Laporkan Masalah

Kemiskinan pada masyarakat nelayan :: Studi tentang proses pemiskinan dan strategi bertahan hidup masyarakat nelayan tradisional di daerah Kabupaten Poso, Propinsi Sulawesi tengah

TINDJABATE, Christian, Prof.Dr. Sayogya

2001 | Disertasi | S3 Sosiologi

Penelitian untuk memahami penyebab kemislunan dalam masyarakat Indonesia, memperlihatkan kecenderungan kuat lebih menyoroti faktor-faktor internal untuk menjelaskan kekurangan-kekurangan individu yang bersumber dari Teori Modernisasi dan beraneka ragam Teori Kebudayaan lainnya. Oleh karena itu, penelitian-penelitian tersebut kurang memberikan perhatian pda faktorfaktor eksternal yang sangat penting diketahui dalam rangka memahami masalah kemiskinan secara komprehensif. Penelitian ini diselenggamkan dalam rangka memahami realitas kemiskinan masyarakat nelayan tradisional di Kabupaten POSO, Propinsi Sulawesi Tengah, dengan memberikan ruang yang lebih besar terhadap pembahasan faktor-faktor eksternal sebagai penyebab kemiskinan. Sehubungan dengan itu, pengembangan konstruksi teori dilaksanakan sebagai pedoman mtuk mengarahkan penelitian. Teknik pengumpulan data primer, dilakukan dengan alat questioner secara berstruktur, dan melalui teknik observasi partisipasi dilakukan wawancara mendalam (indepth interview). Sedangkan data sekunder, diperoleh melalui studi kepustakaan, menelaah secara cermat berbagsu dokumentasi, arsip, peraturanperaturan pemerintah, dan hasil-hasil penelitian yang relevan dengan obyek penelitian. Datadata yang dikumpulkan dianalisis menurut metode analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pemiskinan terhadap nelayan tradisional, terjadi dalam konteks kuatnya tekanan-tekanan stniktural yang bersumber dari kebijaksanaan pemerintah Indonesia dalam penyelenggaraan pembangunan subsektor perikanan laut. Kebijaksanaan yang ditempuh Pemerintah Daerah Kabupaten Poso dalam bidang subsektor perikanan laut di Kecamatan Ampana Kota, dilaksanakan dalam rangka merealisir kepentingan pemerintah untuk meningkatkan hasil produksi perikanan laut sebagai sumber devisa negara, sehingga intervensi birokrasi dan kapitalisasi dalam kegiatan nelayan di Kecamatan Ampana Kota berlangsung secara intensif, yang pada gilirannya mengakibatkan kepentingan-kepentingan nelayan tradisional telah diperlakukan secara disknminatif oleh aparat birokrasi Pemerintah Daerah Kabupaten Poso. Berlangsungnya intervensi kapitalisasi dalam komunitas nelayan di Kecamatan Ampana Kota, berdampak pula pada terjadinya fiagmentasi kegiatan nelayan yang semula bersifat homogen menjadi kegiatan nelayan yang beragam, menampilkan buruh nelayan dan ponggawa serta perubahan sumber penghasilan yang semula diperoleh melalui kegiatan nelayan yang diusahakan sendiri, beralih pada penghasilan yang tergantung dari upah (wage) yang diberikan oleh juragan pemilik pukat cincin. Kondisi ini, telah mengalubatkan tejadinya tindakan eksploitatif terhadap buruh nelayan oleh juragan melalui dukungan ponggawa sebagai “kalutangan” juragan. Dalam hubungan ini, keberadaan ponggawa dalam komunitas nelayan telah menampilkan sebuah realitas yang unik. Meskipun berasal dari masyafakat nelayan tradisional yang sama sekali tidak memdiki akses di bidang ekonomi maupun politik, tetapi mereka dapat memposisikan dirinya sebagai “kakitangan” yang menguntungkan pemilik modal. Sementara itu, pada saat yang sama mereka juga membedcan andil positif dalam perkembangan ekonomi nelayan di Kecamatan Ampana Kota. Kemampuan ponggawa memimpin serta mengorganisir tenaga kerja dalam pukat cincin, telah memunglunkan pukat cincin mampu meningkathn hasil produksi perikanan laut untuk kebutuhan pasar secara lebih luas. Hal ini, telah mendorong berkembangnya komersialisasi dalam kegiatan nelayan, yang ditandai oleh masuknya pedagang ikan dari berbagai daerah untuk memasarkan ikan hasil tangkapan pukat cincin kepada konsumen di luar Kecamatan Ampana Kota. Dalam pada itu, penetrasi kapitalisasi ini juga telah menampilkan realitas yang berbeda di antara buruh nelayan, ponggawa dan nelayan tradisional. Hasil penelitian menunjukkan, meskipun h p a k penetrasi kapitalisasi lebih merughn nelayan tradisional karena merosotnya pendapatan yang disebabkan oleh adanya monopoli pasar oleh ikan hasil tangkapan pukat cincin, akan tetapi di sisi lain nelayan tradisional dapat melakukan pekerjaannya dan memperoleh penghasilan secara bebas tanpa campur tangan pemilik modal. Sebaliknya, buruh nelayan dan ponggawa, dalam melakukan pekerjaan dan sumber penghasilannya senantiasa berada di bawah hegemoni pemilik modal. Kenyataan juga menunjukkan, keberadaan Departemen Koperasi dan Dinas Perikanan Kabupaten POSO, telah menghasilkan realitas yang berbeda dengan apa yang dikehendaki secara ideal oleh peraturan pemerintah yang mendasari keterlibatan kedua departemen tersebut untuk membina kehidupan nelayan tradisional ke arah yang lebih baik. Hasil penelitian menunjukkan, kedua departemen ini ti& dapat bekerjasama untuk membina nelayan tradisional ke arah yang lebih bark, tetapi justru terlibat konflik kepentingan sebagai konsekwensi dari dualisme program pembinaan nelayan yang diperankan oleh kedua instansi pemerintah tersebut, yaitu KUD Nelayan di bawah binaan Departemen Koperasi, dan Kelompok Tani Nelayan oleh Dinas Perikanan Kabupaten Poso. Berdasarkan situasi dan kondisi sosial yang terjadi, maka munculnya strategi bertahan hidup di kalangan nelayan tradisional, dilakukan untuk menyiasati tekanan-tekanan struktural yang dialami. Dalam perspektif teori kaum strukturalis, strategi bertahan hdup itu merupakan manifestasi dari tindakan rational choice yang dilakukan nelayan tradisional sebagai kelompok masyarakat miskin, merespons berbagai situasi yang dihadapi baik melalui tindakan-tindakan kreatif seperti tolong menolong, melakukan pekerjaan altematif, menyiasati kebutuhan nunah tangga, maupun tindakan-tindakan lain yang bersifat konflik fisik dengan pihak-pihak yang dianggap merugikan kepentingan mereka

