Laporkan Masalah

Metafora Sebagai Representasi Kehidupan Masyarakat Jawa Dalam Wayang Kilit Lakon Kilatbuwana

FERDI ARIFIN, Prof. Dr. Marsono, S.U.

2015 | Tesis | S2 Ilmu Linguistik

Wayang kulit merupakan salah satu seni pertunjukkan paling kuna yang masih eksis di kalangan masyarakat Jawa. Salah satu alasan wayang kulit tetap eksis karena dalam ceritanya menunjukkan gambaran kehidupan masyarakat setempat sehingga sebuah kebudayaan dapat terlihat dari pertunjukkan tersebut. Penelitian ini megkaji salah satu lakon dalam pewayangan yaitu Kilatbuwana dari metafora yang digunakan dalam percakapan antar-tokoh wayang. Penggunaan metafora dalam wayang kulit adalah salah upaya untuk melihat kehidupan masyarakat Jawa. Dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari sebuah hasil transkripsi tim peneliti wayang kulit di Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Surakarta. Dari transkripsi data yang sudah ada kemudian didentifikasi keseluruhan lakon Kilatbuwana tersebut yang masuk dalam kategori metafora. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dalam wayang kulit lakon Kilatbuwana ditemukan jenis-jenis metafora yang muncul dalam percakapan antar-tokohnya, kemudian elemen pembentuk ranah sumber dan ranah target dari metafora dalam lakon tersebut, dan metafora dalam wayang kulit lakon Kilatbuwana mencerminkan kehidupan masyarakat Jawa. Ada tiga jenis metafora yang muncul yaitu struktural, ontologikal, dan orientasional, sedangkan elemen pembentuk ranah sumber dan ranah target dalam metafora wayang kulit lakon Kilatbuwana tidak lepas dari budaya yang dimiliki masyarakat setempat, dan ternyata kehidupan orang Jawa tercermin dalam temuan data metafora di wayang kulit lakon Kilatbuwana. Secara keseluruhan hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa metafora dalam wayang kulit lakon Kilatbuwana menggambarkan kehidupan masyarakat Jawa meskipun tidak secara menyeluruh. Namun, apabila data yang digunakan dalam penelitian metafora ini lebih luas cakupannya, tidak menutup kemungkinan bahwa gambaran kehidupan masyarakat Jawa akan terlihat lebih jelas.

Javanese shadow puppet is one of the most traditional performing arts which still exists in Javanese culture. One of the reasons for its existence is that the story of Javanese shadow puppet depicts the society life, and thus Javanese culture is shown through this performance. This research examines the use of metaphor by one of puppet characters, namely Kilatbuwana, in conversation among other puppet characters. The use of metaphor in Javanese shadow puppet is an effort to see Javanese life. This research employed qualitative method. The data were gained from the transcript composed by a team of Javanese shadow puppet researchers in Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI), Surakarta. The collected data were then identified based on the metaphor categories. The findings of this research show that (1) the types of metaphors are found in the conversation of Kilatbuwana among the puppet characters; (2) the elements creating language sources and targets from the metaphors of Kilatbuwana reflect Javanese life; (3) three types of metaphors found in this play are structural, ontological, and orientational metaphor; and (4) the elements creating language sources and targets from the metaphors of Kilatbuwana is closely related to the culture of Javanese and thus, the life of Javanese is reflected in the metaphor data of Kilatbuwana. To conclude, the all findings of this research show that metaphors used by Kilatbuwana depict the life of Javanese, though it does not completely depict. However, if this research identifies more and broader data of metaphor, the life of Javanese will be depicted more clearly.

Kata Kunci : metafora, kehidupan masyarakat Jawa, kebudayaan Jawa, wayang kulit lakon Kilatbuwana