KONSEPSI PEMBENTUKAN DIRI PADA PENYINTAS DIFABEL FISIK PASCA GEMPA BUMI YOGYAKARTA TAHUN 2006
ANGIE PURBAWISESA, Prof. Partini
2015 | Skripsi | S1 SOSIOLOGIPeristiwa gempa bumi yang melanda Kabupaten Bantul pada 27 Mei 2006 telah banyak melahirkan warga penyintas (survivor) yang mengalami kecacatan fisik permanen. Salah satunya adalah kerusakan sensorik tulang punggung yang menyerang fungsi kedua kaki, baik sampai mematikan fungsi (paraplegia) maupun merusak fungsi (paraparase). Dalam menjalani fase kehidupan baru pasca-bencana, tidaklah mudah bagi mereka yang tidak terlahir dengan cacat fisik, namun harus mengalami dan menjalaninya sebagai akibat dari peristiwa gempa bumi. Namun, kecacatan tubuh pada seorang difabel fisik bukan melulu soal disfungsi maupun ketidaknormalan tubuh secara medis. Perbedaan kondisi tubuh yang berbeda dengan orang normal atau yang tidak mengalami disabilitas fisik pada umumnya ternyata tidak lantas membunuh hasrat penyintas difabel fisik untuk menjalani roda kehidupan yang terus berputar. Semua itu tergantung pada bagaimana upaya mereka dalam memaknai dan mengakrabi kondisi kecacatan tubuhnya tersebut. Penelitian ini secara garis besar membahas mengenai proses pembentukan konsep diri pada penyintas difabel fisik pasca gempa bumi Yogyakarta tahun 2006. Metode penelitian kualitatif deskripstif menjadi alat kerja dalam penelitian ini agar dapat menyasar ke wilayah personal informan. Untuk pemilihan informan, digunakan pendekatan snowball agar lebih efektif dan dapat menyasar subyek-subyek penelitian yang dirasa tepat dalam pemenuhan data penelitian. Ada lima penyintas difabel fisik penyintas dari Kabupaten Bantul yang dijadikan informan dalam penelitian ini. Penulis berkali-kali menyaksikan sendiri bagaimana aktivitas kehidupan mereka pasca-bencana sebagai seorang penyintas difabel fisik. Pencurahan dan pengakuannya secara jujur dan apa adanya terkait pemaknaan dan penerimaan diri atas kecacatan tubuhnya telah melahirkan sebuah pembentukan konsep diri, siapa diri mereka sebenarnya. Mereka menawarkan keunikan tersendiri dalam urgensi pengkajian akan isu disabilitas dari sudut pandang sosiologis. Walaupun mereka menyandang kecacatan fisik, melalui pemaknaan kecacatan tubuh yang mereka yakini dan penerimaan diri atas kecacatan tubuh yang telah berhasil mereka lewati, ternyata kondisi kecacatan fisik yang mereka alami tidak lantas membunuh harapan hidup untuk terus berkarya dan menjalani kehidupan di lingkungan masyarakat dengan lebih baik.
The earthquake that happened in Bantul Residence 8 years ago, on May 24th 2006, has resulted in survivors who suffered from permanent physical disabilities. One of the disabilities was backbone sensoric damage that resulted in the malfunction of Parapeglia function, or the Paraparase function. It is not easy for these people who are now considered as people with disability to live the post-earthquake lives. However, disabilities do not dim the spirit of these post-earthquake survivors. The effort to overcome with disabilities relies on on the survivors endeavor to be friend with their new physical status. The research aim to provide a discussion above the process of self-image development inside the disabled people community post-Bantul earthquake in 2006. Descriptive qualitative research methods is used and it became a tool for this research so that it will be able to targeted personal informans. In choosing the informans, this research used snowball approach to better match the research target with research purpose. There are 5 survivors from Bantul resindence who served as informans on this research. Self observation has been done for research purpose and findings are people with disabilities who are honest and being true to themselves has made has made a positive self image of who their trully are. The post-earthquake people with disabilities are unique in the disabilitiy studies issue from sociologycal perspective. Although their body are disabled, it is through self acceptance endeavor that leads them to carry on, and living the live with society just like what they used to be.
Kata Kunci : Gempa bumi, Penyintas, Kecacatan Tubuh, dan Konsep Diri