Laporkan Masalah

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI Avibacterium paragallinarum DARI AYAM PETELUR YANG MENUNJUKKAN GEJALA SNOT

IMA FAUZIAH, Prof. Dr. drh. Agnesia Endang Tri Hastuti Wahyuni, M.Si.

2015 | Skripsi | S1 KEDOKTERAN HEWAN

Snot merupakan suatu penyakit infeksius yang disebabkan oleh Avibacterium paragallinarum, yang menginfeksi saluran pernafasan bagian atas ayam dan dapat berlangsung akut sampai kronis. Gejala snot pada ayam petelur adalah adanya kebengkakan pada wajah dan leleran hidung yang berbau busuk. Namun ada penyakit yang mirip dengan gejala snot antara lain chronic respiratory disease (CRD), swollen head syndrome (SHS), infectious bronchitis (IB), infectious laryngotracheitis (ILT) dan fowl pox. Di Indonesia, sampai sekarang masih sangat sedikit penelitian mengenai Avibacterium paragallinarum, baik isolasi dan identifikasi, umur ayam yang terserang maupun ketergantungan pada NAD. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi Avibacterium paragallinarum dari ayam petelur yang menunjukkan gejala snot, mengetahui persentase kejadian snot pada ayam petelur yang menunjukkan gejala snot dan mengetahui sifat dependen Avibacterium paragallinarum terhadap NAD (nicotinamide adenine dinucleotide). Sampel penelitian diambil dari 36 ekor ayam petelur yang menunjukkan gejala snot berupa kebengkakan wajah dan adanya leleran hidung yang berbau busuk dari beberapa wilayah yaitu Yogyakarta (4 ekor), Makassar (6 ekor), Padang (16 ekor), Palembang (7 ekor) dan Surabaya (3 ekor). Sampel yang digunakan berupa leleran dari sinus ayam dan dikultur pada agar coklat, dimasukkan ke dalam candle jar dan diinkubasi pada suhu 37 °C selama 18-24 jam. Koloni yang menunjukkan bentuk bulat dan transparan dengan morfologi sel bakteri berbentuk kokobasil dan bersifat Gram negatif, selanjutnya dilakukan uji biokimia meliputi katalase, oksidase, urease, indol, motilitas dan fermentasi karbohidrat. Koloni yang teridentifikasi Avibacterium paragallinarum dilakukan uji koloni satelit dengan mengkultur pada media plat agar darah (PAD), kemudian dilakukan cross-streak dengan Staphylococcus hyicus dari biakan yang tumbuh pada plat agar coklat (PAC). Berdasarkan hasil penelitian teridentifikasi 20 isolat dari 36 sampel positif Avibacterium paragallinarum (55.6%) dengan rincian 4 isolat dari Yogyakarta (100%), 3 isolat dari Makassar (50%), 6 isolat dari Padang (37,5%), 5 isolat dari Palembang (71,4%) dan 2 isolat dari Surabaya (66,7%). Ayam petelur yang teridentifikasi Av. paragallinarum berada pada periode layer dengan kisaran umur 21-23 minggu. Empat isolat (20%) Av. paragallinarum bersifat NAD-dependent dan 16 isolat (80%) bersifat NAD-independent.

Snot is one of respiratory diseases caused by Avibacterium paragallinarum. It infects upper respiratory system in chicken, including layers and can be found in acute to chronic form. Clinical signs from layers are swollen face and strong odor sinus exudate. Some diseases that had similar clinical signs with snot are chronic respiratory disease (CRD), swollen head syndrome (SHS), infectious bronchitis (IB), infectious laryngotracheitis (ILT) and fowl pox. In Indonesia, there are a few reports about Avibacterium paragallinarum from the isolation and identification, age of the infected layers and dependence characters on NAD. This study is aimed to isolate and identify Avibacterium paragallinarum in layers showing snot symptoms, to find certain percentage of snot case in layers showing snot symptoms and to knowing dependence characters Avibacterium paragallinarum on NAD (nicotinamide adenine dinucleotide). Samples were taken from 36 layers which showing snot symptoms like swollen face and strong odor sinus exudate from Yogyakarta (3 samples), Makassar (6 samples), Padang (16 samples), Palembang (7 samples) and Surabaya (3 samples). Samples were taken from sinus excudates of the chickens then cultured on chocolate agar and incubated by using candle jar at 37 °C temperature for 18-24 hours. Colonies which show circular and transparant forms with coccobacilli shaped and have negative Gram characteristic morphology then go through biochemical test such as catalase, oxidase, urease, motility and carbohydrates fermentations. The isolates which are identified Avibacterium paragallinarum then being tested with satellite colony test. The isolates are streaked on blood agar plate then cross-streaked with Staphylococcus hyicus. From the results, it is identified that 20 isolates from 36 samples were positive with Avibacterium paragallinarum (55.6%) with details from each regions are 4 isolates from Yogyakarta (100%), 3 isolates from Makassar (50%), 6 isolates from Padang (37,5%), 5 isolates from Palembang (71,4%) and 2 isolates from Surabaya (66,7%). Av. paragallinarum identified layers are in layer period with approximate age of 21-23 weeks. Four Av. paragallinarum isolates (20%) have NAD-dependent characteristic and 16 isolates (80%) have NAD-independent characteristic.

Kata Kunci : Snot, Avibacterium paragallinarum, Isolasi, Identifikasi