Perubahan Sistem Pewarisan dan Penguasaan Properti Waris: Studi Pada Masyarakat Matrilineal di Desa Lempur, Kerinci, Jambi
DARA KARTIKA RAHMA, Dr. Anna Marie Wattie, M.A
2015 | Tesis | S2 ILMU ANTROPOLOGITesis ini menjelaskan bagaimana perempuan kehilangan akses kontrol pada tanah warisnya sendiri. Sedangkan kondisi masyarakat dataran tinggi Jambi ini dikenal sebagai masyarakat yang mengadopsi sistem kekerabatan matrilineal, dimana perempuan memiliki posisi yang kuat dalam kepemilikan hak waris dan dapat mengambil keputusan dalam pengelolaan tanah warisnya. Persepsi ini muncul dari pendapat beberapa LSM di Jambi yang sedang menjalankan program REDD+ dan merasa memahami kondisi dan situasi di daerah Kerinci. Masyarakat Matrilineal dianggap dapat memudahkan mereka dalam melakukan sosialisasi yang berhubungan dengan pemberdayaan perempuan. Perempuan secara adat berada pada posisi tersubordinasi dari laki-laki, agama mengatur otoritas laki-laki berada di atas perempuan. Agama berdiri sebagai adat, dan begitu juga adat yang tidak bisa lepas dari agama yang mengatur segala perilaku warga desa dalam bermasyarakat. Hal ini telah membentuk pengetahuan yang berbeda antara laki-laki dan perempuan terhadap lingkungannya. Selain itu otoritas laki-laki di sektor formal, terutama dalam pemerintahan desa menjadi penyebab hilangnya akses perempuan atas tanah warisnya. Posisi tersebut membuka peluang besar bagi laki-laki dalam menerima segala informasi yang masuk ke dalam desa. Baik menerima maupun menolak program-program yang pernah masuk seperti program konservasi oleh LSM WWF yang berhubungan dengan TNKS, program konservasi oleh WARSI dan DINKESHUTBUN berkaitan dengan REDD+. Informasi tersebut telah memberikan pengetahuan pada laki-laki dan telah membuat banyak perubahan pada pola tanam di kebun masyarakat. Begitu juga sumber informasi lainnya berkaitan dengan peluang kerja. Minimnya pengetahuan perempuan, membuat akses perempuan pada tanah warisnya menjadi sangat kecil dibandingkan dengan laki-laki. Kata Kunci : REDD+, Perempuan, Gender, Akses dan Kontrol, Hak Waris
This Thesis describes how women lose control access to land her own inheritance. While the condition of upland communities in Jambi is known as society that adopts matrilineal kinship system, where women have a strong position in the ownership rights of inheritance and can take decisions in the management of his inheritance land. This perception arises from the opinion of some NGOs in Jambi who are running the REDD + program and felt understand the conditions and situation in the Kerinci. Matrilineal society is considered can facilitate their socialization related to women's empowerment. Adat describes women's position on the subordinate by men, religious authority regulate the men above women. Religion stands as Adat, and as well Adat that can not be separated from religion that regulates all the behavior of the community. It has formed the knowledge that differ between men and women on the environment. In addition, the authority of men in employment in the formal sector, especially in the village government, cause the loss of women's access to their land inheritance. That position opened up opportunities for men to receive all the information that goes into the village. Either accept or reject the programs that entering as conservation programs by NGOs WWF associated with TNKS, the conservation program by NGOs WARSI and DINKESHUTBUN related to REDD+. Those information has been providing knowledge in men and has made many changes in the cropping pattern in the community garden. Likewise, other sources of information related to job opportunities. The lack knowledge of women, making women's access to land inheritance to be smaller than a men. Keywords: REDD +, Women, Gender, Access and Control, Inheritance Rights
Kata Kunci : REDD Plus,Perempuan,Gender,Akses,Kontrol,Hak Waris