Laporkan Masalah

BENTUK DAN PERAN MODAL SOSIAL PETANI DALAM KEBERLANJUTAN USAHATANI TEMBAKAU DI KECAMATAN BANSARI KABUPATEN TEMANGGUNG

MIRA RATNAWATI, Subejo, S.P., M.Sc., Ph.D; Ir. Harsoyo, M.Ext.Ed

2015 | Skripsi | S1 PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PERTANIAN

Tanaman tembakau dikenalkan sejak pemerintahan Hindia Belanda di berbagai daerah di Indonesia salah satunya di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Kabupaten Temanggung merupakan salah satu penghasil tembakau terbesar di Indonesia dan menghasilkan daun tembakau dengan kualitas terbaik di Indonesia yang dikenal dengan tembakau srinthil dan lamuk. Petani bekerjasama dengan berbagai pihak dalam usahatani tembakau guna memenuhi permintaan pasar dan menjaga kualitas tembakau. Adanya berbagai pihak yang terlibat dalam usahatani tembakau tidak terlepas dari modal sosial. Modal sosial antara petani dengan pihak yang terlibat dalam usahatani tembakau berperan dalam keberlanjutan usahatani tembakau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemunculan dan eksistensi modal sosial, mengetahui bentuk-bentuk modal sosial dan peran modal sosial petani dalam keberlanjutan usahatani tembakau. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, yaitu di Dusun Talun, Desa Gunungsari, Kecamatan Bansari, Kabupaten Temanggung. Penelitian dilakukan dengan observasi dan wawancara dengan pihak-pihak yang terlibat dalam usahatani tembakau seperti petani, perajin, pedagang, dan buruh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal sosial usahatani tembakau di Kecamatan Bansari, Kabupaten Temanggung sudah ada sejak turun menurun. Kemunculan modal sosial dimulai dengan kerjasama antar petani dalam hal budidaya dan penanganan pasca panen tembakau. Penyebab kemunculan modal sosial dalam usahatani tembakau adalah kondisi ekonomi dan kondisi sosial. Bentuk modal sosial petani dalam keberlanjutan usahatani tembakau adalah trust (kepercayan), network (jaringan), resiprositas dan norma. Peran modal sosial dalam keberlanjutan usahatani tembakau di Kecamatan Bansari utamanya memfasilitasi kelancaran budidaya, penanganan pasca panen, dan informasi modal.

Tobacco has been introduced since the Dutch East Indies government in various regions of Indonesia, one of them was in Temanggung district, Central Java. Temanggung district is the one of the biggest tobacco producers in Indonesia and produce among the highest quality leaf of tobacco in Indonesia known as srinthil tobacco and lamuk tobacco. On tobacco farming, farmers have been cooperating with other parties in order to meet market demand and keep the quality of tobacco. The various parties involved in tobacco farming is inseparable from the practice of social capital. Social capital between farmers and those parties involved in tobacco farming plays a role in the sustainable of tobacco farming. This research aims to determine the emergence and existence of social capital, knowing the forms of social capital and social capital roles of farmers in sustainability of farming tobacco. Methods in this research used qualitative methods using survey technique in Talun, Gunungsari village, Bansari Sub-district, Temanggung district. Research was conducted by observation and interviews with the parties involved in tobacco farming, such as farmers, crafter of tobacco, merchants, and peasant. The research results showed that social capital of tobacco farming in Bansari Sub-district, Temanggung district has emerged and inherited among generation. The emergence of social capital begins with the cooperation among farmers in cultivation and post harvest for handling tobacco. Cause of the emergence of social capital in tobacco farming is the economic conditions and social conditions. Forms of social capital of farmers in sustainability of tobacco farming are trust, network, reciprocity and norms. The role of social capital in the sustainability of tobacco farming in Bansari Sub-district primary to facilitate the cultivation, post-harvest handling, and information about capital.

Kata Kunci : bentuk dan peran, modal sosial, petani, tembakau, Temanggung