Laporkan Masalah

NEGOSIASI KEKUASAAN BURUH MIGRAN INDONESIA DI PERKEBUNAN SAWIT SERAWAK MALAYSIA

YOYOK HENDARSO, Prof. Dr. Susetiawan; Dr. Mahendra Wijaya

2015 | Disertasi | S3 Ilmu Sosiologi

Isu migrasi internasional buruh migran adalah isu yang menarik hampir diseluruh negara di dunia. Tingginya mobilitas penduduk antar negara tersebut menimbulkan banyak masalah yang sulit untuk di kontrol. Beberapa penelitian migrasi buruh ke Malaysia telah banyak dilakukan di Indonesia terutama berkaitan dengan perpindahan penduduk yang bersifat sementara, juga menjelaskan persoalan ketenagakerjaan yang terjadi di Indonesia. Studi yang dilakukan terhadap buruh migran Indonesia di Malaysia memiliki karakteristik: tingkat pendidikan rendah, pengetahuan dan ketrampilan terbatas, termasuk minimnya pengetahuan akan hak-hak mereka sebagai buruh. Rendahnya kualitas yang dimiliki membuat para buruh migran rentan terhadap tindakan eksploitasi dan pengabaian atas hak-hak mereka. Berdasarkan masalah tersebut pertanyaan utama dalam penelitian ini adalah bagaimana negosiasi kekuasaan dalam jaringan hubungan sosial buruh migran Indonesia di perkebunan sawit di Malaysia Timur?. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran keberadaan buruh migran Indonesia di perkebunan sawit Malaysia Timur sebagai aktor jaringan pertukaran dalam menegosiasikan kekuasaan atau berbagai kepentingannya sebagai buruh migran sementara di Malaysia. Penelitian ini dilaksanakan di daerah perkebunan sawit, Serawak, Malaysia, buruh migran Indonesia yang bekerja di perkebunan sebagai unit analisisnya. Pendekatan dskriptif kualitatif yang lebih menekankan pada proses dan mengekplorasi berbagai fenomena buruh migran digunakan dalam penelitian ini dengan berbagai teknik antara lain observasi partisipasi dan wawancara mendalam kepada informan kunci. Peneliti sebagai instrumen utamanya. Dalam disertasi ini ditemukan bahwa dalam hubungan-hubungan kekuasaan (pertukaran jaringan) antar aktor yaitu buruh migran, calo rekrutmen, aparat dan perusahaan dalam pratik sosial bermigrasi dan bekerja di perkebunan sawit Serawak Malaysia terjadi negosiasi kekuasaan karena dalam pertukaran jaringan kekuasaan yang dibangun terdapat unsur saling percaya, kerjasama saling membutuhkan dan buruh tidak diasumsikan tidak mempunyai kekuasaan, powerless, dalam menghadapi sruktur dominasi yang tidak selalu menghasilkan orang-orang yang patuh karena kekuasaan itu tersebar dimana-mana. Lebih jauh dengan akses jaringan interaksi migrasi dalam rentang ruang dan waktu dapat membantu mereka untuk memobilisasi aturan, kekuasaan, dan sumberdaya dalam upaya untuk mencapai tujuan personal dan kelompok. Hasil negosisasi kekuasaan berupa konsensus yang lentur sehingga memungkinkan adanya tindakan akomodatif diantara para aktor. Tindakan buruh migran dalam tahap ini masih terfragmentasi untuk dapat merubah faktor kelembagaan migrasi dan relasinya dengan perusahaan secara keseluruhan. Melalui wadah perkumpulan dan paguyuban penerapan disiplin diri dan akomodasi dalam kerangka toleransi dan kerjasama, Dengan demikian dapat dijelaskan kehidupan buruh migran tetap diliputi ‘ketidakpastian’ dalam wujud konsekuensi resiko tinggi. Buruh migran Indonesia di perkebunan sawit Malaysia dalam gambarannya dapat dikatakan dengan istilah juggernaut, bergulir entah kemana ibarat truk besar yang melaju kencang tanpa kendali. Namun demikian negosiasi kekuasaan buruh migran Indonesia di perkebunan Indonesia tetap dapat memberikan implikasi yang positif dalam perlindungan dan kesejahteraan migran di perkebunan sawit Malaysia

Many countries face international migration issues as very important. Inter-states high population mobility rises more problems and issues and mostly difficult to control them. Many research on international migration has been conducted in Indonesia especially focus on the process of migration including condition of man power and social economic Indonesia Study related to Indonesian migrant labour in Malaysia is characterized as: low education, low knowledge and skill including knowledge of labour rights. These low quality of migrant cause them as subyect of exploitation. Based on the above issues, the research question is how is negotiating power of the Indonesian migrant labour in Serawak Malaysia?. The research is conducted in Oil Palm Plantation, Serawak East Malaysia. Descriptive qualitative approach method will be employed for this research. The methode with various technic for collecting data such as indepth interview, participant observation and documentation are applied to the key informan. It is also focusing on the process and deep analysis and explore of migrant labour fenomena. The researcher is the main instrument on the case study method . The goal of the research is to explain Indonesia migrant labour as active subject (actors) in negotiating their personal goals. The research results show that although migrant labour act as active subject (actors), they still can not change the complex structure of migration institutions in Malaysia. In addition, social networks among the migrant help them to find another job and attaining their personal goal such as rising income. The network is also help migrants to develop good relationship with the manager. The output of negotiating power is that concensus wihich is flexible so that there is posibility to create accomodative action among the actors. The action in fact is still fragmented to change the migration institution in Malaysia. Through informal group (paguyuban), the labour start to establish self dicipline and acomodation as a shape of group resistence on the frame of solidarity, moral values and culture to strive domination and hegemonic structure in Malaysia. Therefore, migrant labour life in Malaysia is still uncertain between high risk consequency and security. Negotiating power of Indonesian migrant labour is described as ‘juggernaut’. The big truck running fast which goes no where without any destination. However, the negotiating power of Indonesian migrants is still giving contribution to protection and welfare of Indonesian migrants in Oil Palm Plantation in Serawak, East Malaysia.

Kata Kunci : Buruh Migran Indonesia, Negosiasi Kekuasaan, Jaringan Pertukaran Kekuasaan, Struktur Dominasi, Struktur dan Aktor


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.