JARAK KELAHIRAN IDEAL BERPENGARUH POSITIF TERHADAP KEMATIAN BALITA DI INDONESIA ANALISIS DATA SURVEI DEMOGRAFI DAN KESEHATAN INDONESIA TAHUN 2012
JAMALI SAADIAH, Prof. dr. Siswanto Agus Wilopo, SU, M.Sc, Sc.D; Prof. dr. Mohammad Hakimi, Sp.OG(K), Ph.D.
2015 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang: Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) Tahun 2012 menunjukkan bahwa kematian balita di Indonesia tahun 2012 mengalami penurunan yang cenderung lambat dari 44 kematian per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 menjadi 40 kematian per 1.000 kelahiran pada tahun 2012. Padahal jarak kelahiran mengalami peningkatan dari 54,6 bulan pada 2007 menjadi 60,2 bulan pada tahun 2012. Tujuan Penelitian: Mengetahui penyebab masih tingginya angka kematian balita di Indonesia berdasarkan data SDKI tahun 2012. Metode Penelitian: Menggunakan metode rancangan cross sectional jenis observasional analitik yang dianalisis secara retrospective cohort. Data diperoleh dari hasil SDKI 2012. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kematian balita, variabel bebasnya adalah jarak kelahiran, sedangkan variabel lain yang dipertimbangkan adalah status tempat tinggal, umur ibu, paritas, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, sumber air bersih, sanitasi, status ekonomi, riwayat penggunaan kontrasepsi modern, penolong persalinan dan tempat persalinan. Pengujian data dilakukan dengan menggunakan Kaplan meier curve, Log-rank test dan Cox proportional hazard model, confidence interval (CI) 95% dan tingkat kemaknaan p<0,05. Hasil : Kurva kaplan-meier menunjukkan responden yang memiliki jarak kelahiran 36-59 bulan memiliki probabilitas kelangsungan hidup paling baik (98,4%). Analisis cox regresion menunjukkan jarak kelahiran 1-23 bulan lebih berisiko untuk mengalami kematian balita dibandingkan dengan jarak kelahiran 36-59 bulan (HR: 2,2 95% CI: 1,32-3,68). Kesimpulan: Jarak kelahiran kelahiran 1-23 bulan memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kematian balita dibandingkan dengan jarak kelahiran 36-59 bulan. Faktor lain yang berpengaruh adalah pekerjaan ibu. Ibu yang bekerja di luar rumah memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kematian balita dibandingkan dengan ibu yang tidak bekerja.
Background: The results of Indonesia Demographic and Health Survey (IDHS) 2012 shows that under five mortality in Indonesia in 2012 is likely to slow decreased from 44 deaths per 1,000 live births in 2007 to 40 deaths per 1,000 births in 2012. Though birth spacing increased from 54.6 months in 2007 to 60.2 months in 2012. Objective: To identify the cause of the high under five mortality rate in Indonesia is based on data from IDHS 2012. Methods: Using a cross-sectional design method type of observational analytic in a retrospective cohort analysis. The data obtained from the IDHS 2012. The dependent variable in this study is under five mortality, the independent variables are birth interval, other variables are status of residence, maternal age at birth, parity, maternal education, maternal occupation, source of water, sanitation, economic status, ever used of modern contraception, delivery attendants and place of delivery. The data were analyzed using kaplan meier curve, log-rank test and cox proportional hazards models with 95% confidence interval and significance level p< 0.05. Results: Kaplan-Meier curves showed respondents with spacing of 36-59 months had a survival probability of the good (98,4%). Cox analysis showed spacing regresion 1-23 months had a greater risk of mortality compared with the spacing of 36-59 months (HR: 2,2 95% CI: 1,32-3,68) Conclusion: Birth interval 1-23 months have a higher risk of under five mortality compared with the birth interval 36-59 months. Other factors are maternal occupation. Mothers who work outside the home have a higher risk for under five mortality than mothers who are not working.
Kata Kunci : jarak kelahiran, kematian balita, retrospective cohort