Laporkan Masalah

OPTIMALISASI PELAKSANAAN KEBIJAKAN KOTA LAYAK ANAK DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KETAHANAN SOSIAL MASYARAKAT

BOBY NOVIKA, Prof. Dr. Su Ritohardoyo; Dr. Danang Sri Hadmoko

2015 | Tesis | S2 Ketahanan Nasional

INTISARI Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui optimalisasi pelaksanaan kebijakan pengembangan kota layak anak dan implikasinya terhadap ketahanan sosial masyarakat di Kecamatan Gedongtengen, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Teknik analisis data menggunakan metode deskriptif analitis. Dalam penentuan informan, penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Data yang dipergunakan terdiri atas dua, yakni (1) data primer yang diperoleh melalui wawancara mendalam (in depth interview), observasi, serta dokumentasi foto; dan (2) data sekunder berupa dokumen, data, laporan, serta informasi yang diperoleh dari berbagai sumber, baik media cetak maupun elektronik yang ada kaitannya dengan penelitian ini. Teori yang digunakan untuk mengukur optimalisasi pelaksanaan kebijakan adalah teori optimalisasi yang dikemukakan Gill (1993), yang membagi parameter optimalisasi menjadi dua yaitu fungsi tujuan dan serangkaian kendala. Untuk mengukur ketahanan sosial masyarakat, parameter yang digunakan mengacu kepada Keputusan Menteri Sosial Republik Indonesia No. 12/HUK/2006 tentang Model Pemberdayaan Pranata Sosial dalam Mewujudkan Masyarakat Berketahanan Sosial, yakni (1) perlindungan anggota masyarakat; (2) partisipasi masyarakat; (3) pengelolaan dan pencegahan konflik; serta (4) pemeliharaan kearifan lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa optimalisasi pelaksanaan kebijakan pengembangan kota layak anak (KLA) di Kecamatan Gedongtengen Kota Yogyakarta merupakan �optimalisasi dengan kendala�. Semua fungsi tujuan seperti aspek persiapan, perencanaan dan pembinaan perlu lebih dimaksimalkan pelaksanaannya. Kebijakan pengembangan kota layak anak (KLA) belum terintegrasi dengan baik mulai dari tingkat Pemerintah Kota Yogyakarta, tingkat kecamatan, kelurahan hingga wilayah (RW). Sebagai implikasinya, pelaksanaan kebijakan belum memberikan dampak terhadap ketahanan sosial masyarakat secara menyeluruh. Temuan di lapangan juga menunjukkan bahwa kebijakan kota layak anak (KLA) dapat menjadi panduan pengembangan konsep kota layak pemuda yang digagas tahun 2015 di Indonesia. Di dalam banyak aspek, kedua kebijakan ini �saling beririsan� khususnya dalam penetapan kriteria usia anak dan pemuda. Bila mengacu kepada batasan usia anak (0-18 tahun) dan pemuda (16-18 tahun) yang diatur di dalam UU Perlindungan Anak dan UU Kepemudaan, seharusnya pelaksanaan kebijakan kota layak anak (KLA) merupakan sinergi antara Kantor Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan (KPMP) dengan Badan/Dinas Kepemudaan yang ada di tingkat provinsi/kabupaten/kota. Oleh karena itu, aspek regulasi, kelembagaan serta ruang lingkup kebijakan perlu diperjelas batasannya agar pelaksanaan kedua kebijakan tersebut dapat berjalan optimal nantinya. Kata kunci: Optimalisasi Pelaksanaan Kebijakan, Kota Layak Anak, Ketahanan Sosial Masyarakat.

ABSTRACT The purpose of this research was to determine how to optimize urban development policies eligible children and their implications for social resilience in District Gedongtengen, city of Yogyakarta. The Child Friendly City is a strategy of developing in many district/city in Indonesia, primally in Yogyakarta. The kind of research is qualitative research. Data were anaylized using descriptive analytical method. In determining the informant, this study used purposive sampling technique. The data used consist of two type, namely (1) the primary data obtained through in-dept interviews, observation and photo documentation; and (2) secondary data such as documents, the data, reporting, and information obtained from various sources, both print and electronic media in connection with this research. The teory which is used to measure the optimization of policy implementation by Gill (1993), which group of two dimention, (objective function), and a series of obstacles. While, to determine the implication of policy, is used the Sosial Ministerial decree republic of Indonesia No. 12 HUK/2006/ about Model Empowerment Social Institution in Realizing Social resilient communities. The result showed that the policy development of childe friendly city in the district of the city of Yogyakarta Gedongtengen not run optimally. All of objective function�s measured the preparation, planning, and development still needs improvement. Child friendly city development policy is not well integrated, starting from the city government of Yogyakarta, the level of the district, village to the region. As a consequence, the policy has not been a major impact on social security, particularly in Sub Gedongtengen, city of Yogyakarta. The result on the field showed that this policy may be able to guide for the Youth Friendly City policy that proclaimed at 2015 in Indonesia. In many aspek, both of the policy has slicy each other, primarily for scoupe of age. Based on the criteria of child�s age (16-18 years old) and youth (16-30 years old) which conclude in to the positive regulation in Indonesia, it should be the child friendly city managed by sinergysm both of KPMP and youth comitte/department whose province/city/district. So that, regulation, institution and scoupe of policy need to be sharped the specification on to reach the optimization of policy. Keywords: Optimization of Policy Implementation, Child Friendly City, Community Social Resilience.

Kata Kunci : Optimalisasi Pelaksanaan Kebijakan, Kota Layak Anak, Ketahanan Sosial Masyarakat

  1. S2-2015-356960-abstract.pdf  
  2. S2-2015-356960-bibliography.pdf  
  3. S2-2015-356960-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2015-356960-title.pdf