Laporkan Masalah

PENGAMBILAN KEPUTUSAN PETANI DI DATARAN TINGGI DIENG: MENINGKATKAN USAHA TANI CARICA

EKO HARDIYANTO, Dr.Bambang Hudayana,M.A

2015 | Skripsi | S1 ANTROPOLOGI BUDAYA

Masyarakat dataran tinggi Dieng adalah masyarakat yang sebagian besar bermata pencaharian di sektor pertanian, karena didukung oleh faktor geografis yang berpotensial untuk bercocok tanam. Hal ini membuat masyarakat disana memiliki kecenderungan mensejahterakan ekonomi rumah tangga dengan mengadopsi tanaman-tanaman baru yang profitable dan marketable. Tanaman carica misalnya, dalam lima tahun terakhir ini mengalami peningkatan budidaya yang dilakukan oleh petani, ditengah-tengah budidaya kentang. Carica merupakan tanaman endemik dataran tinggi Dieng, yang mulai menawarkan peluang keuntungan semenjak buah carica diolah menjadi produk olahan (seperti sirup, selai, dan kripik carica). Studi ini merupakan studi mengenai meningkatnya budidaya carica di Desa Sembungan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo.Fokus studi ini adalah menggambarkan latar belakang meningkatnya budidaya carica yang didorong oleh problematika pada usaha tani kentang, dan intervensi pemerintah, serta prospek pasar carica yang terus berkembang.Data studi ini diperoleh menggunakan metode kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam, dan didukung metode kuantitatif dengan menyebaran kuesioner ke 35 petani di Desa Sembungan. Ditambah data-data sekunder lainnya, seperti monografi Desa Sembungan, data statistik Kecamatan Kejajar dan Kabupaten Wonosobo dari tahun 1998-2014, serta dokumen foto. Hasil dari studi ini menjelaskan bahwa meningkatnya budidaya carica di Desa Sembungan merupakan upaya petani menjaga keamanan subsistensi rumah tangga. Melihat tinggi resiko usaha kentang mengalami penurunan produktivitas akibat serangan hama, dan cuaca buruk, serta problematika yang dihadapi usaha tani kentang. Tanaman ini dipilih oleh petani karena menawarkan peluang pasar untuk mendapatkan keuntungan bagi penghasilan rumah tangga petani, yang mana peluang tersebut dipengaruhi oleh peningkatan konsumsi pariwisata Dieng.Dalam hal ini budidaya carica dikatakan sebagai tanaman komplementer.Sesuai dengan hasil temuan studi ini petani memilih meningkatan usaha tani carica sebagai penyeimbang ekonomi rumah tangga petani, dan usaha tani carica sebagi solusi menjaga lingkungan.Kedua hal tersebut yang mempengaruhi pertimbangan petani menerapkan sistem produksi carica secara tumpangsari, serta kendala dalam sistem penjualan buah buah ikut mempengaruhi.Seperti fluktuasi harga jual buah carica pada musim hujan Rp.2000/kg, dan musim panas Rp.5000/kg.Ditambah lagi naik turunnya permintaan buah carica, terutama pada musim hujan buah carica terlalu banyak dipasaran sampai-sampai buah tidak terjual.Sedangkan musim kemarau buah carica sangat sulit dicari.

Dieng plateau society largely engages in agricultural sector due to potential geographical factors for growing plants. Therefore, people there have a tendency to prosper household economy by adopting new profitable and marketable plants. Carica is example of plants which the cultivation is increased in the midst of potato cultivation in last five years. Carica is an endemic plant of Dieng plateau which began offering profit opportunities since it can be processed into refined products (such as syrup, jam, and chips). This study discusses the increase of Carica cultivation in Sembungan Village, District Kejajar, Wonosobo. This study focuses to describe the background of the increased Carica cultivation driven by the problems encountered in the potato farm business, government intervention, and Carica market prospects which are continuously evolving. The study data was obtained using a qualitative method by conducting in-depth interviews, and quantitative methods by distributing questionnaires to 35 farmers in Sembungan village. The secondary data is also provided, such as monographs of Sembungan village, statistical data of Kejajar district, Wonosobo from years 1998 to 2014, as well as photo documents. This study results explain that the increase of Carica cultivation in Sembungan village is an effort to maintain the security of farmers� household subsistence. The decline in high-risk potatoes business productivity is due to pests and bad weather, as well as the problems encountered by potatoes farm business. This plant is chosen by the farmer because its market profit opportunities for household income, which is influenced by the increased Dieng tourism consumption. In this regard the Carica cultivation is regarded as complementary plant. In accordance with the findings of this study, the farmers tend to improve Carica farm business as a counterweight to household economy, and as a solution to preserve the environment. Both of these considerations affect farmers to apply Carica production by using intercropped system, as well as affect the obstacles in fruits sales system. Such as the fluctuations in Carica selling prices during the rainy season which amounted to Rp2,000/kg, and Rp5,000/kg during the summer. Moreover, the ups and downs of demand of Carica, resulting most of Carica were unsold due to its abundant stock in rainy season. While in dry season, Carica is very hard to find.

Kata Kunci : farmer, risk and plant selection