kajian produksi susu dengan tingkat kebuntingan sapi perah
MUH. ANDIKA PRASETIA, drh. Agung Budiyanto, M.P., Ph.D.
2015 | Tugas Akhir | D3 KESEHATAN HEWAN SVTujuan tugas akhir ini adalah untuk mengetahui kebuntingan, produksi susu dengan tingkat kebuntingan sapi perah berdasarkan data yang ada di Unit Pelaksana Teknis Daerah Balai Penelitian Bibit Pakan Ternak dan Diagnostik Kehewanan (UPTD BPBPTDK) Pakem, Sleman, Yogyakarta. Pengumpulan data yang dilakukan penulis dengan cara wawancara secara langsung dengan narasumber dan melakukan pengamatan di lapangan secara langsung selama berlangsungnya kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) pada tanggal 20 sampai 25 April 2015. Objek penelitian yang digunakan adalah sapi perah Frisian Holstein di UPTD BPBPTDK berjumlah 72 ekor terdiri dari sapi laktasi 20 ekor, sapi bunting laktasi 11 ekor, bunting kering 13 ekor, dara 14 ekor, dan pedet 14 ekor. Produksi susu di BPBPTDK belum memenuhi standar produksi atau produksi susu tidak bagus, ini karena sistem reproduksi pada sapi Frisian Holstein betina tergantung dengan manajemen sapi tersebut, pemberian pakan, pembersihan kandang, serta sistem monitoring siklus estrus, sehingga memperlancar sistem reproduksi sapi tersebut. Kesimpulan dari Tugas Akhir ini adalah bahwa manajemen pemeliharaan sapi perah yang berada di BPBPTDK menjadi hal yang harus diterapkan supaya produksi susu dan tingkat kebuntingan sapi perah menjadi baik.
Tujuan tugas akhir ini adalah untuk mengetahui kebuntingan, produksi susu dengan tingkat kebuntingan sapi perah berdasarkan data yang ada di Unit Pelaksana Teknis Daerah Balai Penelitian Bibit Pakan Ternak dan Diagnostik Kehewanan (UPTD BPBPTDK) Pakem, Sleman, Yogyakarta. Pengumpulan data yang dilakukan penulis dengan cara wawancara secara langsung dengan narasumber dan melakukan pengamatan di lapangan secara langsung selama berlangsungnya kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) pada tanggal 20 sampai 25 April 2015. Objek penelitian yang digunakan adalah sapi perah Frisian Holstein di UPTD BPBPTDK berjumlah 72 ekor terdiri dari sapi laktasi 20 ekor, sapi bunting laktasi 11 ekor, bunting kering 13 ekor, dara 14 ekor, dan pedet 14 ekor. Produksi susu di BPBPTDK belum memenuhi standar produksi atau produksi susu tidak bagus, ini karena sistem reproduksi pada sapi Frisian Holstein betina tergantung dengan manajemen sapi tersebut, pemberian pakan, pembersihan kandang, serta sistem monitoring siklus estrus, sehingga memperlancar sistem reproduksi sapi tersebut. Kesimpulan dari Tugas Akhir ini adalah bahwa manajemen pemeliharaan sapi perah yang berada di BPBPTDK menjadi hal yang harus diterapkan supaya produksi susu dan tingkat kebuntingan sapi perah menjadi baik.
Kata Kunci : Sapi Frisian Holstein, kebuntingan, produksi susu, pakan, dan SKT.