financial performance. The purpose of performing IPO, aside from getting additional cash, is also to demand companies to improve their performances, including financial performance. Corporate financial performance can be measured by financial ratios. This study used nine financial ratios in measuring corporate financial performance. The nine ratios represent financial performance, i.e. efficiency, profitability, leverage, liquidity and dividend payment. With additional cash from performing IPO, those financial rations can be increased. Liquidity ratio is one of the ratios directly influenced by increasing when a company receives cash from performing IPO. Efficiency and profitability financial performances are expected to increase with a significant increase of sales. Meanwhile, leverage financial performance can increase because total own capital will be bigger than the capital of external parties. However, there is indication that many companies performed window dressing in their financial statements before performing IPO. So, after performing IPO, their financial statements aren't as attractive as before IPO. Therefore, this study measured the impact of performing IPO on corporate financial performance
Kata Kunci : IPO, efficiency ratio, profitability, leverage, liquidity and dividend payment level