PERSPEKTIF PEMBERITAAN WACANA BERITA DALAM SURAT KABAR LOKAL DAN NASIONAL TENTANG KEKERASAN 29 MEI DAN 1 JUNI 2014 DI SLEMAN, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
SONY CHRISTIAN SUDARSONO, Prof. Dr. Soepomo Poedjosoepomo
2015 | Tesis | S2 Ilmu LinguistikPenelitian ini mengkaji perspektif pemberitaan dalam wacana berita tentang kekerasan di Yogyakarta dalam surat kabar lokal dan nasional. Perspektif pemberitaan adalah sudut pandang dalam melihat suatu peristiwa yang didasari oleh ideologi yang diyakini wartawan sebagai penulis berita. Peristiwa kekerasan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah peristiwa kekerasan bertendensi agama yang terjadi di Desa Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman pada tanggal 29 Mei 2014 dan di Desa Pangukan, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman pada tanggal 1 Juni 2014. Wacana berita yang dianalisis merupakan laporan atas kedua peristiwa tersebut yang dimuat dalam Kedaulatan Rakyat dan Bernas sebagai surat kabar lokal �murni�, Harian Jogja dan Tribun Jogja sebagai surat kabar lokal anak cabang surat kabar nasional, serta Kompas, dan Koran Tempo sebagai surat kabar nasional. Data dianalisis menggunakan metode analisis wacana tiga dimensi dalam rangka analisis wacana kritis yang dikemukakan Fairclough (1995). Dalam penelitian ini ditemukan dua perspektif pemberitaan, yaitu Perspektif A yang memberitakan peristiwa kekerasan di Yogyakarta tersebut dari sudut pandang Pihak Berwajib dan menyatakan bahwa peristiwa kekerasan di Yogyakarta merupakan peristiwa kriminal murni yang tidak ada kaitannya dengan masalah SARA dan Perspektif B yang memberitakan peristiwa kekerasan di Yogyakarta dari sudut pandang Aktivis dan menyatakan bahwa peristiwa kekerasan di Yogyakarta membuat kondisi intoleransi di Yogyakarta menjadi mengkhawatirkan. Surat kabar lokal, terutama surat kabar lokal murni: Kedaulatan Rakyat dan Bernas lebih cenderung menggunakan Perspektif A. Sementara itu, surat kabar lokal yang merupakan anak cabang dari surat kabar nasional: Harian Jogja dan Tribun Jogja tetap cenderung menggunakan Perspektif A, namun sesekali mencerminkan Perspektif B. Surat kabar nasional: Kompas dan Koran Tempo cenderung menggunakan Perspektif B. Untuk membangun perspektif pemberitaan tersebut, dibutuhkan strategi tertentu yang disebut perspektif pemberitaan. Strategi pemberitaan yang digunakan dalam wacana berita tentang kekerasan di Yogyakarta dalam surat kabar lokal dan nasional meliputi (i) penjudulan, (ii) pengedepanan, (iii) kausalitas, (iv) penambahan, (v) amplifikasi, (vi) pengontrasan, dan (vii) perincian. Perspektif pemberitaan juga terwujud atau termanifestasi ke dalam bentuk-bentuk ekspresi kebahasaan, yaitu (i) sistem ketransitifan, (ii) pilihan kata, dan (iii) modalitas. Penelitian ini berimplikasi secara praktis dalam hal penulisan berita. Sudah banyak literatur yang membahas teknik-teknik penulisan berita. Namun, masih jarang ditemukan referensi penulisan berita secara kritis. Dengan dikukuhkannya teori bahwa wacana berita merupakan laporan akan realitas dari perspektif tertentu, diharapkan akan muncul teknik-teknik penulisan berita secara kritis dengan memanfaatkan perspektif pemberitaan, strategi pemberitaan, dan bentuk-bentuk ekspresi kebahasaan.
This research analyzes the perspective of news about violence in Yogyakarta, which was seen from some local and national newspapers. Perspective itself can be understood as the point of view of a journalist, as news writer, in seeing and understanding an event. The point of view is drived from the ideology that he or she believes. The violence pointed in this research refers to the religious violence occurred in both Sukoharjo, District of Ngaglik, Sleman on May 29, 2014 and Pangukan, District of Sleman, Sleman on June 1, 2014. The discourses analyzed in this research were those news reports related to these two events, which were published in Kedaulatan Rakyat and Bernas as the "pure" local newspapers, Harian Jogja and Tribun Jogja that are affiliated with national newspapers, and Kompas and Koran Tempo as the national one. Data were analyzed by using three-dimensional methods of discourse analysis in the context of critical discourse analysis proposed by Fairclough (1995). The result shows two perspectives, namely Perspective A and B. Perspective A reports the incidents of violence in Yogyakarta from the authorities� point of view and states that the violence is a pure criminal action which has nothing to do with racial issues. On the other hand, perspective B reports the incidents from the activists� point of view and declares it as an intolerance state that puts the city into alarmed condition. Local newspapers, especially the pure ones: Kedaulatan Rakyat and Bernas are more likely to use Perspective A. Meanwhile, local newspapers that are affiliated with national newspapers: Harian Jogja and Tribun Jogja still tend to use Perspective A, but occasionally reflect Perspective B. On the other hand, national newspapers: Kompas and Koran Tempo tend to use Perspectives B. To build the news perspective, journalists use some reporting strategies, namely (i) headings, (ii) prioritization, (iii) causality, (iv) addition, (v) amplification, (vi) contrasting, and (vii) details. Perspective is also manifested in the forms of linguistic expression, namely (i) transitivity, (ii) dictions, and (iii) modalities. This research is expected to provide practical implications in terms of news writing. There are already a lot of literatures that discuss the techniques of news writing. However, it is still rare to find references about critical news writing. With the present study, techniques of critical news writing by using perspective, reporting strategies, and forms of linguistic expression, are expected to appear.
Kata Kunci : perspektif pemberitaan, wacana berita, strategi pemberitaan, pemanfaatan bentuk-bentuk ekspresi kebahasaan, analisis wacana kritis