HUBUNGAN ANTARA POLA KONSUMSI MAKAN DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KEJADIAN SINDROM METABOLIK PADA KARYAWAN BADAK LNG BONTANG PROVINSI KALIMANTAN TIMUR
NUR FITRIA MUMPUNI A, Dr. Susetyowati, DCN, M.Kes; dr. Probosuseno, Sp.PD, K-Ger
2015 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang : Pekerja dengan sindrom metabolik akan mengeluarkan biaya perawatan kesehatan lebih besar dibandingkan dengan pekerja tanpa sindrom metabolik. Perubahan pola konsumsi makan dapat mempengaruhi kadar lemak darah, tekanan darah dan obesitas dan aktivitas fisik yang kurang merupakan faktor dominan untuk terjadinya sindrom metabolik. Aktivitas fisik yang rendah mempengaruhi kerja insulin. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola konsumsi makan yang tidak baik dan aktifitas fisik yang kurang dengan kejadian sindroma metabolik pada karyawan Badak LNG Bontang, Kalimantan Timur. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian observational dengan rancangan Case control. Subjek penelitian ini adalah dengan sampel seluruh karyawan shift Badak LNG Bontang yang menjalani medical check up pada jangka waktu Juli 2013 sampai Juni 2014, berusia 30-55 tahun dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi pengambilan sampel dengan teknik consecutive sampling. Data pola konsumsi makan diperoleh dari SQFFQ dan aktivitas fisik menggunakan IPAQ. Hasil Penelitian : Hasil uji bivariat menunjukkan hubungan yang signifikan antara asupan tinggi energi ( p=0,000; OR = 18,3; CI= 6,20-52,39), asupan tinggi karbohidrat (p=0,002; OR = 3,64; CI = 1,49-8,97), dan aktifitas fisik rendah (p = 0,000; OR =11,4; CI = 4,16-32,05) dengan sindrom metabolik. Asupan tinggi lemak, rendah serat, dan tinggi gula tidak berhubungan signifikan. Sedangkan pada variabel status gizi, lama bekerja, dan kebiasaan merokok tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kejadian sindrom metabolik. Hasil analisis regresi logistik menunjukkan bahwa variabel yang mempunyai pengaruh besar terhadap kejadian sindrom metabolik adalah konsumsi energi yang tinggi (>100%energi), aktivitas fisik yang rendah (<3000 MET/menit/minggu), dan status gizi obesitas (IMT>=25 kg/m2). Kesimpulan : Terdapat hubungan antara konsumsi energi dan karbohidrat yang lebih dengan kejadian sindrom metabolik pada karyawan shift. Selain itu, aktivitas fisik yang rendah juga menunjukkan adanya hubungan pada kejadian sindrom metabolik pada karyawan shift Badak LNG Bontang.
Background: Workers with metabolic syndrome would spend higher health care costs than workers without metabolic syndrome. Changes in eating patterns can affect blood lipid levels, blood pressure, obesity and physical inactivity is the dominant factor for the metabolic syndrome. Low physical activity affect insulin action. Purpose of Study: This study aims to investigate the relationship between poor eating patterns and less physical activity with the incidence of metabolic syndrome among employees of Badak LNG Bontang, East Kalimantan. Research Method: This study is an observational study with Case control design. The subjects were Badak LNG Bontang shift employees who had medical check-up at July 2013 to June 2014, aged 30-55 years and meet the inclusion and exclusion criteria for sampling by consecutive sampling technique. Eating pattern was collected by SQFFQ and physical activity using IPAQ. Result: Bivariate test results showed a significant association between high intake of energy (p = 0.000; OR = 18.3; CI = 6.20 to 52.39), high carbohydrate intake (p = 0.002; OR = 3.64; CI = 1 , 49 to 8.97), and low physical activity (p = 0.000; OR = 11.4; CI = 4.16 to 32.05) with metabolic syndrome. A high intake of fat, low fiber, high sugar and not significantly related. Whereas the variable nutritional status, leght of work, and smoking habits did not show any significant correlation with the incidence of metabolic syndrome. The results of logistic regression analysis showed that the variables that have a major influence on the incidence of the metabolic syndrome is a high energy consumption (> 100% of energy), low physical activity (<3000 MET / min / week), and nutritional status of obesity (BMI> = 25 kg / m2). Conclusion: There is a relationship between High energy and carbohydrates intake with the incidence of metabolic syndrome in shift employees. In addition, low physical activity also showed a relationship to the incidence of the metabolic syndrome in Badak LNG Bontang shift employees.
Kata Kunci : Pola konsumsi makan, Aktivitas Fisik, Sindrom Metabolik, dan Shift Kerja.