Laporkan Masalah

PERSEPSI STAKEHOLDER TERHADAP PENETAPAN KAWASAN BESAKIH-GUNUNG AGUNG SEBAGAI KAWASAN STRATEGIS PARIWISATA NASIONAL (KSPN) DI BALI

KETUT JOSHUA HENINGPRAJA S, Prof. Dr. M Baiquni, M.A.

2015 | Skripsi | S1 PEMBANGUNAN WILAYAH

Kawasan Besakih merupakan salah satu Kawasan Tempat Suci dan juga sebagai salah satu Daya Tarik Wisata (DTW) di Provinsi Bali berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Bali No. 16 Tahun 2009 mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Bali. Kemudian pada tahun 2011 Pemerintah Pusat menerbitkan Peraturan Pemerintah mengenai Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Nasional (RIPPNAS) yang menempatkan Besakih sebagai salah satu Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Penetapan tersebut menimbulkan polemik bagi masyarakat Bali, karena dikhawatirkan akan berdampak negatif bagi pengembangan kawasan suci di Besakih. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keragaman dan harapan para pemangku kepentingan atau stakeholder terhadap penetapan KSPN Besakih. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan data primer sebagai sumber data utama dan data sekunder sebagai sumber data pendukung. Data primer didapat melalui in-depth interview dengan informan yang telah ditentukan berdasarkan pertimbangan tertentu (teknik purposive). Teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis induktif dalam menentukan tema-tema yang akan diabstraksi untuk menghasilkan suatu hubungan antar konsep. Hasil penelitian ini menunjukan terdapat keragaman persepsi para stakeholder pengembangan Kawasan Besakih terkait penetapannya sebagai KSPN. Keragaman persepsi tersebut bermuara pada upaya optimalisasi pengembangan Kawasan Besakih yang dipengaruhi oleh harmonisasi pemerintah daerah, kontrol kearifan lokal dan sinergi penataan dwifungsi Kawasan besakih. Selain itu, para stakeholder memiliki harapan terciptanya implementasi tata kelola Kawasan Besakih yang sesuai dengan kearifan lokal.

Besakih Region is one of the Holy Region and also one of the Tourism Attractive (DTW) in Bali according to Peraturan Daerah Provinsi Bali No. 16 Year 2009 regarding The Spatial Plan of Bali Province. In 2011, Central Government established The Master Plan of National Tourism Development (RIPPNAS) and Besakih as one of the National Tourism Strategic Area (KSPN). Determination status of Besakih raise a polemic in Bali, because it feared would give a negative impact to the sacred area of Besakih. This research aims to asses the diversity and expectation of stakeholders about determination of Besakih as a National Tourism Strategic Area (KSPN). This qualitative research is using primary data as main source data and secondary data as supporting source data. The primary data obtained through in-depth interview with predetermined informant based on the specific consideration (purposive sampling). This research is using inductive analysis techniques to determine the themes that will be arranged to generate a correlation between the concepts. The result of this research indicated that there is a diversity of stakeholder perception about establishment of Besakih Area as National Strategic Tourism Area (KSPN). The diversity of perception leads to optimize the effort of development in Besakih Area and that affected by the harmonization of local government, local knowledge control, and the sinergy about dual function of Besakih Area. Moreover, stakeholder expected that the implementation of space management in Besakih Area to be suitable with local wisdom.

Kata Kunci : Besakih Area, KSPN, RIPPNAS, Stakeholder, Tourism Attractive (DTW)

  1. S1-2015-284354-abstract.pdf  
  2. S1-2015-284354-bibliography.pdf  
  3. S1-2015-284354-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2015-284354-title.pdf