The survey to understandmg the cause of poverty in Indonesia indlcated a strong preference that illuminate internal factors explaining an individual shortages which has source from Modernization Theory and various other Theories of culture. Therefore, the survey lack of giving attention to external factors that most important to know on understanding a comprehensive poverty problem. This survey was organized for understanding poverty reality of the traditional fishermen community in Poso Regency, Province of Central Sulawesi with preparing more large space against discussion of external factors as the cause of poverty. For that reason, developing thmry construction was implemented as guideline ti direct the survey. The primary data collection was performed with questionaire tools structurally, and through participation observation technique was performed a depth interview. While secondary data was obtained through the library study, analize variuos documentation carefully, archive, government regulation, and a relevant survey result with survey object. Data collected was analized with a qualitative analysis method. The survey result suggested that the poverty process against traditional fishermen was happened in contex the strong of stuctural preassures that has source from policy of Indonesia government and development implementation in the marine fisheries subsector. The policy wich taken by Area government of Poso Regency in the marine fisheries subsector in Sub-District of Ampana Kota, was performed to realize the government interest on increasing outcome the marine fisheries production as foreign exchange source of the country, so that intervention of bureaucracy and capitalization on the fishermen activity in Sub- District ampana Kota was carry out intensively, that in turn caused a traditional fishermen has been treated discriminatively by the bureaucracy appartus of Area Government in Poso Regency. The precence of capitalization intervention on the fishermen community in Su-District of Ampana Kota, has impacted on occurrence a fragmentation of the fishermen activity wich has homogeny characteristic before then becomes variety fishermen activity, bring forward the fishermen work and ponggawa and change of income source that obtained before thorough self-exerted fishemen activity, turns to the income that dependent on the wage given by the employer as owner of the ring trawl. This condition has caused exploitative acts againts the fishermen workers by the employer with ponggawa supporter as “henchman7’ of the employer. In this relation, an exsistence of ponggawa in the fishermen community has brought forward a unique reality. Althoug come fiom the tradltional fishermen community that has not access yet in economic or politic sector, but they can posit themselves as “henchman77 who benefits for the capital owner. While at the same time they also giving positive share for the fishermen economic development in Sub-District of Ampana Kota. The capacity of ponggawa on leading and organizing the labor force with ring trawls, has enabled increasing outcome of the marine fisheries production for market demand widely. This has encourage the development on fishermen activity, wich marked with the join fish trader from various region to market the outcome of catching ring trawls to consumer out of Sub-District of Ampana Kota. Therefore, this capitalization penetration has also brought forward the difference rality among the fisheries workers, ponggawa, and traditional fishermen. The survey result suggested although the impact of capitalization penetration was more demaged to the traditional fishermen cause of the decreased in outcome that caused by the existence marked monopoly toward the outcome of catching ring trawls, but in another side the traditional fishermen may carry out their work and get the income freely without intervening from the capital owner. In contrary, the fishermen workers and ponggawa, may perform thee work and their income source always under hegemony of the capital owner. The fact was also indicated that the existence of Cooperation Departemen and fisheries Office of Poso Regency that differ with what expectesd ideally by the government regulation, wich underlined the involvement of these two departements for building the fishermen traditional life to better direction. The survey result suggested that these two departement couldn’t take cooperation for building the traditional fishermen life to better direction, but just be involved in the interest conflict as consequence from dualism of the fishermen building program that played by the two government instance, that is fisheries KUD under building cooperation Departemen and Fisheries Farmer Groups by the Fisheries Office of Poso Regency. Based on the situation and social condition wich taken place, the apparance of survival strategy in the traditional fishermen circle was carried out to engineer the structural preassures experienced. In perspective the structuralism theory, the survival strategy was a manifestation of the rational choice acts wich conducted by the traditional fishermen as the poverty community group, wich responding various situation encountered whether through a creative act such as, giving assitance mutually, taking alternative work, engmeering the household necessity, or another acts that has physical conflict characteristic with the parties wich considered has demaged their interest

Kata Kunci : Masyarakat Nelayan,Kemiskinan,Pertahanan Hidup


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.