PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI FORMAL SEBAGAI PENCEGAHAN PERILAKU HUBUNGAN SEKSUAL PRANIKAH REMAJA DAN DEWASA MUDA DI INDONESIA (ANALISIS DATA SDKI 2012)
ANGGRIYANI WAHYU P, Prof. dr. Siswanto Agus Wilopo, SU, M.Sc, Sc.D.; Prof. dr. Djauhar Ismail, Sp.A(K), MPH, Ph.D.
2015 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar belakang: Dua fenomena pokok pada transisi demografi kedua yang akan terjadi di Indonesia adalah menurunnya angka fertilitas dan perubahan perilaku seksual dan reproduksi. Berbagai tantangan permasalahan seksual dan reproduksi diera ini yaitu meningkatnya hubungan seksual pranikah, kehamilan tidak diinginkan (KTD), Infeksi Menular Seksual (IMS) serta penggunaan obat terlarang. Masalah ini akan sangat mempengaruhi kesehatan populasi dimasa yang akan datang apabila terjadi pada populasi usia muda yang merupakan 27,6% komposisi penduduk Indonesia. Pendidikan kesehatan reproduksi menyeluruh yang meliputi pengenalan sistem reproduksi, perkembangan remaja yang positif dan pengendalian kehamilan menjadi strategi penting untuk mencegah keluaran buruk tersebut. Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian informasi kesehatan reproduksi pada jenjang pendidikan formal terhadap penundaan munculnya perilaku hubungan seksual pranikah remaja dan dewasa muda di Indonesia. Metode penelitian: Studi cross sectional yang dianalisis secara kohort retrospektif menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 (laki-laki 10.890, perempuan 8.902). Pengaruh pemberian informasi kesehatan reproduksi pada jenjang pendidikan formal terhadap penundaan munculnya perilaku hubungan seksual pranikah dianalisis dengan kaplan meier curve dan log-rank test. General linear model digunakan dalam analisis multilevel. Meseluruhan tes menggunakan confidence interval (CI) 95% dan tingkat kemaknaan p 0,05. Hasil: Analisis kelangsungan berpantang melakukan hubungan seksual pranikah menunjukkan bahwa remaja dan dewasa muda yang tidak menerima pendidikan kesehatan reproduksi formal atau hanya menerima informasi metode kontrasepsi, secara signifikan memiliki hazard ratio (HR) yang lebih besar dibandingkan dengan informasi komprehensif (berturut-turut 1,55 dan 2,26 ; 95% CI; p value 0,05). Menerima informasi kesehatan reproduksi yang komprehensif (sistem reproduksi dan metode kontrasepsi) memberikan peluang waktu berpantang melakukan hubungan seksual pranikah yang paling lama. Variasi komunitas memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peluang terjadinya hubungan seksual pranikah.
Background: Second demographic transition will accur in Indonesia and characterized by the occurrence of sexual and reproductive revolution. Increasing premarital sexual relationship, unwanted pregnancy, Sexual Transmitted Infection (STI) and drug abuse are potential problems in this era. These issue will affect the population health in the future if it occurs in the young population which is 27.6% of the Indonesian population composition. Comprehensive reproductive health education that includes the introduction of reproductive system, positive youth development and birth control became an important strategy to prevent negative outcome. Purpose: Examined the effect of reproductive health information on delaying premarital sexual behavior among Indonesian teenagers and young adults. Method: Cross-sectional study that analyzed as a retrospective cohort using secondary data from Indonesia Demographic and Health Survey (IDHS) in 2012 (10,890 males and 8,902 females). Kaplan meier curve and log-rank test were used to examine the effect of reproductive health information on delaying premarital sexual behavior among Indonesian teenagers and young adults. General linear model was used on multilevel analysis. All test used 95% confidence interval and significance level of p 0.05. Result: Survival analysis of abstinence showed that adolescents and young adults who didn’t receive formal reproductive health education or only received information about contraceptive methods, significantly had greater hazard ratio compared with comprehensive information (respectively 1.55 and 2.26 ; 95 % CI ; p-value 0.05). Receiving comprehensive reproductive health information (reproductive system and method of contraception) had longer delaying time of premarital sexual behavior. Community variation had significant influence on the probability of premarital sexual behaviour.
Kata Kunci : pendidikan seksual, remaja, perilaku seksual, hubungan seksual pranikah, analisis multilevel