Laporkan Masalah

AUDIT KEMATIAN PENYAKIT JANTUNG KORONER DI RUMAH SAKIT SWASTA MADIUN

BUDIARTO, dr.Tjahjono Kuntjoro .MPH.DrPh; dr.Hanevi Djasri.MARS

2015 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar belakang: Angka kematian penyakit jantung menempati nomer satu, sekitar 3,8 juta untuk pria dan 3,4 juta untuk wanita yang meninggal karena penyakit jantung setiap tahunnya dan tertinggi pada usia 60 tahun keatas.Kematian pada penyakit jantung dapat terjadi dengan pelayanan rumah sakit yang kurang optimal,maka dalam mengevaluasi mutu suatu pelayanan rumah sakit dapat dilakukan suatu audit klinis atau audit kematian.Keadaan ini dapat terjadi dengan rumah sakit Swasta Madiun dimana angka kematian penyakit jantung koroner menempati sepuluh besar penyebab kematian bahkan menempatkan angka tertinggi pada tahun 2012 dan tahun 2013 sebagai penyebab kematian di rumah sakit Swasta Madiun Tujuan: Tujuan umum penelitian ini adalah untuk menilai penanganan penyakit jantung koroner di rumah sakit Swasta Madiun,sedangkan tujuan khususnya adalah menyusun kriteria dan standart audit, mengukur penerapan standart audit dan mengidentifikasi penyebab kematian pada penatalaksanaan penyakit jantung koroner. Metode: Penelitian ini mengobservasi penanganan penyakit jantung koroner dengan metode audit secara retrospektif, sedangkan analisa data dengan menggunakan distribusi frekuensi.. Hasil dan pembahasan: Audit kematian pada penangganan penyakit jantung koroner di rumah sakit Swasta Madiun adalah tidak dilakukan sesuai kriteria audit (98%).Penyimpangan tersebut adalah dalam penegakkan diagnosa,untuk pemeriksaan troponin (100%) dan memonitor EKG (63%), pemberian terapi antipletelet (57%),antitrombosis (89%), antiischemic (26%), antiangina (66%),serta reperfusi koroner (60%),dan dalam penanganan komplikasi pemberian terapi antiaritmia (29%),defebrilasi (100%),sedangkan dalam kriteria hemodinamik (64%),untuk kriteria dalam melakukan edukasi (100%). Hal tersebut terjadi karena pengetahuan dan kemampuan dokter jaga belum optimal, tidak adanya evaluasi dan monitoring pengunaan alat defebrilasi, kondisi pasien selama dalam perawatan, dan tidak adanya standar pelayanan medis dan standar pelaksanaan tentang penyakit jantung koroner Kesimpulan : Audit kematian yang dilakukan secara sistematis dapat menilai kesesuaian suatu standart dan evidence based terhadap suatu proses pelayanan di rumah sakit dan diharapkan memperbaiki mutu pelayanan dirumah sakit serta mewujudkan clinical governance.

Background: The mortality rate for heart disease occupies the number one, is about 3,8 million male and 3,4 million female who die of heart disease each year and the highest at the age of 60 years or older. The mortality on heart disease can occur with hospital services less than optimal, then in evaluating the quality of a hospital service can be a clinical audit or mortality audits. This situation can occur with private hospital in Madiun, where coronary heart disease mortality occupy the top ten causes of death even put the highest rate in 2012 and in 2013 as the cause mortality in private hospitals Madiun. Objective: The general objective of this study were to assess the treatment of coronary heart disease in private hospitals Madiun, while the specific objectives are developed the criteria and auditing standards, measure the application of auditing standards and identify the cause of death in the management of coronary heart disease. Method:This study observed the treatment of coronary heart disease with retrospective audit method, while the analysis of the data by using a frequency distribution. Results and discussion: Mortality audit on the handling of coronary heart disease in private hospitals Madiun is not done according to criteria of the audit (98%). The deviation is in the enforcement of diagnosis, for troponin examination (100%) and ECG monitoring (63%), antiplatelet therapy (57%), antithrombotic (89%), Anti-ischemic (26%), antianginal (66%), coronary reperfusion (60%), and in the treatment of complications of antiarrhythmic therapy (29%), defebrilasi (100%), whereas the hemodynamic criteria (64%), for the criteria in education (100%). This happens because knowledge and the ability of physicians is not optimal, the lack of evaluation and monitoring of tool defebrilasi, condition of the patient during in treatment, and lack of medical care standards and standards implementation of coronary heart disease. Conclusions: Audit mortality systematised can assess the suitability of a standard and evidance based on a process of care in hospitals and are expected to improve the quality of care in the hospital and to realize the clinical governance.

Kata Kunci : Audit Kematian, Audit Klinik, Penyakit Jantung Koroner, Clinical Governance


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.