Respons Jepang Terhadap Perluasan ADIZ Tiongkok dan Implikasinya Terhadap Kebijakan Pertahanan Jepang Tahun 2014
GUNTUR RIZKIYANA MUHAMMAD, Dra. Siti Daulah Khoiriati, M.A.
2015 | Skripsi | S1 ILMU HUBUNGAN INTERNASIONALJepang merupakan negara yang unik dengan tingkat kekuatan militer yang tidak sesuai dengan potensi militer yang dimilikinya sebagai negara maju. Keunikan ini disebabkan oleh pasifisme yang didasarkan pada konstitusinya dan doktrin Yoshida. Tingkat kekuatan militer Jepang tidak cukup untuk menghadapi ancaman keamanan yang datang dari negara tetangganya yaitu Korea Utara, Tiongkok, dan Rusia. Jepang dapat bertahanan dari kondisi ini karena telah membuat aliansi dengan Amerika Serikat (AS) sejak Perang Dingin dan dapat melindungi keamanan dan kepentingan Jepang. AS gagal memenuhi peranannya sebagai pelindung Jepang saat menghadapi perluasan wilayah identifikasi pertahanan udara Tiongkok (ADIZ) yang melingkupi wilayah udara kepulauan Senkaku, salah satu wilayah Jepang. AS tidak dapat menekan Tiongkok menggunakan militer, ekonomi, dan politik untuk menghapuskan perluasan ADIZ nya. Kasus ini menunjukkan bahwa Jepang tidak dapat bergantung terlalu banyak pada AS dan membuat rentan pertahanannya. Pemerintah Jepang menyadari bahwa mereka harus lebih mendiri secara militer dengan lebih memanfaatkan potensi militernya, membuka hubungan diplomatis dan kerja sama pertahanan dengan negara lain untuk memastikan keamanan domestik. Kebijakan pertahanan Jepang menjadi lebih tegas karena pemerintah telah menjadikan militer sama pentingnya dengan diplomasi untuk melindungi kepentingan negara. Hal ini membawa postur pertahanan Jepang menjadi negara normal dengan kedaulatan penuh eksklusif dengan bebas mengatur pertahanannya, dapat berkontribusi aktif dalam kerja sama pertahanan, dan memiliki posisi yang sejajar dalam kerja sama pertahanan.
Japan is a unique country because its military power level did not match its military potential as a developed country. This uniqueness came from pacifism nature derived from its own constitution and Yoshida doctrine. Japan military power level is not sufficient to handle security threats coming from its hostile neighbors countries such as North Korea, China, and Russia. Japan was able to survive this condition because it has formed alliance with United States since Cold War era and able to defend Japan's security and interests. United States failed to fulfill its role as Japan's protector when faced with China declaration of its Air Defense Identification Zone (ADIZ) which covers the airspace of Senkaku Island, one of Japan's territories. United States was not able to pressured China using military, economy, and politic to cease its ADIZ expansion. This case shows that United States ca not be relied upon too much and left Japan's security vulnerable. The Japanese government realized that they have to be more military independent by exploiting its own military potential, open more diplomatic and joint defense with other country to ensure domestic safety. Defense policy of Japan became more assertive because the governments have made military as important as diplomatic to defend country interests. This have leads Japan defense posture to became a normal state with exclusive sovereignty to freely construct its own defense, able to contribute more active in military, and has the same status in bilateral/multilateral joint defense.
Kata Kunci : Japan, China, ADIZ, United States, military, normal state