Laporkan Masalah

Museum Hutan Karst, Eksperimentasi Ruang Luar dan Ruang Dalam

ANNISA PUTRI CINDERAKASIH, Ir. ISMUDIYANTO, M.S.

2015 | Skripsi | S1 ARSITEKTUR

Indonesia merupakan negara dengan hutan hujan tropis terluas ketiga setelah Brasil dan Kongo. Namun sejak tahun 1950, lebih dari 40% luas hutan Indonesia berkurang. Forest Watch Indonesia pun mencatat kerusakan hutan di Indonesia dari tahun terus meningkat dan saat ini sudah mencapai 2 juta hektar per tahun. Saat ini diperkirakan luas hutan alam yang tersisa hanya 28% . Wilayah Gunungkidul merupakan salah satu dari korban kerusakan hutan di masa colonial, yang kini menyisakan lahan tandus yang sulit ditanami. Kepedulian masyarakat, Gunungkidul dan Jogjakarta khususnya, tak hanya cukup dipupuk dengan adaya fasilitas Wanagama dan Taman Hutan Rakyat di Tleseh. Tetapi perlu difasilitasi lewat lembaga edukasi non-formal, pada pokok bahasan ini yang dimaksud adalah museum. Dengan pengadaan museum hutan, seperti halnya pembentukan Wanagama, diharapkan dapat menyelesaikan dua masalah yaitu penghijauan lahan gundul dan penataan lahan terbengkalai (membanguan ekosistem hutan) sekaligus menjadikan museum sebagai sarana edukasi mengenai hutan untuk masyarakat (architecture building). Permasalahannya adalah, yang seperti apa museum hutan yang dapat menjadi sebuah ekosistem hutan sekaligus bentuk arsitektur yang dapat mengingatkan kembali manusia kepada alam? Mungkin jawabannya adalah bagaimana eksperimentasi arsitektur dapat menyelesaikan persoalan ini.

Indonesia is the third largest Tropical Forest country after Brazil and Congo. But, after 1950, more than 40% of Indonesia Tropical Forest decreased. Forest Watch Indonesia said that the deforestation rate in Indonesia increased rapidly. And now, it is about 2 million hectare every year. Now, predicted, Indoesia Tropical forest is only 28% remains. In Yogyakarta, especially in Gunungkidul region, the deforestation has happened since the colonial era. And now, the land is remaining infertile. The society awareness of deforestation and land conversion can’t be increased by the institutional facility like Wanagama and Public Forest Park only. But, it needs a kind of facilities by non-formal educational facility such as museum. In hope, the Museum of Woods can solve two problems which are a reforestation and land recovery and also being the educational institute for the society which increase people awareness toward nature. The problem is what kind of Museum of Woods as a forest ecosystem and as an architecture building which gives a strong message and increase people awareness? The answer is how to apply Experimentation of Space in architecture building, in this case is Museum design.

Kata Kunci : Museum, Hutan, Karst, Museum Hutan, Museum Hutan Karst, Eksperimentasi, Eksperimentasi Ruang, Eksperimentasi Ruang Dalam, Eksperimentasi Ruang Luar