RELASI KUASA DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN DENGAN KEPUTUSAN PENGGUNAAN KONTRASEPSI DALAM RAHIM DI KECAMATAN PEJAGOAN KABUPATEN KEBUMEN
UMI LAELATUL QOMAR, Prof. dr. Mohammad Hakimi, SpOG(K), PhD; Dr. Dra. Budi Wahyuni, MM, MA.
2015 | Tesis | S2 Kesehatan Masyarakat/KIALatar Belakang: Pengambilan keputusan dalam keluarga tergantung dari dominasi atau keseimbangan kekuasaan di dalam keluarga tersebut. Banyak negara berkembang menganggap kedudukan perempuan lebih rendah. Hal ini membuat efek banyak wanita menyerahkan seluruh keputusan mengenai kesehatan reproduksinya pada pasangannya. Penggunaan IUD di Kabupaten Kebumen masih rendah hanya 8%. Tujuan: tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui relasi kuasa dalam pengambilan keputusan dengan keputusan penggunaan kontrasepsi dalam rahim dari perspektif istri. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional dengan rancangan cross sectional dengan pendekatan mix methode. Populasi penelitian adalah seluruh pasangan usia subur di wilayah Kecamatan Pejagoan yang menggunakan kontrasepsi modern yang berjumlah 8001. Subjek penelitian sebanyak 158. Teknik pengambilan sampel penelitian kuantitatif menggunakan proportionate random sampling, sedangkan penelitian kualitatif menggunakan purposive sampling yang dilakukan pada 7 responden yang merupakanakseptor baru. Analisis data melalui tiga tahapan, yaitu analisis univariabel, bivariabel menggunakan analisis chi-square dan multivariabel menggunakan analisis logistic regression. Hasil: Analisa bivariat menunjukkan hubungan antara variabel relasi kuasa dalam pengambilan keputusan dengan penggunaan AKDR (p<0,05). Analisa multivariable menunjukkan hubungan yang bermakna antara variabel jumlah anak hidup dan pelayanan kontrasepsi dalam penggunaan kontrasepsi dalam rahim. Jumlah anak hidup berpeluang 5,98 kali lebih besar dengan nilai RP: 5,98; 95% CI= 2,22-16,11. Sedangkan variabel pelayanan kontrasepsi yang cukup baik memiliki peluang 3,45 kali lebih besar dengan nilai RP=3,45; 95% CI= 1,35-8,78. Dari nilai R2 menunjukan bahwa penelitian ini memprediksi penggunaan AKDR sebanyak 16% sedangkan sisanya (84%) dipengaruhi faktor lain. 73% inisiatif penggunaan KB oleh istri. Hasil indeep interview menunjukkan ketimpangan gender masih terjadi dalam pengambilan keputusan. Istri masih mementingkan keinginan suami. Pelayanan kesehatan juga belum terlalu meningkatkan peran serta pria. Hal tersebut terlihat dalam proses konseling yang hanya dilakukan pada istri. Responden tidak menggunakan IUD karena mempertimbangkan faktot social cultural, anggapan masyarakat dan kenyamanan. Istri lebih banyak mengalah untuk tidak menggunakan metode kontrasepsi yang tidak disetujui suami. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara relasi kuasa dalam pengambilan keputusan, jumlah anak dan pelayanan kontrasepsi terhadap penggunaan kontrasepsi AKDR dan permasalahan gender masih sangat terlihat pada pemilihan penggunaan AKDR.
Background: Decision-making in the family depends on the domination or the balance of power in the family. Many developing countries consider the position of women is lower. This causes a lot of women to give all decisions about their reproductive health to their partner. IUD use in Kebumen is still low at only 8%. Objective : to determine the corelation of power in decision-making with the use of an intrauterine from the wife's perspective. Methods: This study is an observational study with cross sectional design with mixed method approach. The study population was all couples of childbearing age in the Pejagoan District who use modern contraception, totaling 8001. The research subjects are 158 persons. The sampling technique of quantitative research is proportionate random sampling, while the sampling method for qualitative research is purposive sampling for 7 respondents of new acceptors. Analysis of data through three stages, namely univariable, bivariate using chi-square and multivariable logistic regression analyses. Results: Bivariate analysis shows correlation between power relations with the decision to use IUD (p <0.05). Multivariable analysis shows a significant correlation between the number of living children with the use of IUD contraception. The number of children living at 5.98 times greater chance to score RP: 5.98; 95% CI = 2.22 to 16.11. While variable contraceptive services are good enough to have a 3.45 times greater odds with the value of RP = 3.45; 95% CI = 1.35 to 8.78. Of the value of R2 indicates that this study predicts IUD use as much as 16% while the rest (84%) are influenced by other factors. 73% use of family planning are initiated by the wife. Results in-depth interviews indicate that gender inequality still occur in decision making. Wife still concerned husband desires. Health services are also not overly increase the participation of men. This is proven by the counseling process that is only done on the wife. Respondents do not use an IUD because of social factors to consider cultural, public perception and comfort. Wife more succumb to not using a contraceptive method that is not approved husband. Conclusion: There are correlations among the relation of power in decisionmaking, the number of children and contraceptive services to use IUD contraception. Gender issues are still very visible in the selection of IUD use.
Kata Kunci : Relasi kuasa, Pengambilan keputusan, kontrasepsi, AKDR