STUDI ETNOGRAFIS PERAN PEREMPUAN DALAM ORGANISASI PENGURANGAN RISIKO BENCANA (OPRB) Studi Kasus di Desa Pangandaran, Kecamatan Pangandaran Kabupaten Pangandaran, Provinsi Jawa Barat
ANINDA PRATIWI, Dr. Setiadi, M.Si.
2015 | Skripsi | S1 ANTROPOLOGI BUDAYAPada tahun 2008, Java Recovery Fund (JRF) masuk ke wilayah Pangandaran. Tahun tersebut tepat dua tahun pasca kejadian gempa bumi dan tsunami. JRF membentuk Organisasi Pengurangan Risiko Bencana (OPRB) di Desa Pangandaran. OPRB dirancang untuk digerakkan oleh masyarakat setempat. Mereka berperan sebagai penyusun, pelaksana dan pengawas program pengurangan risiko bencana tingkat desa. Respon masyarakat terhadap OPRB secara baik, tidak ada penolakan terhadap organisasi tersebut, termasuk perempuan. Secara khusus, sebagian warga turut berpartisipasi dengan menjadi relawan kebencanaan. Penelitian ini secara khusus ingin melihat lebih jauh bagaimana peran perempuan dalam OPRB. Dengan mengkaji tema ini akan diketahui peran perempuan dalam organisasi, bagaimana mereka menjadi ujung tombak penghimpun relawan OPRB. Lokasi penelitian di Desa Pangandaran, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Provinsi Jawa Barat. Lama pengumpulan data selama dua bulan, dan penulis tinggal bersama salah satu informan. Informan tulisan ini adalah lima perempuan yang berperan dalam penyelenggaraan OPRB. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan wawancara mendalam dan observasi partisipasi. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan antara lain adanya gradasi peran perempuan dalam OPRB. Pertama, mereka yang memiliki peran dominan adalah perempuan yang berdaya secara ekonomi dan berkapabilitas secara individu. Keberhasilan ini mendorong untuk bisa berpartisipasi di organisasi luar keluarga. Mereka hadir dan ikut membuat keputusan penting. Kedua, perempuan dengan peran aktif adalah mereka yang memiliki posisi strategis dalam masyarakat, menjalankan program OPRB yang relatif banyak, keputusan yang dibuatnya hanya bentuk improvisasi program, bukan organisasi. Ketiga, perempuan dengan peran pasif, kehadirannya tidak berpengaruh besar pada suatu program. Waktunya banyak tersita di luar atau di luar rumah sebagai penggerak ekonomi keluarga. Relawan adalah baris paling depan dalam setiap kegiatan OPRB. Perempuan Pangandaran yang mapan dalam kedudukannya di masyarakat, mudah bersosialisasi dan sudah memiliki kesadaran berorganisasi membuat upaya agensi mengumpulkan relawan lebih efektif ketika dijalankan oleh mereka. Efektifitas perempuan tersebut menempatkan mereka pada posisi "supporting system" dalam keberhasilan OPRB.
In 2008 , the Java Recovery Fund (JRF) has come to Pangandaran. The second year after the earthquake and tsunami. JRF was forming Disaster Risk Reduction Organization (OPRB) in Pangandaran Village. OPRB designed to be driven by the local community. They act as a constituent, implementing and disaster risk reduction program supervisor at the village level. Public response to OPRB very well, there are no rejection of the organization, including women. In particular, some people participate as volunteer. This study specifically want to look deeper how the women's role in OPRB. By reviewing this theme will be known the women's role in the organization, how they are spearheading a volunteer collector in OPRB. The research took location in Pangandaran Village, District Pangandaran, Pangandaran Regency, West Java Province Data collection was carried out for two months, and the author lives with one of the informants. Informants for this paper are five women who play a role in the OPRB. This Research use qualiative method with the in-depth interviews and participant observation. This study led to the conclusion that there are gradation of women role on OPRB. First, those who have a dominant role in OPRB tends to economically empowered and capable. Their achievement in live push them to participate in other organization beside family. Second, women with active role are those who have a strategic position in society, and participating in most of OPRB programs, and the choice they made mostly in improvising the program, not organization. Third, women with passive participation, their attendance don't affect much to the program. They spend most of their time outside or out of their house as family economical motor. Relawan adalah baris paling depan dalam setiap kegiatan OPRB. Perempuan Pangandaran yang mapan dalam kedudukannya di masyarakat, mudah bersosialisasi dan sudah memiliki kesadaran berorganisasi membuat upaya agensi mengumpulkan relawan lebih efektif ketika dijalankan oleh mereka. Efektifitas perempuan tersebut menempatkan mereka pada posisi "supporting system" dalam keberhasilan OPRB. Volunteers are the front line in any activity OPRB. Women Pangandaran established in his position in society, it is Volunteers are the front line in every single OPRB's activity. Pangandaran women who established in her position in society, easy to socialize and already have organizational awareness made an agency effort to collect more volunteer are more effective when executed by them. Effectiveness of these women puts them in the position of "supporting system" in OPRB's achievement.
Kata Kunci : Peran, perempuan, organisasi kebencanaan.