Laporkan Masalah

BERSENANDUNG DALAM POLITIK: EKSISTENSI MUSIK DAN MUSISI PADA KAMPANYE PEMILIHAN UMUM MASA ORDE BARU (1971-1997)

YOPI KRISTANTO, Julianto Ibrahim S.S., M.Hum.

2015 | Skripsi | S1 ILMU SEJARAH

Kebijakan Orde Baru lebih membebaskan berkembangnya musik populer yang diadopsi dari Barat, dibandingkan pada saat pemerintahan Soekarno. Hal tersebut dimulai dari keberadaan musik populer yang dimanfaatkan oleh ABRI untuk berintegrasi dengan rakyat pasca peristiwa G30S, dengan tujuan mendapatkan informasi dan bantuan dalam membubarkan PKI. Situasi ini menyebabkan timbulnya harapan baru bagi musisi dan penyanyi yang pernah mendapatkan larangan bermusik dimasa pemerintahan Soekarno. Sejak pemilu 1971, musisi dan penyanyi populer memutuskan untuk bergabung di dalam Artis Safari pendukung Golkar yang menjadi partai penyokong pemerintah Orde Baru. Keberadaan hiburan musik kampanye Golkar yang dirasa sukses untuk mengundang massa simpatisan ditahun 1971, menyebabkan partai peserta pemilu lainnya untuk melakukan upaya tandingan. Pada kampanye pemilu kedua Orde Baru tersebut, musisi dan penyanyi mulai berkreasi mengubah lirik lagu yang berisi dukungan terhadap partai yang dibelanya. Tulisan ini membahas keberadaan dan persaingan musik hiburan di dalam kampanye pemilu Orde Baru dari tahun 1971-1997, dengan menggunakan metode sejarah (pemilihan topik, pengumpulan sumber, verifikasi, interpretasi dan penulisan).

New Order policy set the freedom on popular music more liberal with Western-dominated trends than Soekarno's era. It is started with the power of ABRI (Indonesian Republic Armed Forces) to use popular music in order to reach and integrate public attention after G30S (September 30th Movement). This condition helped the PKI (Communist Party) to fall down. By any chances, it led to the emergence of new hope for musician and singers who were politically banned in Soekarno's era. Since the General Election in 1971, the famous musician joined into group of Artis Safari in which the Golkar leading supporters were mainly concentrated to uphold their authority. In the sense of Western music, Golkar succeed to go beyond more partisans in 1971, bringing about the other party competitors to counter and attack. In the second New Order General Election, musician created to change song lyrics in line with the party they looked after. This research refers to the existence and competition on music in New Order General Election from 1971-1997. The historical approach is applied with relevant methods (topic selection, collection sources, verification, interpretation and the process of writing).

Kata Kunci : musik, kampanye, pemilu dan Orde Baru.