Laporkan Masalah

Dilema Transformasi Partai Keadilan Sejahtera (PKS)

NASIWAN, S.PD.,M.SI., Prof.Dr.Ichasul Amal, M.A.

2015 | Disertasi | S3 Ilmu Politik

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses transformasi yang dilakukan oleh Gerakan Jemaah Tarbiyah, dari gerakan sosial ke politik dan dilemanya. Dilema yang dialami oleh gerakan Islam berpandangan bahwa ajaran Islambersifat komprehensf (syumuliah). Dalam hal ini, politik tidak dapat dipisahkan dari Islam (addineul Islam). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-fenomenologis.Data penelitian dikumpulkan melalui kajian literatur (literature study) dan indept interview. Penelitian ini menggunakan teori gerakan Islam, pendidikan politik (tarbiyah siyasah), dan jaringan sosial. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dilihat dari sejarahnya merupakan partai politik yang dikembangkan dari Gerakan Islam yaitu Gerakan Jemaah Tarbiyah. Gerakan ini muncul di Indonesia sejak tahun 1980 an dan memerlukan 20 tahun (awal tahun 1980 sampai dengan 1998) untuk memperluas jaringannya di masjid kampus di Indonesia dengan membentuk Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK). Pada tanggal 20 Mei 1998, gerakan ini memperluas jaringan dakwahnya di masjid Al Azhar dengan memasuki wilayah politik (mihwar siyasi) dan mendeklarasikan berdirinya Partai Keadilan (PK).Partai ini berubah nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pada tanggal 20 April 2002. Transformasi dari Gerakan Jemaah Tarbiyah menjadi partai politik dipengaruhi oleh dua faktor, factor internal (Corak pemahaman Islam-ideologinya tidak memisahkan antara Islam dan Politik ; sosial dan jaringan dakwah, dan kader militant) dan faktor eksternal (political opportunity).Transformasi yang dihadapi oleh gerakan ini baik internal maupun eksternal adalah transformasi terbatas dan memicu dilemma bagi Partai Keadilan Sejahtera. Ada tiga level dilemma yaitu dilema doktrin, strategi dan outcomes (muwashofat). Ada kecenderungan discontinuity process antara pemahaman dalam ranah keyakinan (ideologi) yang komplek dan pemahaman dalam ranah politik yang pragmatis. Transformasi yang tergantung pada kegiatan tarbiyah dan menggunakan political opportunity yang sudah ada tidak mampu mendapatkan dukungan yang significan dari Gerakan Jemaah Tarbiyah. Gerakan ini tidak mampu menyelesaikan masalah klasik yang dihadapi oleh partai Islam di Indonesia, sebagai iktiar untuk menciptakan basis sosial yang baru yang mampu melegitimasi keberadaan Jemaah Tarbiyah dalam wilayah politik Negara (mihwar dauli). Akar dari dilema yang dihadapi oleh Jemaah Tarbiyah (Partai Keadilan Sejahtera) berawal ketika gerakan ini menerapkan strategi intifa dari awal berdirinya sampai ketika PKS memasuki era politik. Strategi ini digunakan untuk merekrut tokoh penting dalam partai. Hal ini memicu terjadinya faksi dan friksi dalam internal partai (kelompok idealis dan pragmatis) karena tokoh-tokoh tersebut dipilih dari berbagai elemen gerakan islam yang berbeda-beda yang memiliki pemikiran islam tertentu. Akar dari dilema terjadi karean beberapa tokoh penting tidak melalui proses pendidikan politik yang diharapkan (tarbiyah hisbiyah) berdasarkan visi dan platform partai, sehingga keasliannya dipertanyakan.

This research aims at explaining the process of transformation performed by Gerakan Jemaah Tarbiyah (Jemaah Tarbiyah Movement), from social to political movement, and its dilemma. A dilemma faced by Islamic movement has a view that Islamic teaching is comprehensive (syumuliah). With regard to this, politics cannot be separated from Islam (addienul Islam). This research employs qualitative-phenomenological method. The data in this research were collected through literature study and deep interview. This research uses theory of Islamic movement and political education theory (tarbiyah siyasah). Prosperous Justice Party, viewed from its origin, is a political party which is developed from an Islamic movement Gerakan Jemaah Tarbiyah. This movement has existed in Indonesia since 1980s and needs 20 years (from the beginning of 1980 to 1998) to widen its networks in campus mosques in Indonesia by establishing informal forums called Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK). In May 20, 1998, the movement widened its religious proselytizing in Al Azhar Mosque hall by entering a political area (mihwar siyasi) and declaring Justice Party (known as Partai Keadilan). This political party changed its name into Prosperous Justice Party (known as Partai Keadilan Sejahtera) in April 20, 2002. The transformation from Gerakan Jemaah Tarbiyah to a political party is influenced by two factors namely, internal factor (the type of Islamic understanding-its ideology does not separate between Islam and politic; social and dakwah networking; and militant cadres) and external factor (political opportunity). The transformation faced by this movement both internal and external results in a limited transformation and triggers a dilemma for Prosperous Justice Party. There are three levels of dilemma i.e. dilemma of doctrine, strategy, and outcomes (muwashofat). There is a tendency of a discontinuity process between the understanding within the faith area (ideology) which is complex and the understanding within the political area which is pragmatic. The transformations which rely on the tarbiyah activities and utilize the existing political opportunity are not able to gain the significant social support for Gerakan Jemaah Tarbiyah. This movement cannot solve the classic problems faced by most of the Islamic parties in Indonesia, as an effort to create a new and genuine social basis to support and legitimate the existence of Jemaah Tarbiyah within the nation political area (mihwar dauli). The root of dilemma faced by Jemaah Tarbiyah (Prosperous Justice Party) begins when this movement applys intifa strategy from its establishment to political party era (mihwar siyasi).This strategy is used to recruit prominent figures within the party. This triggers factions and frictions within the internal party (Idealist and pragmatics groups) since these figures are selected from different elements of Islamic movement who have had particular Islamic thoughts. The root of dilemma happens because some of the prominent figures do not undergo the expected cadering process based on the vision and platform of the party, therefore their genuineness are questioned.

Kata Kunci : PKS, dilema transformasi, minhaj tarbiyah siyasah;Political Justice Party, the dilemma of transformation, Minhaj Tarbiyah Siyasah