Pengaruh Pemberitaan Media Mengenai Kerentanan Masyarakat terhadap Kebijakan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Erupsi Merapi di Yogyakarta: Studi Kasus Kompas (2010-2011)
HEDITIA SYAHPUTRI DAMANIK, Titik Firawati, MA
2015 | Tesis | S2 Ilmu Hubungan InternasionalINTISARI Elaborasi tentang pengaruh media terhadap kebijakan di dalam studi Hubungan Internasional (HI) masih relatif sedikit, khususnya di ranah studi diplomasi kemanusiaan.Salah satu studi media dalam HI yang paling terkenal adalah The CNN effect.Kajian ‘Efek CNN’ tersebut menjelaskan bagaimana media di barat memengaruhi kebijakan intervensi kemanusian yang dilakukan oleh Pemerintah Amerika Serikat terhadap beberapa krisis di luar negeri. Dalam paper ini, penulis mencoba untuk melakukan hal yang sama namun di level negara, tepatnya kebijakan dalam negeri terkait kebijakan pascabencana di Indonesia. Sedangkan media dalam penelitian ini merujuk kepada Kompas sebagai salah satu koran terbesar di Indonesia. Dalam paper ini, penulis juga memposisikan media sebagai salah satu aktor diplomasi kemanusiaan.Hal tersebut didasarkan pada definisi diplomasi kemanusian sebagai upaya untuk mengurangi penderitaan manusia dalam kondisi krisis kemanusiaan (Minear & Smith, 2007). Penulis mengajukan dua pertanyaan penelitian dalam paper ini yaitu 1) bagaimana framing Kompas atas kerentanan masyarakat di sekitar Merapi pascaerupsi 2010? 2) bagaimanaframing Kompas tersebut memengaruhi kebijakan rehabilitasi dan rekonstruksi pemerintah Indonesia pascaerupsi Merapi di Yogyakarta? Melalui pertanyaan pertama, penulis mencoba mengungkapkan aksi kemanusiaan yang dilakukan oleh media melalui pemberitaannya, sementara dari pertanyaan kedua, penulis ingin melihat pengaruh media terhadap kebijakan pemerintah dalam krisis kemanusian akibat bencana alam. Penulis menggunakan sejumlah kerangka teori untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Kerangka teori tersebut adalah 1) diplomasi kemanusiaan, 2) analisis framing, 3) deret kerentanan, dan 4) teori penentuan agenda. Berdasarkan data awal dan kerangka teori tersebut, penulis menemukan hipotesis sebagai berikut; 1) Kompas memberitakan tentang kerentanan masyarakat di sekitar Merapi dan pemberitaan Kompas juga mendorong Pemerintah Indonesia untuk mengurangi penderitaan masyarakat akibat bencana. Namun, Kompas lebih terfokus pada kerentanan yang tampak di depan mata saja (Unsafe Condition) dan tidak terlalu banyak memberitakan aspek yang lebih penting dari kerentanan masyarakat yakni Dynamic Pressure (tekanan dinamis) dan Root Causes (akar penyebab) diantaranya kemiskinan dan keterbatasan partisipasi politik yang memang telah ada sebelum erupsi terjadi dan 2) Semakin banyak Kompas memberitakan kerentanan masyarakat maka semakin besar kesempatan Kompas untuk memengaruhi kebijakan rehabilitasi dan rekonstruksi yang didasarkan pada upaya pengurangan kerentanan masyarakat. Kata kunci: media, Indonesia, Kompas, bencana, erupsi Merapi, kebijakan, diplomasi kemanusiaan, pengaruh, kerentanan, framing media, agenda
ABSTRACT The elaboration of media influence toward policy is quite under studied in International Relations (IR) study, especially in humanitarian field. One of the most famous studies of media influences in IR is The CNN Effect that explained how the west media pushed US Government to undertake humanitarian intervention in some crisis overseas. In this paper, I try to catch the same ambience but with smaller indicators namely domestic policy in humanitarian crisis. This paper aims to comprehend the influence of media news coverage toward humanitarian policy after disaster in Indonesia, and the media in this paper refers to Kompas as the biggest printed newspaper in Indonesia. Here, I also consider media as the humanitarian diplomacy actor based on the definition of humanitarian diplomacy as the effort to diminish or to ameliorate people suffering in humanitarian crisis condition (Minear& Smith, 2007). I propose the main research questions here are: 1) how did Kompas frame the vulnerability of people around Merapi Volcano after the eruption in 2010? 2)howdid the framing of Kompas about the vulnerability influence the reconstruction and rehabilitation policy after eruption 2010 in Yogyakarta? From the first question I try to reveal the role of Kompas as humanitarian actor, then through the second question, I see the media influence toward government policy in humanitarian crisis. I use certain theoretical framework to answer those question namely 1) humanitarian diplomacy 2) framing analysis 3) vulnerability concept and 4) agenda setting theory. Through that theoretical framework, I get the hypotheses as such 1) Kompas covered the news about people vulnerability in Merapi and it also pushed government to ameliorate people suffering. Unfortunately Kompas covered Unsafe Condition (the most visible aspect of vulnerability) more frequent than others aspects like Dynamic Pressure and Root Causes and 2)the more frequent Kompas covered the vulnerability of people, the bigger of media’s opportunity to influence government policy based on reduction of people vulnerability in Merapi. Keywords: Media, Disaster, Humanitarian, Diplomacy, Kompas, Indonesia, Influence, Vulnerability, Framing, Agenda
Kata Kunci : media, Indonesia, Kompas, bencana, erupsi Merapi, kebijakan, diplomasi kemanusiaan, pengaruh, kerentanan, framing media, agenda