Pemberontakan dan Nazisme dalam The Rebel dan The Condemned of Altona
AGISTA NIDYA WARDANI, Dr. Wening Udasmoro, M.Hum., DEA
2015 | Tesis | S2 Ilmu SastraThe Rebel (1956) karya Albert Camus dan The Condemned of Altona (1959) karya Jean-Paul Sartre merupakan karya non-fiksi dan fiksi yang mengulas Nazisme. Sebab keduanya memiliki tema yang serupa, penulis membandingkan pemikiran masing-masing pengarangnya tentang pemberontakan dalam kaitannya dengan Nazisme. Untuk dapat membandingkannya, peneliti menggunakan teori eksistensialisme yang di dalamnya terdapat konsep absurditas dari Albert Camus dan Jean-Paul Sartre. Selain itu, psikoanalisis dari Sigmund Freud juga digunakan untuk mencari motif pengarang mengaitkan pemberontakan dengan Nazisme. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah sastra bandingan yang didasarkan pada analisis karya secara tekstual untuk mengetahui perbedaan atau persamaan pemikiran Camus dan Sartre. Hasil analisis tekstual tersebut kemudian dicocokkan dengan pemikiran absurditas dan eksistensialisme Camus dan Sartre, khususnya yang berkenaan dengan pemberontakan. Analisis tersebut berkutat pada tiga pertanyaan penelitian: (1) Apa pendirian Albert Camus dalam The Rebel dan Jean-Paul Sartre dalam The Condemned of Altona tentang pemberontakan dalam kaitannya dengan Nazisme, (2) Apa motif pengarang mengaitkan pemberontakan dengan Nazisme dalam The Rebel dan The Condemned of Altona, dan (3) Apa hubungan antara pendirian Albert Camus dalam The Rebel dan pendirian Jean-Paul Sartre dalam The Condemned of Altona tentang pemberontakan dalam kaitannya Nazisme. Berdasarkan keseluruhan analisis yang dilakukan, hal yang dapat disimpulkan adalah bahwa Camus dan Sartre secara umum memiliki pendirian yang sama bahwa mereka menentang Nazisme. Meskipun sesuara, mereka menekankan pada hal yang berbeda. Camus lebih menekankan pada keanti-totaliterismeannya, sedangkan Sartre menekankan pada penolakan terhadap pandangan orang lain. Motif mereka dalam mengaitkan pemberontakan dan Nazisme adalah kebencian terhadap Nazisme dan rasa ingin untuk mengkritik Nazisme karena mereka mengetahui bahwa Nazisme telah melakukan kesalahan. Rasa ini didasari atas superego yang dibentuk oleh masyarakat Prancis saat itu yang megalami penajajahan Jerman (Nazi). Kedua karya ini mewakili dua bidang yang berbeda, yaitu filsafat dan sastra. Sehingga dapat dikatakan bahwa sastra dapat memiliki kaitan erat dengan filsafat dan sastra dapat digunakan sebagai media penyampaian ide-ide filosofis pengarangnya.
The Rebel (1956) written by Albert Camus and The Condemned of Altona (1959) written by Jean-Paul Sartre are non-fictional and fictional works comprising Nazism. Having the same theme, both works are compared based on each author's stand on rebellion related to Nazism. To do so, the researcher uses Albert Camus and Jean-Paul Sartre's existentialism including absurdity. In addition, Sigmund Freud's psychoanalysis is also used for finding out the authors' motives in relating rebellion to Nazism. Research methods is comparative literature which is executed by virtue of textual analysis to find out differences and similarities between Camus and Sartre's thoughts. The results of this textual analysis are confirmed to Camus and Sartre's absurdity and existentialism, particularly on rebellion. The analysis is concerning on three research questions: (1) What are Camus' stand in The Rebel and Sartre's in The Condemned of Altona on rebellion in relation to Nazism, (2) What are the authors' motives in relating rebellion to Nazism in The Rebel and The Condemned of Altona, and (3) What is the relationship between Camus and Sartre's thoughts on rebellion in relation to Nazism in The Rebel and The Condemned of Altona. Grounded on the whole analysis, it can be concluded that both Camus and Sartre oppose Nazism. In spite of their same stands, Camus emphasizes on his anti-totalitarianism while Sartre on rejection of others' views. Their motives in relating rebellion and Nazism are driven by hatred to Nazism and courage to criticize Nazism as they know that Nazism has done wrong. These feelings are caused by superego which is formed by France's society which were colonized by Germany (Nazi). Both works are the representatives of philosophy and literature. Thus, literature has a tight bond to philosophy and literature could be used as a medium for delivering its author's philosophical ideas.
Kata Kunci : pemberontakan, Nazisme, absurditas, eksistensialisme, superego